Senin, 03 Oktober 2022

TRANSFER KEJUJURAN


"𝐊𝐞𝐣𝐮𝐣𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐝𝐢𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐡𝐚𝐥. 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐫𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐮𝐫𝐚𝐡𝐚𝐧."

(Warren Buffett)


Lowongan kerja itu sesuai dengan kriteria yang dimiliki oleh Noval: berijazah S2 dan memilki SIM B2.

Maka bersama lima orang temannya, Noval lalu bertugas sebagai pengemudi truk yang mengantar makanan beku ke beberapa supermarket dan toko di Bandung dan sekitarnya.


Dua tahun kemudian, Direktur memerlukan seorang untuk diangkat menjadi Manajer Area. Direktur perusahaan ini menyampaikan bahwa dirinya merasa kesulitan memilih salah satu dari enam orang yang ada,karena mereka adalah hasil seleksi yang ketat dari puluhan orang pendaftar dua tahun lalu di perusahaan. Namun perusahaan ini tetap harus memilih satu dari enam orang vang ada. Untuk itu, kata sang direktur mereka semua akan diikutkan proses seleksi dan yang terpilih nantinya akan diberi uang insentif sebesar dua juta selama tiga bulan masa percobaan menjadi manajer area terhitung sejak bulan Januari, sementara pengumuman rekrutmen tersebut disampaikan pada bulan November.


Di penghujung Desember, pada gadget Noval masuk notifikasi dari e-banking dimana ia mempunyai nomor rekening. Nomor itu adalah rekening khusus untuk transfer gaji dari perusahaan, dan hanya dua orang, selain dia yang tahu nomornya, yaitu kepala bagian keuangan dan istri Noval.

Ternyata ada pemberitahuan uang sejumlah dua juta rupiah masuk ke dalam rekeningnya. Noval bertanya dalam hati, siapakah pengirim uang misterius itu. 

Setelah ditanyakan pada kedua orang tersebut, mereka berdua mengatakan bahwa mereka tidak tahu-menahu dari mana uang itu berasal. Pikiran dia sederhana saja, bahwa uang tersebut bukanlah haknya, dan telah terjadi kesalahan transfer dari bagian keuangan.

Akhirnya Noval memberanikan diri untuk menanyakan persoalan ini kepada Direktur perusahaannya. Dia menjelaskan alasan kekhawatirannya tentang keberadaan uang yang bukan haknya masuk ke dalam rekeningnya. Noval beralasan, pertama sistem pembayaran dengan menggunakan e-banking memungkinkan terjadi kesalahan pengiriman sebab faktor human error, kedua jika uang tersebut adalah uang insentif sebagaimana yang dijanjikan pada dirinya dan teman-temannya yang lain berkaitan dengan rekruitmen Manajer Area, maka hal ini pun tidak mungkin, karena belum ada yang dipilih oleh perusahaan untuk menjadi Manajer Area, yang pengumumannya baru akan di sampaikan di bulan Januari. Sementara uang yang masuk ke rekeningnya adalah akhir bulan Desember. Sehingga dia yakin, ini pasti kesalahan pengiriman dan dia harus mengembalikan uang tersebut karena bukan haknya. Setelah mendengar alasan dari karyawan yang jujur ini, sang Direktur yang sedari tadi diam, seketika itu berdiri dan menyalaminya seraya berkata, "Selamat!, Anda adalah Manajer Area yang kami butuhkan!"

Beberapa waktu kemudian, sang direktur mengumpulkan seluruh staf-nya dalam sebuah rapat dan menyampaikan keputusannya tentang manajer area baru yang dipilih dengan mengatakan, "Perusahaan ini tidak berkeberatan mengeluarkan uang sejumlah dua belas juta rupiah namun bisa mendapatkan seorang manajer area yang jujur". Rupanya setiap orang dari lima temannya yang lain itu dikirimi uang serupa namun hanya dia seorang yang berani mengatakan secara jujur tentang kesalahan transfer uang tersebut.

Dan kejujuran Noval telah mengantarkannya mendapatkan jabatan yang pantas.[]

"𝙱𝚎𝚛𝚜𝚒𝚔𝚊𝚙𝚕𝚊𝚑 𝚓𝚞𝚓𝚞𝚛. 𝚂𝚎𝚜𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎𝚓𝚞𝚓𝚞𝚛𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗𝚝𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚎𝚋𝚊𝚒𝚔𝚊𝚗, 𝚍𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚋𝚊𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗𝚝𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎 𝚜𝚞𝚛𝚐𝚊 ... 𝙹𝚊𝚞𝚑𝚒𝚕𝚊𝚑 𝚍𝚞𝚜𝚝𝚊. 𝚂𝚎𝚜𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚞𝚜𝚝𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚛𝚎𝚝 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚎𝚋𝚞𝚛𝚞𝚔𝚊𝚗 (𝚔𝚎𝚑𝚊𝚗𝚌𝚞𝚛𝚊𝚗), 𝚍𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚋𝚞𝚛𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚛𝚎𝚝 𝚔𝚎 𝚗𝚎𝚛𝚊𝚔𝚊"

(H.R. Muslim).


Dari buku

"Membangun Karakter dengan Hati Nurani"

MENJADI POHON


Berawal dari benih yang tumbuh di tanah. Matahari tak henti bersinar untuk membantunya tumbuh disamping air yang memberikan nutrisi kepadanya.

Waktu berlalu, hari berganti bulan, bulan bertukar tahun sampai benih tadi tumbuh menjadi pohon kecil.

Gesekan akar dan tanah membuatnya menghujam dalam-dalam menjauhi permukaan tanah sehingga batang semakin kokoh tumbuh keatas. 

Putaran waktu juga menumbuhkan ranting menjadi dahan yang besar. 

Kemudian datanglah burung-burung hinggap pada pohon tersebut. Saat ranting yang kecil patah diinjaknya, burung akan mencari pijakan yang lebih besar.


Menjadi pohon.....

Ternyata sebuah perjalanan yang cukup panjang dengan segala perjuangannya agar benih yang sebutir menjadi pohon besar yang sarat dengan manfaat.

Dalam pertumbuhan dia tidak hanya mengalami hal-hal yang baik saja. Tetapi juga mengalami hal yang buruk. Bukankah dalam pertumbuhan, melampaui musim demi musim, beberapa daun terpaksa berguguran. Beberapa buah bahkan berjatuhan karena ditiup angin, padahal belum cukup matang untuk dikonsumsi.


Namun, kabar baiknya, semua yang berguguran dan jatuh serta membusuk di sekitar batang pohon tersebut, kemudian menjadi pupuk yang sangat membantu pertumbuhan sang pohon.


Bila Anda menjadi pohon, maka setiap orang yang bergaul dengan Anda juga belajar dari sikap Anda. Sikap Anda membuat orang memilih 'hinggap' di tempat yang membuat betah dan nyaman di sekitar Anda.


Lalu Anda juga terus bertumbuh karena terpaan sinar matahari serta guyuran hujan. Anda dibuat besar karena panasnya siang hari berganti dengan dinginnya malam hari. Semua tantangan yang datang dalam hidup Anda "sebagai pohon" bukan membuat Anda patah. Anda malah semakin kuat,semakin besar dan semakin menyenangkan.

Ketika "menjadi pohon" Anda perlu menyadari bahwa akan ada pergesekan dengan lingkungan sekitar saat bertumbuh menjadi besar. Hanya saja dalam pergesekan menjadi besar, kita perlu lebih hati-hati dan meminimalkan kerugian bagi pihak lain. Selain itu juga pergesekan perlu menjadi pelajaran bagi kita agar semakin lama pergesekan menjadi semakin halus.


Hal yang paling penting adalah bahwa di sekitar setiap pohon yang besar akan selalu ada pohon-pohon atau tumbuhan-tumbuhan kecil yang tidak hanya berlindung, tetapi juga mendapatkan sumber makanan dari pohon besar. Dengan demikian pohon besar akan menjadi saluran berkah bagi tumbuhan kecil di sekitarnya.

Jadi, sudah waktunya kita menjadi pohon besar...[]


Dari buku

"Little Notes for Big Sucess"

Selasa, 27 September 2022

NYALAKAN LILIN DALAM HIDUPMU


Suatu hari,ada seorang buta yang berkunjung ke rumah seorang temannya.Saat akan pulang,hari sudah senja,dan karenanya,temannya menawarkan sebuah lampion untuk dibawa.
“Saya buta,tidak memerlukan lampion” kata orang buta tadi.
“Saya tahu kamu tidak memerlukan lampion,tapi kalau kamu tidak membawa lampion,orang lain mungkin akan menabrakmu di jalan.Jadi bawalah lampion ini”
Setelah mendengar penjelasan temannya,orang buta itu pun pulang sambil membawa lampion di tangannya.
Tidak lama di perjalanan,orang buta itu ditabrak oleh seseorang didepannya.
”Hei..!,Siapa yang menabrakku ini,apa tidak bisa melihat lampion ini?”
“Maafkan saya,tapi lilin dalam lampionmu padam,Saya tak bisa melihatmu”
Orang buta itu langsung menjawab “Bukan lilinku yang padam,tapi lilin dalam hatimu yang sudah padam”

PESAN :
Seseorang yang tidak mempunyai pikiran positif susah untuk melihat hal-hal yang positif dalam pikirannya.Begitu juga dengan orang yang hidupnya bagai tidak mempunyai pelita ibarat lilin,hidupnya pasti gelap gulita.Nyalakan pelita dalam hidupmu,biarkan ia menerangi masa depan dankehidupan orang di sekitarmu

Dari buku
SIMPLIFY YOUR LIFE WITH ZEN
35 Kisah Zen untuk menyederhanakan masalah hidup

Senin, 26 September 2022

MURID-MURID KELAS B

 

“Belajar tidak dicapai secara kebetulan; itu harus dicari dengan semangat dan ketekunan.” 

(Abigail Adams)


Sebuah Sekolah di Inggris suatu saat melakukan sebuah penelitian.

Pada akhir tahun ajaran diadakanlah sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk pembagian kelas pada tahun berikutnya. Akan tetapi, hasil ujian itu tak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan, hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahui.

Yang dilakukan adalah: anak-anak yang mendapat peringkat satu ditempatkan di kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat empat dan lima, delapan dan sembilan, dua belas dan tiga belas, dan selanjutnya. Sementara anak-anak yang mendapat peringkat dua dan tiga pada ujian tersebut ditempatkan pada kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas, dan selanjutnya. Dengan kata lain, berdasarkan prestasi selama ujian, anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasarkan kesetaraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas diberi fasilitas yang sama. Segala sesuatunya dibuat sesetara mungkin, kecuali untuk satu hal: satu disebut "kelas A" (kelas unggulan) dan yang lain disebut "kelas B" (kelas reguler)


Pada kenyataannya, setiap kelas memiliki anak-anak yang setara kemampuannya. Tetapi di benak setiap orang, anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak-anak yang cerdas, sedangkan anak-anak dari kelas B dianggap tak begitu pandai. Beberapa orang tua dari anak-anak kelas A mendapat kejutan yang menyenangkan karena anak-anaknya telah lulus dengan baik dan menghadiahi mereka dengan bingkisan dan pujian. Sementara beberapa orang tua dari anak-anak kelas B nampak kecewa, karena mereka dianggap tak berusaha cukup keras selama ujian. Bahkan para guru pun mengajar anak-anak kelas B dengan sikap yang berbeda; dengan tidak berharap banyak dari mereka. Sepanjang tahun ajaran, ilusi tersebut terus dipertahankan. Lalu tibalah ujian akhir tahun berikutnya.


Hasilnya cukup mengejutkan . Anak-anak kelas A menunjukkan prestasi yang lebih baik daripada anak-kanak kelas B. Pada kenyataannya, hasilnya juga akan seperti itu jika dulunya mereka terpilih sebagai setengah dari yang teratas pada ujian tahun lalu. Mereka benar-benar menjadi anak-anak kelas A (kelas unggulan). Dan di kelompok lain, walaupun setara pada tahun lalu, mereka menjadi anak-anak kelas B (kelas biasa) sungguhan.

Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka.[]

"Pendidikan bukanlah mengisi ember, tetapi menyalakan api.”

(WB Yeats)


Dari buku

"Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya"

RENDAH HATI, BUKAN RENDAH DIRI



"𝐑𝐞𝐧𝐝𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐟𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐫𝐞𝐧𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐫𝐢. 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐰𝐮𝐣𝐮𝐝 𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐬𝐲𝐮𝐤𝐮𝐫."

Seorang filsuf bergegas menaiki sebuah kapal kecil menuju ke suatu tempat yang berada di seberang. Waktu tempuh perjalanan yang diperlukan lebih kurang empat puluh menit lamanya. Setelah beberapa lama kapal itu beranjak dari tempatnya bersandar, tiba-tiba filsuf itu merasakan bosan sehingga ia pun bergegas keluar dari ruang penumpang menuju ke atas kapal untuk melihat-lihat pemandangan sekaligus mencari teman untuk berbincang. la pun mendapati seseorang di atas geladak kapal yang ternyata salah seorang awak kapal yang melaut itu.

Setelah keduanya saling memperkenalkan diri, di tengah perbincangan sang filsuf bertanya kepada awak kapal, "Apakah Anda mengerti tentang filosofi?" "Mohon maaf, Pak, saya tidak mengerti apa itu filosofi," jawab awak kapal. "Oh, ya? Wah, sayang sekali ... jika demikian berarti Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda," ucap sang filsuf. Kemudian filsuf itu melanjutkan pertanyaannya, "Apakah Anda mengerti ilmu matematika?" "Saya tidak mengerti, Pak," jawab awak kapal tersebut. Mendengar jawaban itu, sang filsuf menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, "Sayang sekali, saya sangat menyayangkan bahkan Anda tidak mengerti akan matematika. Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda." Awak kapal itu pun semakin tidak mengerti apa gerangan maksud dari filsuf itu menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu kepadanya.

Suasana pun hening beberapa saat. Kemudian, awak bertanya kapal  itu  kepada sang filsuf. "Maaf, Pak, tadi Anda bertanya dua hal kepada saya dan saya tidak bisa menjawabnya karena keterbatasan saya. Sekarang bolehkah saya bertanya kepada Anda?" ucap awak kapal itu ketika menyadari bahwa ada beberapa bagian kapal itu yang mulai terendam air akibat hantaman ombak yang kencang. Filsuf itu tidak menyadari akan hal itu. Dengan gagahnya sang filsuf berkata, "Oh, tentu boleh dan saya akan menjawabnya."

"Pak ... apakah Bapak bisa berenang?" tanya awak kapal. "Sepertinya kapal ini akan tenggelam, Pak ..., ? lanjut awak kapal sembari menunjukkan ke bagian kapal yang mulai tergenang air. Dengan cepat sang filsuf menggelengkan kepalanya. Seketika itu juga ia ketakutan bukan main dan berkata, "Saya tidak bisa berenang, cepat tolonglah saya." Melihat kejadian itu, awak kapal menertawakan sang filsuf dan berkata, "Sayang sekali, Pak, berenang saja Anda tidak bisa. Itu artinya Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda sekarang."[]

"𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒌𝒆𝒔𝒖𝒌𝒔𝒆𝒔𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖𝒊 𝒇𝒐𝒏𝒅𝒂𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒐𝒎𝒃𝒐𝒏𝒈𝒂𝒏; 𝒌𝒆𝒓𝒆𝒏𝒅𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒎𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒇𝒐𝒏𝒅𝒂𝒔𝒊 𝒔𝒖𝒌𝒔𝒆𝒔 𝒊𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒌𝒂𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒚𝒖𝒌𝒖𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎."
(Davit Setiawan)

Dari buku
"I Believe I Can Fly!"
150 Kisah Inspirasional yang Membuat Kesuksesan Berlari Menuju Anda

Senin, 12 September 2022

MENYERU DENGAN DETERGEN


Molekul air yang memiliki gaya tarik sejenis (kohesi) yang lebih besar dibandingkan dengan gaya tarik dengan molekul yang tidak sejenis (adhesi) menyebabkan air tampak kompak dalam satu kesatuan yang sulit terpisahkan dibanding zat lain seperti bensin atau udara misalnya.


Itulah sebabnya mengapa air cenderung menegang dan membentuk selaput tipis di permukaannya, lantaran adanya tegangan permukaan yang bersumber dari sifat kohesinya. Dengan adanya tegangan permukaan ini membuat air tidak menenggelamkan benda-benda seperti jarum, penjepit kertas (klip) serta dapat dipijak oleh berbagai serangga atau bahkan berjalan di atas permukaannya. 

Tegangan permukaan juga membuat pakaian yang kotor menjadi susah dibersihkan karena air sulit menembus celah diantara pakaian kotor jika tidak menggunakan detergen.


Sifat kohesi air menyebabkan dia cenderung lebih menyukai berkumpul dalam ikatannya sendiri dibandingkan melepaskannya dan bergabung dengan ikatan yang berbeda.


Dengan adanya detergen, maka sifat kohesi air jadi berkurang, maka otomatis ikatan antar molekulnya menjadi berkurang pula. Sehingga dengan demikian, air dapat lebih "cair" dan dapat masuk ke sela-sela serat kain sekaligus membersihkan bagian kotornya.


Betapa banyak "air" di sekitar kita, yang senantiasa berusaha membersihkan tempat yang kotor hanya dengan mengajak, menghimbau, atau menyampaikan tanpa bantuan "detergen" sehingga tidak pernah terjun langsung ke sela-sela tempat kotor tersebut untuk membersihkannya dari dalam. Ajakan kebaikan dari penyeru seperti ini akan terasa hambar belaka.


Temukanlah "detergen" yang dapat menurunkan 

kekakuan tersebut melalui perjalanan hidup penuh warna, keberanian menceburkan diri dalam banyak hal, tenggelam dalam berbagai benturan pemikiran, serta kemampuan menarik benang merah dari dari semua peristiwa yang telah dilaluinya.

Ajakan kebaikan dengan menggunakan filosofi detergen seperti itu pastilah akan memiliki daya himbau yang besar dan tidak terasa hambar ...[]


Dari buku

"SAINSPIRASI"

Inspirasi Kehidupan Berdasarkan Fenomena Sains

Minggu, 11 September 2022

DUA BATA MIRING


Saya adalah seorang fisikawan teori dan guru SMA sebelum menjadi biksu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya "BBC" (Buddhist Building Company). 

Pada tahun 1983 dengan modal yang pas-pasan, kami para biksu membangun sebuah wihara.


Pada saat membangun tembok, saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi terdapat dua batu bata yang tampak miring. Tentu saja dua bata tersebut merusak keindahan seluruh tembok.


Karena semen adukan sudah mengeras, saya bertanya kepada kepala wihara apakah saya boleh membongkar tembok itu dan memperbaiki letak dua bata tersebut. Namun Kepala wihara bilang tak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.


Kira-kira tiga bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.


"Sebuah tembok yang indah," ia berkomentar dengan santainya.


"Pak" saya menjawab dengan terkejut, "Tidakkah Anda melihat dua batu bata miring yang merusak keseluruhan tembok itu?"


Apa yang ia ucapan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkenaan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, "Ya, saya bisa melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus."


Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, di kiri, dan di kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu bata-batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelek itu. Selama ini, mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat; saya terbutakan dari hal-hal lainnya. Itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya saya ingin membongkarnya. Sekarang, saya dapat melihat batu bata-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. Tembok itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung itu, "Sebuah tembok yang indah." Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah dua puluh tahun, namun saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.


Kita semua memiliki "dua bata jelek", namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita.


Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberi tahu saya tentang rahasia profesinya.


"Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan," katanya, "tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah "ciri unik" yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dolar!"


Jadi, "ciri unik" di rumah Anda, bisa jadi, awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, apa yang Anda kira sebagai kesalahan pada diri Anda, rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah 'ciri unik' yang memperkaya hidup Anda di dunia ini, tatkala Anda tidak lagi terfokus padanya.[]


(Diceritakan oleh Peter Betts yang kemudian mengubah namanya menjadi Ajahn Brahm dalam buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya")

PERAMPOK DAN BOCAH BUTA

 "𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘴𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬...