"๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ด๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ. ๐๐ข๐ฌ๐ต๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต."
(Stephen C Hogan)
Puncak kejayaan Dinasti Medici dicapai oleh Lorenzo de Mรฉdici atau Lorenzo Magnificent. Pria kelahiran 1 Januari 1449 ini piawai menjalankan urusan negara-kota Florence, tapi cinta sejatinya adalah seni dan filsafat. Dia juga penyair yang cukup bagus, tapi, terutama, dia adalah pencari bakat sejati.
Suatu hari, Lorenzo tengah mengamati para perajin di taman Medici, area berlatih bagi bakat baru ketika seorang bocah lelaki, tak lebih dari empat belas tahun, menarik perhatiannya. Bocah itu memahat sosok faunus, dewa Romawi berupa manusia setengah kambing.
Kehalusan pekerjaan pemahat yang masih belia itu membuat Lorenzo terpukau. Bocah itu, yang bekerja menirukan sebuah model kuno, telah menciptakan replika yang sempurna. Dia bahkan memberi sang dewa penjaga ladang dan ternak itu tawa jail dan membuka mulutnya, menampakkan barisan gigi berantakan.
"Kau membuat faunus ini sangat tua, tapi membiarkan giginya lengkap," goda Lorenzo. "Bukankah lelaki tua selalu kehilangan beberapa gigi?"
Bocah itu sangat malu. Bagaimana dia bisa melewatkan detail sepenting itu? Apalagi yang mengingatkannya adalah lelaki paling berkuasa di Florence. Begitu Lorenzo pergi, bocah itu langsung bekerja. Dia menyingkirkan satu gigi atas, membor gusinya dan membuat ilustrasi gigi yang rusak.
Esok harinya, Lorenzo kembali dan tertawa senang. Dia terkesan tidak hanya pada bakat nyata bocah itu, tapi pada tekadnya untuk "membuat dengan benar". Lorenzo mengundang bocah itu untuk tinggal di rumahnya, bekerja, dan belajar bersama anak-anaknya sendiri.
Kepada bocah kecil itu, Lorenzo berkata "Dengar, Nak, aku rasa kau memilikinya. Apa yang ingin kaulakukan? Apakah kau ingin jadi pelukis? Baik, ini tablet dan ini kuasnya. Menggambarlah. Kau ingin jadi pemahat? Ini sebongkah batu. Ini palu dan pahat. Ini patung Romawi untuk dipelajari. Dan, ini guru-guru terbaik."
Sebuah kesempatan baik telah menghampiri sang pemahat muda.
Kemurahan hati Lorenzo dibalas berlipat ganda. Bocah itu, Michaelangelo Buonarroti telah menjadi seniman besar dengan karya terbaiknya 'David'
Saat ini, nama Michelangelo lebih berkibar dibandingkan dengan Lorenzo, meski sang pengayom barangkali layak mendapatkan sebagian besar penghargaan. Andai dia tidak berhenti untuk memeriksa pekerjaan seorang pemahat batu muda, si "bukan siapa-siapa", andai dia tidak mengenali tanda-tanda kegeniusan pada bocah itu, dan tidak langsung bertindak untuk memberikan kesempatan kita tak akan mengenal nama Michelangelo.
Kegeniusan itu seperti reaksi kimia. Ubah satu molekul dan semuanya berubah...[]
"๐ฑ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ '๐๐', ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
(Richard Branson)
Keterangan foto: Lorenzo de Mรฉdici saat bertemu dengan Michaelangelo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar