Selasa, 28 April 2026

20.000 BERBANDING 1

 "𝙼𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊𝚒 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚝𝚒𝚏 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚓𝚞 𝚔𝚎𝚜𝚞𝚔𝚜𝚎𝚜𝚊𝚗."

(Charles F.Glassman)

 

Ajahn Brahm, seorang, seorang biksu kelahiran Inggris, usai memberikan ceramah mendapat pertanyaan dari seorang nyonya 


"Saya baru tahu pagi ini bahwa suami saya berdusta kepada saya. Apakah saya harus bercerai? Saya tak bisa percaya padanya lagi.", katanya.

Saat ditanya apa pekerjaan ibu itu, ia bekerja di universitas. "Saya dosen matematika," katanya. "Sudah berapa lama Anda menikah?" tanya Brahm

"Tiga tahun," jawabnya.


Karena sang biksu lulusan Cambridge dan pernah belajar matematika, ia lalu berkata "Baiklah. Mari kita sama-sama menghitung probabilitasnya. Tiga tahun itu kurang lebih 1.000 hari. Logikanya jika selama tiga tahun menikah, suami Anda mengatakan rata-rata 20 hal kepada Anda setiap hari yang bisa saja benar atau salah. Jadi, sejak Anda menikah, ia sudah mengucapkan 20.000 pernyataan, dan kini ia berdusta untuk pertama kalinya. Menurut teori peluang, itu berarti bahwa kali berikutnya ia membuka mulutnya, ada kemungkinan 20.000 banding 1 bahwa ia berkata jujur."


Lanjut sang biksu, "Jadi apa maksud Anda dia tak bisa dipercaya? Peluang 20.000 banding 1 itu cukup bagus, bukan?"

"Apakah dengan satu dusta saja kita sudah tak bisa percaya kepada orang lain? Apakah satu dusta membuat mereka menjadi penipu?" Kata Brahm akhirnya.


Bias negatif atau Negativity bias mengacu pada kecenderungan seseorang untuk memperhatikan, mempelajari, dan menggunakan informasi negatif jauh lebih banyak daripada informasi positif. Akibatnya kesan pertama yang buruk bisa sangat sulit untuk dilupakan sehingga trauma masa lalu dapat memiliki efek jangka panjang bagi seseorang.


Meskipun bias negatif adalah bagian alami dari cara otak kita bekerja, tapi bias negatif yang dikelola dengan baik, dapat membantu kita untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik.

Usahakan untuk selalu memberikan keseimbangan dalam cara kita melihat dunia. Dengan pendekatan yang lebih positif, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, penuh rasa syukur, dan lebih memuaskan.[]


"𝑪𝒂𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒔𝒊 𝒑𝒊𝒌𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒏𝒆𝒈𝒂𝒕𝒊𝒇 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒊𝒌𝒊𝒓 𝒑𝒐𝒔𝒊𝒕𝒊𝒇"

(PS Jagadesh Kumar)




Sumber: 

1.Buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya  3"

2.https://focusonthefamily.id/mengungkap-negativity-bias-kenapa-pikiran-kita-lebih-fokus-pada-hal-negatif/

THANK- U- GRAM

 "𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘰𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 "𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩", 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱."

(Meister Eckhart)


Kepada ketiga anaknya,

Edward Kramer dari St. Louis, Missouri, mengajarkan sebuah prinsip yang sederhana tetapi bernilai tinggi.  Prinsip itu mengajarkan agar ketiga anaknya setiap hari mencari kebaikan dari tiga orang yang mereka kenal dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Orang tersebut mungkin adalah guru, tukang pos, polisi, siapa saja yang membuat mereka merasa bersyukur dan terbantu akan kehadiran mereka. Kemudian, ia mendorong agar anaknya menulis ucapan terima kasih yang sederhana untuk mengekspresikan rasa terima kasih mereka kepada orang-orang tersebut. Awalnya cukup susah untuk mendisiplinkan anak-anaknya melakukan hal itu, tapi seiring waktu yang berjalan mereka menjadi terbiasa dan mereka sangat kaget karena surat balasan yang diterima begitu hangat dan menyenangkan.

Dengan prinsip ini, Kramer kemudian mematenkan "Thank-U-Gram", sebuah kartu ucapan terima kasih berwarna kuning semacam telegram. Setelah ide ini diterima, dalam waktu 15 tahun, Kramer mampu memasok jutaan kartu tersebut. Orang-orang terkenal yang menggunakan ide ini antara lain Presiden Amerika Serikat Eisenhower, Bob Hope, Walt Disney, Henry Ford II. 

Dari sebuah ide sederhana tentang niat sang ayah untuk mengajarkan pentingnya mengucapkan terima kasih dan mencari kebaikan dari setiap orang yang melintas dalam hidup terbukti berhasil, karena Kramer sangat mengetahui apa yang paling dibutuhkan manusia, yaitu apresiasi.[]


"𝐀𝐩𝐫𝐞𝐬𝐢𝐚𝐬𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐈𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚."

(Voltaire)


Dari buku 

"CHAMP!ON" 101 Tip Motivasi & Inspirasi SUKSES Menjadi Juara Sejati



WISUDA DENGAN JAS PINJAMAN

 "𝚃𝚎𝚛𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚝𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚙𝚎𝚗𝚍𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚊𝚗, 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚔𝚎𝚝𝚊𝚔𝚞𝚝𝚊𝚗."

(Francis Bacon)


Pukul 8 malam masih ada sebuah mangkok plastik berwarna merah di anak tangga warung Bu Sastro. Mangkok titipan lauk yang lain sudah diambil pemiliknya untuk makan malam di warung kecil jalan Pelesiran tersebut.

"Itu punya Josmar..." Kata Bu Sastro "Dia selalu datang meski malam sudah larut" Tegur Bu Sastro, saat ada pembeli akan mengambil mangkok titipan itu.


Saat datang dengan tubuh lelah dan perut kosong malam harinya, Josmar memasuki warung dengan tubuh yang limbung, Bu Sastro pun berseru khawatir "Eeee, hati-hati Josmar"

Kalau sudah demikian, maka biasanya Ibu akan buru-buru mengeluarkan nasi hangat dan disajikan langsung dengan dada ayam pedas yang sudah disimpankannya buat Josmar.

"Ayo makan segera! Kamu kecapekan belajarnya. Jangan lupa makan!" Ibu selalu berpesan demikian. Bu Sastro memang selalu menyisihkan 1 potong dada ayam pedas untuknya.

 

Josmar Parhusip, mahasiswa angkatan '82 asal Medan yang berambut keriting, bertubuh pendek bulat, dan berkulit hitam ini tidak jarang terlihat pucat dan gelisah. Dia akan menyantap makanannya sambil duduk termangu. Ibu Sastro tahu itu pertanda bahwa Josmar sedang berada dalam puncak kelelahannya.

"Mau dibuatkan teh panas manis supaya badannya enakan?" Bu Sastro akan menawarkan begitu kepadanya. Beliau sudah begitu mengenalnya, sehingga tahu bahwa "wajah pucat kelelahan" ini hanya terjadi ketika Josmar belajar tiada henti. Dia terus belajar sehingga memaksakan tubuhnya bekerja terlalu keras melebihi kapasitasnya.


Sambil makan, dia bercerita dengan bangga tentang ibunya 

yang berprofesi sebagai bidan yang bekerja keras di Medan. Ibu Josmar itu bekerja keras membanting tulang begitu agar Josmar bisa terus bersekolah setinggi-tingginya.


Memiliki anak yang diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, tentunya menimbulkan rasa bangga bagi sang Ibu.

Untuk itu, kedua ibu dan anak itu harus terus berusaha menyelesaikan perjuangan yang berat.

Tinggal di kontrakan yang agak kumuh dan sangat sederhana di pinggir kali Cikapayang pun tak menjadi soal bagi Josmar.

"Saya cuma perlu tempat buat tidur saja kok, Bu. Belajar pun bisa saya lakukan di kampus" jawabnya saat ditanya.


1986

Pagi itu Josmar berangkat untuk menghadapi ujian sidang sarjana. Bu Sastro melepasnya dengan doa-doa seperti melepas anaknya sendiri pergi berjuang. Perut Bu Sastro sepanjang setengah hari itu agak mulas dan terasa lemas tidak karuan, menanti bagaimana kabar dari mahasiswa jurusan Elektro ITB itu.


Ketika Josmar tampak memasuki warungnya, dia tetap berjalan dengan tubuh yang agak oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Hanya saja kali ini wajahnya penuh raut kegembiraan, bukan pucat kelelahan. Bu Sastro segera tahu bahwa seorang lagi Insinyur Elektro telah dilahirkan di negeri Indonesia ini.


Pada hari yang lain, Josmar berangkat pagi menuju acara wisuda sarjana ITB. Keberangkatannya itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan bangga. Bukan hanya karena anak itu berhasil jadi sarjana karena asupan gizi yang cukup dari masakannya, tetapi juga karena jas hitam yang dikenakan Josmar pagi itu merupakan jas hitam satu-satunya milik almarhum Pak Sastro yang dipinjamkannya dengan sukarela.


"Bu..." sapa Josmar ragu. "Minggu depan saya harus wisuda. Saya nggak punya uang buat khusus jahit jas hitam. Apa Ibu punya jas hitam resmi yang bisa saya pinjam dulu, Bu?" Josmar bertanya agak malu kepada Bu Sastro suatu malam, seminggu sebelumnya.

Dengan hati-hati sekali Ibu mengeluarkan satu-satunya jas hitam resmi yang pernah Pak Sastro miliki. Jasnya masih terbungkus plastik rapat sehingga tak ada debu menempel. Tinggal dijemur sebentar saja untuk menghilangkan sedikit bau apeknya.


Akhirnya tibalah hari Josmar akan meninggalkan Bandung untuk selamanya. Dia akan kembali dulu ke Medan untuk men-jumpai ibunya dan memperoleh doa restu. Setelah itu barulah dia akan segera terbang ke Australia untuk bersekolah dan langsung bekerja. Kepergiannya hari itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan mata berkaca-kaca.


"Sukses ya, Nak Josmar. Ibu saja bangga pada kamu, apalagi Ibumu di Medan," demikian kata perpisahan Bu Sastro ketika melepas anak itu pergi.[]


"𝑴𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖𝒊 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏, 𝒔𝒆𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉. 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒆𝒎𝒂𝒉𝒂𝒏, 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔𝒂𝒏, 𝒏𝒂𝒎𝒖𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒉 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒇𝒐𝒌𝒖𝒔 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂, 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒏 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒏𝒂𝒎𝒊𝒔"

(Parlindungan Marpaung)


Sumber

1. Buku"Warung Bu Sastro" Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati

2.https://id.linkedin.com/in/josmar-parhusip-41741a30a


Keterangan foto: Ir.Josmar Parhusip, M.B.A, Vice President Operations PT Sumber Migas Nusantara



20.000 BERBANDING 1

 "𝙼𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊𝚒 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚝𝚒𝚏 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚓𝚞 𝚔𝚎𝚜𝚞𝚔𝚜𝚎𝚜...