Selasa, 28 April 2026

20.000 BERBANDING 1

 "๐™ผ๐šŽ๐š–๐š™๐šŽ๐š›๐šŒ๐šŠ๐šข๐šŠ๐š’ ๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š— ๐š—๐šŽ๐š๐šŠ๐š๐š’๐š ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š•๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŽ๐šœ๐šŠ๐š› ๐š–๐šŽ๐š—๐šž๐š“๐šž ๐š”๐šŽ๐šœ๐šž๐š”๐šœ๐šŽ๐šœ๐šŠ๐š—."

(Charles F.Glassman)

 

Ajahn Brahm, seorang, seorang biksu kelahiran Inggris, usai memberikan ceramah mendapat pertanyaan dari seorang nyonya 


"Saya baru tahu pagi ini bahwa suami saya berdusta kepada saya. Apakah saya harus bercerai? Saya tak bisa percaya padanya lagi.", katanya.

Saat ditanya apa pekerjaan ibu itu, ia bekerja di universitas. "Saya dosen matematika," katanya. "Sudah berapa lama Anda menikah?" tanya Brahm

"Tiga tahun," jawabnya.


Karena sang biksu lulusan Cambridge dan pernah belajar matematika, ia lalu berkata "Baiklah. Mari kita sama-sama menghitung probabilitasnya. Tiga tahun itu kurang lebih 1.000 hari. Logikanya jika selama tiga tahun menikah, suami Anda mengatakan rata-rata 20 hal kepada Anda setiap hari yang bisa saja benar atau salah. Jadi, sejak Anda menikah, ia sudah mengucapkan 20.000 pernyataan, dan kini ia berdusta untuk pertama kalinya. Menurut teori peluang, itu berarti bahwa kali berikutnya ia membuka mulutnya, ada kemungkinan 20.000 banding 1 bahwa ia berkata jujur."


Lanjut sang biksu, "Jadi apa maksud Anda dia tak bisa dipercaya? Peluang 20.000 banding 1 itu cukup bagus, bukan?"

"Apakah dengan satu dusta saja kita sudah tak bisa percaya kepada orang lain? Apakah satu dusta membuat mereka menjadi penipu?" Kata Brahm akhirnya.


Bias negatif atau Negativity bias mengacu pada kecenderungan seseorang untuk memperhatikan, mempelajari, dan menggunakan informasi negatif jauh lebih banyak daripada informasi positif. Akibatnya kesan pertama yang buruk bisa sangat sulit untuk dilupakan sehingga trauma masa lalu dapat memiliki efek jangka panjang bagi seseorang.


Meskipun bias negatif adalah bagian alami dari cara otak kita bekerja, tapi bias negatif yang dikelola dengan baik, dapat membantu kita untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik.

Usahakan untuk selalu memberikan keseimbangan dalam cara kita melihat dunia. Dengan pendekatan yang lebih positif, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, penuh rasa syukur, dan lebih memuaskan.[]


"๐‘ช๐’‚๐’“๐’‚ ๐’•๐’†๐’“๐’ƒ๐’‚๐’Š๐’Œ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’•๐’‚๐’”๐’Š ๐’‘๐’Š๐’Œ๐’Š๐’“๐’‚๐’ ๐’๐’†๐’ˆ๐’‚๐’•๐’Š๐’‡ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‘๐’Š๐’Œ๐’Š๐’“ ๐’‘๐’๐’”๐’Š๐’•๐’Š๐’‡"

(PS Jagadesh Kumar)




Sumber: 

1.Buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya  3"

2.https://focusonthefamily.id/mengungkap-negativity-bias-kenapa-pikiran-kita-lebih-fokus-pada-hal-negatif/

THANK- U- GRAM

 "๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ-๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ "๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ", ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ."

(Meister Eckhart)


Kepada ketiga anaknya,

Edward Kramer dari St. Louis, Missouri, mengajarkan sebuah prinsip yang sederhana tetapi bernilai tinggi.  Prinsip itu mengajarkan agar ketiga anaknya setiap hari mencari kebaikan dari tiga orang yang mereka kenal dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Orang tersebut mungkin adalah guru, tukang pos, polisi, siapa saja yang membuat mereka merasa bersyukur dan terbantu akan kehadiran mereka. Kemudian, ia mendorong agar anaknya menulis ucapan terima kasih yang sederhana untuk mengekspresikan rasa terima kasih mereka kepada orang-orang tersebut. Awalnya cukup susah untuk mendisiplinkan anak-anaknya melakukan hal itu, tapi seiring waktu yang berjalan mereka menjadi terbiasa dan mereka sangat kaget karena surat balasan yang diterima begitu hangat dan menyenangkan.

Dengan prinsip ini, Kramer kemudian mematenkan "Thank-U-Gram", sebuah kartu ucapan terima kasih berwarna kuning semacam telegram. Setelah ide ini diterima, dalam waktu 15 tahun, Kramer mampu memasok jutaan kartu tersebut. Orang-orang terkenal yang menggunakan ide ini antara lain Presiden Amerika Serikat Eisenhower, Bob Hope, Walt Disney, Henry Ford II. 

Dari sebuah ide sederhana tentang niat sang ayah untuk mengajarkan pentingnya mengucapkan terima kasih dan mencari kebaikan dari setiap orang yang melintas dalam hidup terbukti berhasil, karena Kramer sangat mengetahui apa yang paling dibutuhkan manusia, yaitu apresiasi.[]


"๐€๐ฉ๐ซ๐ž๐ฌ๐ข๐š๐ฌ๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ก๐š๐ฅ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐ฎ๐š๐ซ ๐›๐ข๐š๐ฌ๐š. ๐ˆ๐ญ๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐š๐ญ ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐š๐ข๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐ข๐ซ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š."

(Voltaire)


Dari buku 

"CHAMP!ON" 101 Tip Motivasi & Inspirasi SUKSES Menjadi Juara Sejati



WISUDA DENGAN JAS PINJAMAN

 "๐šƒ๐šŽ๐š›๐š๐šŠ๐š™๐šŠ๐š ๐š”๐šŽ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š๐šŠ๐šœ๐šŠ๐š— ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐šŽ๐š›๐š’๐š๐šŠ๐šŠ๐š—, ๐š๐šŠ๐š™๐š’ ๐š๐š’๐š๐šŠ๐š” ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐š”๐šŽ๐š๐šŠ๐š”๐šž๐š๐šŠ๐š—."

(Francis Bacon)


Pukul 8 malam masih ada sebuah mangkok plastik berwarna merah di anak tangga warung Bu Sastro. Mangkok titipan lauk yang lain sudah diambil pemiliknya untuk makan malam di warung kecil jalan Pelesiran tersebut.

"Itu punya Josmar..." Kata Bu Sastro "Dia selalu datang meski malam sudah larut" Tegur Bu Sastro, saat ada pembeli akan mengambil mangkok titipan itu.


Saat datang dengan tubuh lelah dan perut kosong malam harinya, Josmar memasuki warung dengan tubuh yang limbung, Bu Sastro pun berseru khawatir "Eeee, hati-hati Josmar"

Kalau sudah demikian, maka biasanya Ibu akan buru-buru mengeluarkan nasi hangat dan disajikan langsung dengan dada ayam pedas yang sudah disimpankannya buat Josmar.

"Ayo makan segera! Kamu kecapekan belajarnya. Jangan lupa makan!" Ibu selalu berpesan demikian. Bu Sastro memang selalu menyisihkan 1 potong dada ayam pedas untuknya.

 

Josmar Parhusip, mahasiswa angkatan '82 asal Medan yang berambut keriting, bertubuh pendek bulat, dan berkulit hitam ini tidak jarang terlihat pucat dan gelisah. Dia akan menyantap makanannya sambil duduk termangu. Ibu Sastro tahu itu pertanda bahwa Josmar sedang berada dalam puncak kelelahannya.

"Mau dibuatkan teh panas manis supaya badannya enakan?" Bu Sastro akan menawarkan begitu kepadanya. Beliau sudah begitu mengenalnya, sehingga tahu bahwa "wajah pucat kelelahan" ini hanya terjadi ketika Josmar belajar tiada henti. Dia terus belajar sehingga memaksakan tubuhnya bekerja terlalu keras melebihi kapasitasnya.


Sambil makan, dia bercerita dengan bangga tentang ibunya 

yang berprofesi sebagai bidan yang bekerja keras di Medan. Ibu Josmar itu bekerja keras membanting tulang begitu agar Josmar bisa terus bersekolah setinggi-tingginya.


Memiliki anak yang diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, tentunya menimbulkan rasa bangga bagi sang Ibu.

Untuk itu, kedua ibu dan anak itu harus terus berusaha menyelesaikan perjuangan yang berat.

Tinggal di kontrakan yang agak kumuh dan sangat sederhana di pinggir kali Cikapayang pun tak menjadi soal bagi Josmar.

"Saya cuma perlu tempat buat tidur saja kok, Bu. Belajar pun bisa saya lakukan di kampus" jawabnya saat ditanya.


1986

Pagi itu Josmar berangkat untuk menghadapi ujian sidang sarjana. Bu Sastro melepasnya dengan doa-doa seperti melepas anaknya sendiri pergi berjuang. Perut Bu Sastro sepanjang setengah hari itu agak mulas dan terasa lemas tidak karuan, menanti bagaimana kabar dari mahasiswa jurusan Elektro ITB itu.


Ketika Josmar tampak memasuki warungnya, dia tetap berjalan dengan tubuh yang agak oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Hanya saja kali ini wajahnya penuh raut kegembiraan, bukan pucat kelelahan. Bu Sastro segera tahu bahwa seorang lagi Insinyur Elektro telah dilahirkan di negeri Indonesia ini.


Pada hari yang lain, Josmar berangkat pagi menuju acara wisuda sarjana ITB. Keberangkatannya itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan bangga. Bukan hanya karena anak itu berhasil jadi sarjana karena asupan gizi yang cukup dari masakannya, tetapi juga karena jas hitam yang dikenakan Josmar pagi itu merupakan jas hitam satu-satunya milik almarhum Pak Sastro yang dipinjamkannya dengan sukarela.


"Bu..." sapa Josmar ragu. "Minggu depan saya harus wisuda. Saya nggak punya uang buat khusus jahit jas hitam. Apa Ibu punya jas hitam resmi yang bisa saya pinjam dulu, Bu?" Josmar bertanya agak malu kepada Bu Sastro suatu malam, seminggu sebelumnya.

Dengan hati-hati sekali Ibu mengeluarkan satu-satunya jas hitam resmi yang pernah Pak Sastro miliki. Jasnya masih terbungkus plastik rapat sehingga tak ada debu menempel. Tinggal dijemur sebentar saja untuk menghilangkan sedikit bau apeknya.


Akhirnya tibalah hari Josmar akan meninggalkan Bandung untuk selamanya. Dia akan kembali dulu ke Medan untuk men-jumpai ibunya dan memperoleh doa restu. Setelah itu barulah dia akan segera terbang ke Australia untuk bersekolah dan langsung bekerja. Kepergiannya hari itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan mata berkaca-kaca.


"Sukses ya, Nak Josmar. Ibu saja bangga pada kamu, apalagi Ibumu di Medan," demikian kata perpisahan Bu Sastro ketika melepas anak itu pergi.[]


"๐‘ด๐’†๐’๐’‚๐’๐’–๐’Š ๐’‘๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“๐’‚๐’ ๐’•๐’†๐’๐’•๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’†๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘๐’‚๐’, ๐’”๐’†๐’”๐’†๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’Ž๐’‚๐’Œ๐’Š๐’ ๐’Ž๐’‚๐’•๐’‚๐’๐’ˆ ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‰๐’‚๐’…๐’‚๐’‘๐’Š ๐’”๐’†๐’•๐’Š๐’‚๐’‘ ๐’Ž๐’‚๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰. ๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’•๐’‚๐’‰๐’– ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’Š๐’๐’Š๐’Œ๐’Š ๐’Œ๐’†๐’๐’†๐’Ž๐’‚๐’‰๐’‚๐’, ๐’Œ๐’†๐’Œ๐’–๐’“๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’, ๐’…๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’•๐’†๐’“๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’”๐’‚๐’, ๐’๐’‚๐’Ž๐’–๐’ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’Š๐’๐’Š๐’‰ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’‡๐’๐’Œ๐’–๐’” ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’‚๐’”๐’Š๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’๐’‹๐’‚๐’…๐’Š ๐’Œ๐’†๐’๐’†๐’ƒ๐’Š๐’‰๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚, ๐’Œ๐’†๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘๐’‚๐’ ๐’‘๐’–๐’ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‹๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’…๐’Š๐’๐’‚๐’Ž๐’Š๐’”"

(Parlindungan Marpaung)


Sumber

1. Buku"Warung Bu Sastro" Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati

2.https://id.linkedin.com/in/josmar-parhusip-41741a30a


Keterangan foto: Ir.Josmar Parhusip, M.B.A, Vice President Operations PT Sumber Migas Nusantara



Selasa, 03 Februari 2026

PERAMPOK DAN BOCAH BUTA

 "๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ"


Penganiayaan yang dilakukan terhadap pria yang merebut kekasihnya itu menjadikan Moore dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana. Dia lalu menjalani hukuman penjara selama 3 tahun di sebuah kota tua di Prancis.


Usai menjalani hukuman dengan status barunya sebagai bekas narapidana, membuat Moore menjadi bahan ejekan dan cemoohan ketika melamar pekerjaan.


Dalam keadaan kalut, pria itu memutuskan menjadi perampok. Dia telah mengincar sebuah rumah di bagian selatan kota. Sebelumnya dia mengamati bahwa rumah sasaran itu, para penghuninya bekerja seharian. Mereka baru pulang ketika malam. Di rumah itu hanya ada seorang anak kecil yang buta.


Moore pun mulai menjalankan aksinya. la pergi ke rumah itu, setelah semua orang pergi bekerja. la mencongkel pintu utama dengan sebuah pisau belati. Ketika berhasil membuka pintu, sebuah suara lembut bertanya, "Siapa itu?" Moore sembarangan menjawab, "Aku adalah teman ayahmu. Dia memberikan kunci rumah kepadaku."


Dengan gembira anak kecil itu tanpa curiga berkata, "Selamat datang, namaku Kay. Ayahku baru akan pulang nanti malam. Paman, apakah engkau mau bermain sebentar denganku?" Anak itu memandang dengan mata yang besar dan terang, tetapi tidak bisa melihat apa pun. Melihat wajah yang penuh harapan dan permintaan yang tulus, Moore lupa kepada tujuan awalnya, la pun menyanggupi permintaan anak itu.


Moore heran, anak yang berumur 8 tahun dan buta itu dapat bermain piano dengan lancar. Padahal anak normal harus melakukan upaya besar untuk bisa sampai ke tingkat seperti anak ini. Selesai bermain piano, ia melukis sebuah lukisan yang dapat dirasakan di dalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman. Dunia anak ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung. Gambarnya hanya bulat dan persegi, tidak dapat dibedakan. Namun dia melukis dengan sangat serius dan tulus.


"Paman, apakah matahari seperti ini?" Mendengar pertanyaan anak itu, Moore tiba-tiba merasa sangat terharu. Lalu dia melukis beberapa bulatan di telapak tangan anak itu. "Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan."Jawab Moore.


"Warna keemasan? Apa itu?" anak itu mendongakkan wajahnya yang mungil. Moore terdiam sejenak, lalu membawa anak itu ke tempat yang tersinari terik matahari. "Emas adalah sebuah warna yang sangat indah, bisa membuat orang merasa hangat. Sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan," jelasnya.


Anak itu, dengan gembira, meraba ke empat penjuru. "Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat. Dia pasti sama dengan warna senyuman paman." Moore pun dengan sabar menjelaskan kepadanya mengenai berbagai warna dan bentuk barang. Dia sengaja menggambarkan secara rinci, sehingga anak yang penuh imajinasi ini mudah mengerti.


Anak buta itu mendengar cerita Moore dengan sangat serius. Walaupun buta, tetapi rasa serius dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal. Tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat.


Moore tersentak ingat tujuan semula kerumah ini. Namun Moore tidak mungkin lagi merampok. Dia bertekad tidak akan melakukan kejahatan lagi, hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat. Pertemuannya dengan Kay membuatnya sadar dan malu. Dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay,

"๐‘ป๐’–๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’๐’š๐’๐’๐’š๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’†๐’“๐’‰๐’๐’“๐’Ž๐’‚๐’•, ๐’Ž๐’‚๐’‚๐’‡๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’๐’„๐’๐’๐’ˆ๐’Œ๐’†๐’ ๐’‘๐’Š๐’๐’•๐’– ๐’“๐’–๐’Ž๐’‚๐’‰ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’. ๐‘ฒ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’–๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‰๐’†๐’ƒ๐’‚๐’•, ๐’…๐’‚๐’‘๐’‚๐’• ๐’Ž๐’†๐’๐’…๐’Š๐’…๐’Š๐’Œ ๐’‚๐’๐’‚๐’Œ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’…๐’†๐’Ž๐’Š๐’Œ๐’Š๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’Š๐’Œ. ๐‘พ๐’‚๐’๐’‚๐’–๐’‘๐’–๐’ ๐’Ž๐’‚๐’•๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’ƒ๐’–๐’•๐’‚, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’‰๐’‚๐’•๐’Š๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’•๐’†๐’“๐’‚๐’๐’ˆ. ๐‘ซ๐’Š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’‹๐’‚๐’“๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’ƒ๐’‚๐’๐’š๐’‚๐’Œ ๐’‰๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’‚ ๐’‘๐’Š๐’๐’•๐’– ๐’‰๐’‚๐’•๐’Š ๐’”๐’‚๐’š๐’‚."


Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran. la pun memulai karirnya sebagai dokter.


Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini. Kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia. Setiap Kay mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya. la memilih tempat duduk di sebuah sudut yang tidak mencolok, sambil mendengarkan musik indah yang menyirami jiwanya.


Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya. Kay kecil yang tinggal di dunia yang gelap, tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya. Dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini. Vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.

Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat untuk melakukan kejahatan. Secercah harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang. Seperti Moore, yang telah membantu banyak orang.[]


"๐™ณ๐šŽ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›๐š’๐š”๐šŠ๐š— ๐š‹๐šŽ๐š‹๐šŽ๐š›๐šŠ๐š™๐šŠ ๐š”๐šŠ๐š๐šŠ ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š›๐š๐šŠ๐šŠ๐š— ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šž๐š•๐šž๐šœ ๐š”๐šŽ๐š™๐šŠ๐š๐šŠ ๐šœ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š”๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š™๐š’๐šŠ๐š— ๐šŠ๐š๐šŠ๐šž ๐š™๐šž๐š๐šž๐šœ ๐šŠ๐šœ๐šŠ. ๐™ผ๐šž๐š—๐š๐š”๐š’๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š•๐šž๐š™๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š‹๐šŽ๐šœ๐š˜๐š” ๐š”๐šŠ๐š๐šŠ-๐š”๐šŠ๐š๐šŠ ๐š‹๐šŠ๐š’๐š” ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šž๐šŒ๐šŠ๐š™๐š”๐šŠ๐š— ๐š‘๐šŠ๐š›๐š’ ๐š’๐š—๐š’, ๐š๐šŽ๐š๐šŠ๐š™๐š’ ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š–๐šŽ๐š—๐šŽ๐š›๐š’๐š–๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐š–๐šž๐š—๐š๐š”๐š’๐š— ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š›๐š๐šŠ๐š’๐š—๐šข๐šŠ ๐šœ๐šŽ๐šž๐š–๐šž๐š› ๐š‘๐š’๐š๐šž๐š™."

(Dale Carnegie)


Dari buku "Kisah-kisah Paling Mengharukan di Dunia 2"




JANGAN TERLALU

 "๐˜๐˜ข๐˜ต๐˜ช-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ"


Sebagai penemu dan seniman yang hebat, Daedalus, mendapat pengajaran dari Athena, dewi kebijaksanaan dan pelindung seni juga keahlian. Sayang, Icarus  putranya, kemampuannya bertolak belakang dengannya. Anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda kecerdasan atau kreativitas. Justru keponakan Daedalus, Talos, yang berusia 12 tahun dan magang kepadanya dalam waktu singkat telah melampaui dirinya dalam hal kelihaian dan keahlian.


Dengki kepada Talos, Daedalus suatu malam mendorong Talos hingga jatuh dari kuil di Athena sehingga tewas.

Karena takut ditangkap sebagai pembunuh anak laki-laki yang terkenal, dia mengambil anaknya, Icarus, dan bersama-sama mereka lari ke Pulau Kreta.


Persembunyian mereka akhirnya diketahui oleh Minos, Raja Pulau Kreta. Karena tidak bisa lari dari pulau itu, Daedalus, si penemu yang kreatif, membuat sepasang sayap bagi dirinya dan juga satu untuk anaknya Icarus yang diambil dari bulu-bulu burung dan direkatkan dengan menggunakan lilin lebah. Setelah memasangkan bulu-bulu sayap anaknya, dia melakukan hal yang sama pada sayapnya, dan sambil membawa anak di tangannya, dia mengingatkan, "Ikuti Ayah, Icarus; jangan jalan sendiri. Jangan terbang terlalu tinggi, nanti matahari akan melumerkan lilinnya, dan jangan pula terbang terlalu rendah, nanti percikan air laut membuat bulu-bulu itu terlalu berat."


Keduanya lalu berlari dari tepi jurang dan melayang ke angkasa, menjauh dari Pulau Kreta. Akan tetapi, setelah beberapa waktu, Icarus kegirangan karena kebebasan yang baru dia rasakan serta kekuatan sayapnya, dia terbang semakin tinggi dan tinggi menuju matahari.


"Lihat Ayah!, betapa tingginya aku bisa terbang!" Icarus memanggil Ayahnya dengan girang.


Daedalus lalu menoleh ke belakang dan dan apa yang ditakutkan sebelumnya menjadi terjadi. Panas matahari melelehkan lilin di sayap Icarus. Tak kuasa menolong, dia melihat anaknya terempas ke laut dan tewas seketika


"Membonceng kreativitas"

Adalah sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari ide, karya, atau momentum kreatif orang lain untuk kepentingan pribadi atau tujuan lain, sering kali tanpa memberikan kontribusi orisinal yang signifikan. Tak jarang pembonceng itu melupakan peringatan pemilik ide yang sebenarnya demi keamanan dari hal-hal yang membuat fatal.[]


"๐’๐š๐ญ๐ฎ ๐๐ข ๐š๐ง๐ญ๐š๐ซ๐š ๐›๐ž๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐ก๐จ๐ซ๐ฆ๐š๐ญ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ ๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ง๐š๐ซ๐ง๐ฒ๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ค๐š๐ญ๐š๐ค๐š๐ง ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง." 

(Bryant H. McGill)


Dari buku "Tales for Change" Seni Berkisah untuk Pengembangan SDM dan Organisasi



SELEMBAR KERTAS PUTIH

 "๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’– ๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’Œ๐’†๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’-๐’Œ๐’†๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’‚๐’Š๐’. ๐‘จ๐’๐’…๐’‚ ๐’‰๐’‚๐’“๐’–๐’” ๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘ ๐’„๐’–๐’Œ๐’–๐’‘ ๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’‚๐’• ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’†๐’๐’…๐’Š๐’“๐’Š."

(Hyman G.Rickover) 


Ada seekor beruang kecil itu yang suka mencari-cari kesalahan. Dengan mudah, ia mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya.

Yang lebih fatal adalah dia melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada teman atau orangtuanya.


Saat ia terjatuh di kamar mandi, ia berkata 

"Ayah meletakkan ember di sembarang tempat, sehingga aku terpeleset dan jatuh"


Kepada seekor anak yang terkilir kakinya beruang kecil itu berkata: "Itu karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan harus hati-hati," 


Suatu saat, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.

"Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku harus mengusir lebah-lebah itu, agar madunya kuperoleh!"


la pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Merasa terusik, maka lebah-lebah itu menyerang anak beruang sehingga lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu.. dua.. tiga, lebah-lebah sempat menyengatnya. Beruntung, ada sebuah sungai dan beruang kecil itu segera terjun dan menyelam.

Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.


"Mengapa Ayah tidak menolongku? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah!" kata beruang kecil kepada ayahnya 


Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.

"Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?"


"Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab anak beruang.


Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.


"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?"


"Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!" Jawab anak beruang


"Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."


Ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.[]


"๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ค๐ข๐ฆ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง ๐๐š๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฌ๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข, ๐ก๐š๐ญ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐š๐ข ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐š."

(Swami Dhyan Giten) 


Dari buku 

"Inspirasi tanpa Menggurui"


⁽แต‰แตˆโฑหขโฑ โฑโฟหขแต’แตโฟโฑแตƒ⁾



Minggu, 16 November 2025

๐‘ช๐‘จ๐‘น๐‘ท๐‘ฌ ๐‘ซ๐‘ฐ๐‘ฌ๐‘ด

  "๐Š๐ž๐ฆ๐ž๐ง๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ ๐ฆ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง ๐›๐š๐ ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐จ๐ฅ๐š๐ค ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐›๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐›๐ž๐ซ๐ฃ๐ฎ๐š๐ง๐ ."

(Napoleon Hill)


John Keating, adalah seorang guru pada sebuah sekolah berasrama. Semua siswa di sekolah ini adalah laki-laki.

Kepada para belia ini, Keating mengatakan sudah tidak tahu lagi apa impian serta ambisi mereka sendiri. Mereka secara otomatis tinggal meneruskan program-program dan harapan-harapan orang tua mereka bagi mereka. Mereka bercita-cita menjadi dokter, pengacara, dan bankir semata-mata karena profesi itulah yang didiktekan orang tua mereka. Namun remaja-remaja berjiwa mentah ini nyaris tidak dibekali pemikiran apa pun tentang apa yang menjadi dorongan hati mereka sendiri yang perlu diekspresikan.

Mr.Keating lalu membawa kelompok remaja laki-laki itu ke lobi sekolah di mana sebuah almari pajangan memamerkan foto-foto lulusan dari kelas-kelas terdahulu. "Coba perhatikan foto-foto itu," kata Keating kepada para remaja itu. "Anak-anak muda yang kalian lihat itu memiliki nyala api di matanya seperti kalian juga. Mereka berangan-angan untuk menggemparkan dunia dan menciptakan sesuatu yang hebat dalam kehidupan mereka Itu tujuh puluh tahun yang lampau. Kini mereka semua sudah mati. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar mengejar impian-impian mereka sendiri? Apakah mereka mengupayakan apa yang ingin mereka capai?" Kemudian Mr.Keating mencondongkan tubuhnya ke arah mereka dan berbisik dengan jelas, "Carpe Diem! Rebut hari Ini!"


Semula murid-murid itu tidak dapat memahami maksud guru yang aneh tersebut. Namun tak lama kemudian mereka mulai merenungkan makna penting dari kata-katanya. Mereka menjadi menghargai dan memuja Mr.Keating, yang memberi mereka sebuah wawasan baru- atau mengembalikan wawasan-wawasan mereka semula.

Setelah Mr. Keating mengajar di kelas mereka, pembelajaran kelas yang semula kaku menjadi cair suasananya. Cara Mr. Keating mengajar para pemuda itu menjadi bersemangat. 

Di setiap pembelajarannya, Mr. Keating selalu memberikan semangat kepada muridnya untuk selalu melakukan perubahan yang positif dalam hidup.[]


 "๐‘ป๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’•๐’‚๐’๐’•๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’– ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’“๐’‚๐’”๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’ˆ๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’Š๐’“๐’‚๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’."

(George S Patton)


(film "Dead Poets Society")


Dari buku "Chicken Soup for The Soul"



20.000 BERBANDING 1

 "๐™ผ๐šŽ๐š–๐š™๐šŽ๐š›๐šŒ๐šŠ๐šข๐šŠ๐š’ ๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š— ๐š—๐šŽ๐š๐šŠ๐š๐š’๐š ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š•๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŽ๐šœ๐šŠ๐š› ๐š–๐šŽ๐š—๐šž๐š“๐šž ๐š”๐šŽ๐šœ๐šž๐š”๐šœ๐šŽ๐šœ...