Selasa, 28 April 2026

WISUDA DENGAN JAS PINJAMAN

 "𝚃𝚎𝚛𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚝𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚙𝚎𝚗𝚍𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚊𝚗, 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚔𝚎𝚝𝚊𝚔𝚞𝚝𝚊𝚗."

(Francis Bacon)


Pukul 8 malam masih ada sebuah mangkok plastik berwarna merah di anak tangga warung Bu Sastro. Mangkok titipan lauk yang lain sudah diambil pemiliknya untuk makan malam di warung kecil jalan Pelesiran tersebut.

"Itu punya Josmar..." Kata Bu Sastro "Dia selalu datang meski malam sudah larut" Tegur Bu Sastro, saat ada pembeli akan mengambil mangkok titipan itu.


Saat datang dengan tubuh lelah dan perut kosong malam harinya, Josmar memasuki warung dengan tubuh yang limbung, Bu Sastro pun berseru khawatir "Eeee, hati-hati Josmar"

Kalau sudah demikian, maka biasanya Ibu akan buru-buru mengeluarkan nasi hangat dan disajikan langsung dengan dada ayam pedas yang sudah disimpankannya buat Josmar.

"Ayo makan segera! Kamu kecapekan belajarnya. Jangan lupa makan!" Ibu selalu berpesan demikian. Bu Sastro memang selalu menyisihkan 1 potong dada ayam pedas untuknya.

 

Josmar Parhusip, mahasiswa angkatan '82 asal Medan yang berambut keriting, bertubuh pendek bulat, dan berkulit hitam ini tidak jarang terlihat pucat dan gelisah. Dia akan menyantap makanannya sambil duduk termangu. Ibu Sastro tahu itu pertanda bahwa Josmar sedang berada dalam puncak kelelahannya.

"Mau dibuatkan teh panas manis supaya badannya enakan?" Bu Sastro akan menawarkan begitu kepadanya. Beliau sudah begitu mengenalnya, sehingga tahu bahwa "wajah pucat kelelahan" ini hanya terjadi ketika Josmar belajar tiada henti. Dia terus belajar sehingga memaksakan tubuhnya bekerja terlalu keras melebihi kapasitasnya.


Sambil makan, dia bercerita dengan bangga tentang ibunya 

yang berprofesi sebagai bidan yang bekerja keras di Medan. Ibu Josmar itu bekerja keras membanting tulang begitu agar Josmar bisa terus bersekolah setinggi-tingginya.


Memiliki anak yang diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, tentunya menimbulkan rasa bangga bagi sang Ibu.

Untuk itu, kedua ibu dan anak itu harus terus berusaha menyelesaikan perjuangan yang berat.

Tinggal di kontrakan yang agak kumuh dan sangat sederhana di pinggir kali Cikapayang pun tak menjadi soal bagi Josmar.

"Saya cuma perlu tempat buat tidur saja kok, Bu. Belajar pun bisa saya lakukan di kampus" jawabnya saat ditanya.


1986

Pagi itu Josmar berangkat untuk menghadapi ujian sidang sarjana. Bu Sastro melepasnya dengan doa-doa seperti melepas anaknya sendiri pergi berjuang. Perut Bu Sastro sepanjang setengah hari itu agak mulas dan terasa lemas tidak karuan, menanti bagaimana kabar dari mahasiswa jurusan Elektro ITB itu.


Ketika Josmar tampak memasuki warungnya, dia tetap berjalan dengan tubuh yang agak oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Hanya saja kali ini wajahnya penuh raut kegembiraan, bukan pucat kelelahan. Bu Sastro segera tahu bahwa seorang lagi Insinyur Elektro telah dilahirkan di negeri Indonesia ini.


Pada hari yang lain, Josmar berangkat pagi menuju acara wisuda sarjana ITB. Keberangkatannya itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan bangga. Bukan hanya karena anak itu berhasil jadi sarjana karena asupan gizi yang cukup dari masakannya, tetapi juga karena jas hitam yang dikenakan Josmar pagi itu merupakan jas hitam satu-satunya milik almarhum Pak Sastro yang dipinjamkannya dengan sukarela.


"Bu..." sapa Josmar ragu. "Minggu depan saya harus wisuda. Saya nggak punya uang buat khusus jahit jas hitam. Apa Ibu punya jas hitam resmi yang bisa saya pinjam dulu, Bu?" Josmar bertanya agak malu kepada Bu Sastro suatu malam, seminggu sebelumnya.

Dengan hati-hati sekali Ibu mengeluarkan satu-satunya jas hitam resmi yang pernah Pak Sastro miliki. Jasnya masih terbungkus plastik rapat sehingga tak ada debu menempel. Tinggal dijemur sebentar saja untuk menghilangkan sedikit bau apeknya.


Akhirnya tibalah hari Josmar akan meninggalkan Bandung untuk selamanya. Dia akan kembali dulu ke Medan untuk men-jumpai ibunya dan memperoleh doa restu. Setelah itu barulah dia akan segera terbang ke Australia untuk bersekolah dan langsung bekerja. Kepergiannya hari itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan mata berkaca-kaca.


"Sukses ya, Nak Josmar. Ibu saja bangga pada kamu, apalagi Ibumu di Medan," demikian kata perpisahan Bu Sastro ketika melepas anak itu pergi.[]


"𝑴𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖𝒊 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏, 𝒔𝒆𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉. 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒆𝒎𝒂𝒉𝒂𝒏, 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔𝒂𝒏, 𝒏𝒂𝒎𝒖𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒉 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒇𝒐𝒌𝒖𝒔 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂, 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒏 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒏𝒂𝒎𝒊𝒔"

(Parlindungan Marpaung)


Sumber

1. Buku"Warung Bu Sastro" Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati

2.https://id.linkedin.com/in/josmar-parhusip-41741a30a


Keterangan foto: Ir.Josmar Parhusip, M.B.A, Vice President Operations PT Sumber Migas Nusantara



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

20.000 BERBANDING 1

 "𝙼𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊𝚒 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚝𝚒𝚏 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚓𝚞 𝚔𝚎𝚜𝚞𝚔𝚜𝚎𝚜...