"๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐."
(Francis Bacon)
Pukul 8 malam masih ada sebuah mangkok plastik berwarna merah di anak tangga warung Bu Sastro. Mangkok titipan lauk yang lain sudah diambil pemiliknya untuk makan malam di warung kecil jalan Pelesiran tersebut.
"Itu punya Josmar..." Kata Bu Sastro "Dia selalu datang meski malam sudah larut" Tegur Bu Sastro, saat ada pembeli akan mengambil mangkok titipan itu.
Saat datang dengan tubuh lelah dan perut kosong malam harinya, Josmar memasuki warung dengan tubuh yang limbung, Bu Sastro pun berseru khawatir "Eeee, hati-hati Josmar"
Kalau sudah demikian, maka biasanya Ibu akan buru-buru mengeluarkan nasi hangat dan disajikan langsung dengan dada ayam pedas yang sudah disimpankannya buat Josmar.
"Ayo makan segera! Kamu kecapekan belajarnya. Jangan lupa makan!" Ibu selalu berpesan demikian. Bu Sastro memang selalu menyisihkan 1 potong dada ayam pedas untuknya.
Josmar Parhusip, mahasiswa angkatan '82 asal Medan yang berambut keriting, bertubuh pendek bulat, dan berkulit hitam ini tidak jarang terlihat pucat dan gelisah. Dia akan menyantap makanannya sambil duduk termangu. Ibu Sastro tahu itu pertanda bahwa Josmar sedang berada dalam puncak kelelahannya.
"Mau dibuatkan teh panas manis supaya badannya enakan?" Bu Sastro akan menawarkan begitu kepadanya. Beliau sudah begitu mengenalnya, sehingga tahu bahwa "wajah pucat kelelahan" ini hanya terjadi ketika Josmar belajar tiada henti. Dia terus belajar sehingga memaksakan tubuhnya bekerja terlalu keras melebihi kapasitasnya.
Sambil makan, dia bercerita dengan bangga tentang ibunya
yang berprofesi sebagai bidan yang bekerja keras di Medan. Ibu Josmar itu bekerja keras membanting tulang begitu agar Josmar bisa terus bersekolah setinggi-tingginya.
Memiliki anak yang diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, tentunya menimbulkan rasa bangga bagi sang Ibu.
Untuk itu, kedua ibu dan anak itu harus terus berusaha menyelesaikan perjuangan yang berat.
Tinggal di kontrakan yang agak kumuh dan sangat sederhana di pinggir kali Cikapayang pun tak menjadi soal bagi Josmar.
"Saya cuma perlu tempat buat tidur saja kok, Bu. Belajar pun bisa saya lakukan di kampus" jawabnya saat ditanya.
1986
Pagi itu Josmar berangkat untuk menghadapi ujian sidang sarjana. Bu Sastro melepasnya dengan doa-doa seperti melepas anaknya sendiri pergi berjuang. Perut Bu Sastro sepanjang setengah hari itu agak mulas dan terasa lemas tidak karuan, menanti bagaimana kabar dari mahasiswa jurusan Elektro ITB itu.
Ketika Josmar tampak memasuki warungnya, dia tetap berjalan dengan tubuh yang agak oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Hanya saja kali ini wajahnya penuh raut kegembiraan, bukan pucat kelelahan. Bu Sastro segera tahu bahwa seorang lagi Insinyur Elektro telah dilahirkan di negeri Indonesia ini.
Pada hari yang lain, Josmar berangkat pagi menuju acara wisuda sarjana ITB. Keberangkatannya itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan bangga. Bukan hanya karena anak itu berhasil jadi sarjana karena asupan gizi yang cukup dari masakannya, tetapi juga karena jas hitam yang dikenakan Josmar pagi itu merupakan jas hitam satu-satunya milik almarhum Pak Sastro yang dipinjamkannya dengan sukarela.
"Bu..." sapa Josmar ragu. "Minggu depan saya harus wisuda. Saya nggak punya uang buat khusus jahit jas hitam. Apa Ibu punya jas hitam resmi yang bisa saya pinjam dulu, Bu?" Josmar bertanya agak malu kepada Bu Sastro suatu malam, seminggu sebelumnya.
Dengan hati-hati sekali Ibu mengeluarkan satu-satunya jas hitam resmi yang pernah Pak Sastro miliki. Jasnya masih terbungkus plastik rapat sehingga tak ada debu menempel. Tinggal dijemur sebentar saja untuk menghilangkan sedikit bau apeknya.
Akhirnya tibalah hari Josmar akan meninggalkan Bandung untuk selamanya. Dia akan kembali dulu ke Medan untuk men-jumpai ibunya dan memperoleh doa restu. Setelah itu barulah dia akan segera terbang ke Australia untuk bersekolah dan langsung bekerja. Kepergiannya hari itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan mata berkaca-kaca.
"Sukses ya, Nak Josmar. Ibu saja bangga pada kamu, apalagi Ibumu di Medan," demikian kata perpisahan Bu Sastro ketika melepas anak itu pergi.[]
"๐ด๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐. ๐ฒ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐"
(Parlindungan Marpaung)
Sumber
1. Buku"Warung Bu Sastro" Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati
2.https://id.linkedin.com/in/josmar-parhusip-41741a30a
Keterangan foto: Ir.Josmar Parhusip, M.B.A, Vice President Operations PT Sumber Migas Nusantara






