Selasa, 03 Februari 2026

JANGAN TERLALU

 "๐˜๐˜ข๐˜ต๐˜ช-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ"


Sebagai penemu dan seniman yang hebat, Daedalus, mendapat pengajaran dari Athena, dewi kebijaksanaan dan pelindung seni juga keahlian. Sayang, Icarus  putranya, kemampuannya bertolak belakang dengannya. Anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda kecerdasan atau kreativitas. Justru keponakan Daedalus, Talos, yang berusia 12 tahun dan magang kepadanya dalam waktu singkat telah melampaui dirinya dalam hal kelihaian dan keahlian.


Dengki kepada Talos, Daedalus suatu malam mendorong Talos hingga jatuh dari kuil di Athena sehingga tewas.

Karena takut ditangkap sebagai pembunuh anak laki-laki yang terkenal, dia mengambil anaknya, Icarus, dan bersama-sama mereka lari ke Pulau Kreta.


Persembunyian mereka akhirnya diketahui oleh Minos, Raja Pulau Kreta. Karena tidak bisa lari dari pulau itu, Daedalus, si penemu yang kreatif, membuat sepasang sayap bagi dirinya dan juga satu untuk anaknya Icarus yang diambil dari bulu-bulu burung dan direkatkan dengan menggunakan lilin lebah. Setelah memasangkan bulu-bulu sayap anaknya, dia melakukan hal yang sama pada sayapnya, dan sambil membawa anak di tangannya, dia mengingatkan, "Ikuti Ayah, Icarus; jangan jalan sendiri. Jangan terbang terlalu tinggi, nanti matahari akan melumerkan lilinnya, dan jangan pula terbang terlalu rendah, nanti percikan air laut membuat bulu-bulu itu terlalu berat."


Keduanya lalu berlari dari tepi jurang dan melayang ke angkasa, menjauh dari Pulau Kreta. Akan tetapi, setelah beberapa waktu, Icarus kegirangan karena kebebasan yang baru dia rasakan serta kekuatan sayapnya, dia terbang semakin tinggi dan tinggi menuju matahari.


"Lihat Ayah!, betapa tingginya aku bisa terbang!" Icarus memanggil Ayahnya dengan girang.


Daedalus lalu menoleh ke belakang dan dan apa yang ditakutkan sebelumnya menjadi terjadi. Panas matahari melelehkan lilin di sayap Icarus. Tak kuasa menolong, dia melihat anaknya terempas ke laut dan tewas seketika


"Membonceng kreativitas"

Adalah sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari ide, karya, atau momentum kreatif orang lain untuk kepentingan pribadi atau tujuan lain, sering kali tanpa memberikan kontribusi orisinal yang signifikan. Tak jarang pembonceng itu melupakan peringatan pemilik ide yang sebenarnya demi keamanan dari hal-hal yang membuat fatal.[]


"๐’๐š๐ญ๐ฎ ๐๐ข ๐š๐ง๐ญ๐š๐ซ๐š ๐›๐ž๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐ก๐จ๐ซ๐ฆ๐š๐ญ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ ๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ง๐š๐ซ๐ง๐ฒ๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ค๐š๐ญ๐š๐ค๐š๐ง ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง." 

(Bryant H. McGill)


Dari buku "Tales for Change" Seni Berkisah untuk Pengembangan SDM dan Organisasi



SELEMBAR KERTAS PUTIH

 "๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’– ๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’Œ๐’†๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’-๐’Œ๐’†๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’‚๐’Š๐’. ๐‘จ๐’๐’…๐’‚ ๐’‰๐’‚๐’“๐’–๐’” ๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘ ๐’„๐’–๐’Œ๐’–๐’‘ ๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’‚๐’• ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’†๐’๐’…๐’Š๐’“๐’Š."

(Hyman G.Rickover) 


Ada seekor beruang kecil itu yang suka mencari-cari kesalahan. Dengan mudah, ia mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya.

Yang lebih fatal adalah dia melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada teman atau orangtuanya.


Saat ia terjatuh di kamar mandi, ia berkata 

"Ayah meletakkan ember di sembarang tempat, sehingga aku terpeleset dan jatuh"


Kepada seekor anak yang terkilir kakinya beruang kecil itu berkata: "Itu karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan harus hati-hati," 


Suatu saat, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.

"Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku harus mengusir lebah-lebah itu, agar madunya kuperoleh!"


la pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Merasa terusik, maka lebah-lebah itu menyerang anak beruang sehingga lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu.. dua.. tiga, lebah-lebah sempat menyengatnya. Beruntung, ada sebuah sungai dan beruang kecil itu segera terjun dan menyelam.

Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.


"Mengapa Ayah tidak menolongku? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah!" kata beruang kecil kepada ayahnya 


Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.

"Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?"


"Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab anak beruang.


Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.


"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?"


"Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!" Jawab anak beruang


"Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."


Ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.[]


"๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ค๐ข๐ฆ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง ๐๐š๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฌ๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข, ๐ก๐š๐ญ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐š๐ข ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐š."

(Swami Dhyan Giten) 


Dari buku 

"Inspirasi tanpa Menggurui"


⁽แต‰แตˆโฑหขโฑ โฑโฟหขแต’แตโฟโฑแตƒ⁾



Minggu, 16 November 2025

๐‘ช๐‘จ๐‘น๐‘ท๐‘ฌ ๐‘ซ๐‘ฐ๐‘ฌ๐‘ด

  "๐Š๐ž๐ฆ๐ž๐ง๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ ๐ฆ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง ๐›๐š๐ ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐จ๐ฅ๐š๐ค ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐›๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐›๐ž๐ซ๐ฃ๐ฎ๐š๐ง๐ ."

(Napoleon Hill)


John Keating, adalah seorang guru pada sebuah sekolah berasrama. Semua siswa di sekolah ini adalah laki-laki.

Kepada para belia ini, Keating mengatakan sudah tidak tahu lagi apa impian serta ambisi mereka sendiri. Mereka secara otomatis tinggal meneruskan program-program dan harapan-harapan orang tua mereka bagi mereka. Mereka bercita-cita menjadi dokter, pengacara, dan bankir semata-mata karena profesi itulah yang didiktekan orang tua mereka. Namun remaja-remaja berjiwa mentah ini nyaris tidak dibekali pemikiran apa pun tentang apa yang menjadi dorongan hati mereka sendiri yang perlu diekspresikan.

Mr.Keating lalu membawa kelompok remaja laki-laki itu ke lobi sekolah di mana sebuah almari pajangan memamerkan foto-foto lulusan dari kelas-kelas terdahulu. "Coba perhatikan foto-foto itu," kata Keating kepada para remaja itu. "Anak-anak muda yang kalian lihat itu memiliki nyala api di matanya seperti kalian juga. Mereka berangan-angan untuk menggemparkan dunia dan menciptakan sesuatu yang hebat dalam kehidupan mereka Itu tujuh puluh tahun yang lampau. Kini mereka semua sudah mati. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar mengejar impian-impian mereka sendiri? Apakah mereka mengupayakan apa yang ingin mereka capai?" Kemudian Mr.Keating mencondongkan tubuhnya ke arah mereka dan berbisik dengan jelas, "Carpe Diem! Rebut hari Ini!"


Semula murid-murid itu tidak dapat memahami maksud guru yang aneh tersebut. Namun tak lama kemudian mereka mulai merenungkan makna penting dari kata-katanya. Mereka menjadi menghargai dan memuja Mr.Keating, yang memberi mereka sebuah wawasan baru- atau mengembalikan wawasan-wawasan mereka semula.

Setelah Mr. Keating mengajar di kelas mereka, pembelajaran kelas yang semula kaku menjadi cair suasananya. Cara Mr. Keating mengajar para pemuda itu menjadi bersemangat. 

Di setiap pembelajarannya, Mr. Keating selalu memberikan semangat kepada muridnya untuk selalu melakukan perubahan yang positif dalam hidup.[]


 "๐‘ป๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’•๐’‚๐’๐’•๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’– ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’“๐’‚๐’”๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’ˆ๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’Š๐’“๐’‚๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’."

(George S Patton)


(film "Dead Poets Society")


Dari buku "Chicken Soup for The Soul"



Rabu, 12 November 2025

MENIKMATI PROFESI GURU

"๐’๐ž๐ง๐ข ๐ญ๐ž๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ ๐ข ๐ ๐ฎ๐ซ๐ฎ ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐ค๐ข๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ค๐ž๐ ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ซ๐š๐š๐ง ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ž๐ค๐ฌ๐ฉ๐ซ๐ž๐ฌ๐ข ๐ค๐ซ๐ž๐š๐ญ๐ข๐Ÿ ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ญ๐š๐ก๐ฎ๐š๐ง."

(๐€๐ฅ๐›๐ž๐ซ๐ญ ๐„๐ข๐ง๐ฌ๐ญ๐ž๐ข๐ง)


Berprofesi sebagai seorang guru, apalagi guru Taman Kanak-kanak?

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya.

Guru adalah sebuah cita-cita yang mungkin sudah jarang diminati anak-anak zaman sekarang.

Besarnya gaji yang diterima seorang guru menjadi pikiran saat saya masih kecil. Capek fisik dan perasaan dengan murid-murid yang nakal, gajinya juga kecil. Maka dari itu cita-cita saya waktu kecil adalah bukan ingin jadi guru, tetapi jadi dokter.


Dengan jurusan di SMA yang mengarah ke cita-cita tersebut, saya yakin bisa lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Nyatanya cita-cita saya itu harus kandas. Saya tidak lulus ujian masuk.

Ditengah perasaan frustrasi dan tidak mau kuliah, keluarga cukup meyakinkan saya untuk mengisi waktu dengan berkuliah di jurusan lain sambil menunggu ujian tahun berikutnya.

Begitu ada pilihan jurusan bahasa Inggris yang memang saya menyukainya, saya langsung ambil.

Rupanya saya tidak paham jurusan bahasa inggris itu adalah dibawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya pun menikmati proses belajar di kampus dan bertekad setelah lulus saya akan lanjut belajar kedokteran. 

Rasa kaget campur takut menghantui saat saya tahu bahwa saya harus praktek mengajar untuk anak-anak SMP dan SMA Untuk hal ini, saya sampai tidak bisa tidur nyenyak selama berbulan-bulan.

Barangkali saya terkena hukum karma, karena saya biasa ikut-ikutan teman ngerjain guru saat sekolah... Tapi Tuhan memang memiliki cara yang misterius. Saya menikmati setiap prosesnya dan seusai praktek mengajar, saya langsung menerima tawaran mengajar meskipun saat itu belum lulus kuliah. Dan yang luar biasa, saya begitu menikmati profesi ini.


Kini, enam belas tahun sudah saya menjalani profesi sebagai seorang guru. Saya sudah memiliki pengalaman mengajar tingkat TK sampai Universitas. Sekarang saya tahu, kenapa para guru begitu mencintai pekerjaan ini, mengapa mereka begitu setia dan sabar membimbing anak-anak meskipun mereka super nakal. Itu semua karena mereka mengerjakannya dengan hati yang tulus, karena itu adalah panggilan jiwa mereka. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata, tapi saya merasakan dan mengalaminya.


Sesulit apa pun rintangan yang kita hadapi, sekecil apa pun upah yang kita terima jika mengerjakannya dengan hati yang tulus semua terasa ringan dan berharga. Melihat murid-murid dari tidak bisa menjadi bisa, melihat mereka bertumbuh kembang menjadi manusia berguna adalah kepuasan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Kelucuan, keluguan dan kenaifan anak-anak kadang menjadi pecutan bagi saya untuk selalu merefleksi diri. Mereka bukan hanya belajar dari saya tapi saya juga banyak belajar dari tingkah laku mereka.


Intinya, kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk kita. Jika rencana tidak sesuai dengan yang kita inginkan artinya Tuhan memiliki rencana lain yang lebih indah. Dan jika kita melakukan suatu pekerjaan apa pun itu, lakukanlah dengan hati yang tulus karena dengan begitu kita bisa menjalankannya dengan semangat, dan rintangan apa pun bisa kita hadapi dengan bijak. Dalam soal materi saya percaya bahwa kebaikan orang-orang kepada saya adalah upah dan bayaran Tuhan kepada saya.[]


"๐™ถ๐šž๐š›๐šž ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐šœ๐šŠ๐š๐šž-๐šœ๐šŠ๐š๐šž๐š—๐šข๐šŠ ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š”๐šŽ๐š‘๐š’๐š•๐šŠ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š๐š’๐š๐šž๐š› ๐š”๐šŠ๐š›๐šŽ๐š—๐šŠ ๐šŠ๐š—๐šŠ๐š” ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐š•๐šŠ๐š’๐š—."

(Nicholas A.Ferroni)



(๐‘ซ๐’Š๐’Œ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’๐’†๐’‰ ๐‘บ๐’–๐’”๐’‚๐’ ๐‘ฉ๐’‚๐’„๐’‰๐’•๐’Š๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’– "๐‘ฒ๐’†๐’๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ฒ๐’†๐’„๐’Š๐’ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ฒ๐’‚๐’๐’‚๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’Š ๐’…๐’‚๐’ ๐Ÿ๐Ÿ— ๐‘ฒ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰ ๐‘ฐ๐’๐’”๐’‘๐’Š๐’“๐’‚๐’•๐’Š๐’‡ ๐‘จ๐’๐’‚๐’Œ ๐‘ฐ๐’๐’…๐’๐’๐’†๐’”๐’Š๐’‚")




MENGAJAR TANPA KEKERASAN

 "๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ช, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช." 

(Ki Hadjar Dewantara)


Barangkali sudah membudaya di Maluku, kekerasan berbanding lurus dengan pengajaran. Jarang sekali ada yang percaya dengan kekuatan pengajaran tanpa kekerasan. Setiap aku pergi ke rumah siswa, bertemu dengan orang tua mereka, banyak yang menitipkanku sebuah amanah. Aku diberi pesan yang mereka anggap paling mujarab untuk mengatasi kenakalan anaknya.


Orang tua berpesan, "Ibu, pukul dia saja."

Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka, sambil berkata sehalus mungkin dan hati-hati: "Maaf Ibu dan bapak, saya tidak tega. Saya akan membimbing mereka, sampai mereka mau belajar."

Setelah aku pamit pulang, rasanya langkah kaki ini berjalan lebih cepat. Aku selalu pulang dengan semangat yang besar. Pesan itu selalu jadi bensin yang menyulut kobaran semangatku untuk terus berproses.

Aku akan tunjukkan anaknya akan lebih pintar tanpa kekerasan. Aku memilih untuk tidak berhenti, lalu balik badan. Mari berproses!


Sabtu, 4 Maret 2012.

SD Kristen Werain menggelar pertemuan orang tua untuk menjalin komunikasi orang tua dan guru 

Tak disangka, di pertemuan ini namaku disebut-sebut oleh orang tua murid yang menyampaikan pendapatnya mengenai cara mengajarku yang menurut istilahnya 'kejawa-jawaan'.

Pria yang rupanya seorang guru SMP itu berbicara panjang lebar soal karakter. "Karakter orang Jawa itu bisa kita kasih tahu sedikit, dia sudah menurut. Tetapi karakter orang Maluku ini, dia harus pake rotan kalau mau menurut. Kalau Ibu tetap pertahankan cara mengajar Ibu yang seperti ini, pendidikan di desa ini tidak akan maju. Kita semua harus sepakat di dalam ruangan ini - bahwa anak kita harus diberikan hukuman jika bersalah. Tidak bisa dibiarkan" ucapnya dengan lantang.

Rupanya tanggapan para hadirin mengisyaratkan persetujuan. Banyak dari mereka yang mengangguk-angguk.

Rupanya Bapak kepala sekolahku sependapat denganku. Beliau memberikan tanggapan atas pernyataan dan pertanyaan dari orang tua murid. Beliau menegaskan bahwa yang terpenting bukan memukul atau tidak, tetapi bagaimana cara guru dalam mengajar dan juga cara guru dalam memberikan peringatan.

Dari beliaulah datang bukti bahwa orang Maluku tidak semuanya memiliki sikap keras dan mengerasi orang lain. Beliau adalah sosok yang sangat menghormati orang lain dan mampu bersikap tegas meski tetap menghargai orang tersebut.

Dalam rapat-rapat guru, tidak jarang beliau mengingatkan kami, para guru, untuk mengajari anak dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. Jarang ada yang percaya pendidikan tanpa kekerasan itu bisa berhasil. Tetapi yang perlu diingat, ketidakpercayaan ini tidak berlaku di sekolahku.


Pelan-pelan sekolahku menjadi tempat yang damai. Hasilnya sudah mulai terlihat. Para guru menjadi semakin percaya. Sambil guru-guru berproses dalam kelas, kepala sekolah berperan sebagai pengawas dan motivator untuk tetap istiqomah. Tidak ada yang tidak mungkin menurut kami.


Lalu apakah pendidikan tanpa kekerasan itu bisa berhasil? 

Kami percaya bisa.[]


 "๐™ฐ๐š—๐šŠ๐š” ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š™๐šŽ๐š—๐š’๐š›๐šž ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š’๐š”, ๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š‹๐šŽ๐š›๐š’๐š”๐šŠ๐š—๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š–๐šŽ๐š›๐šŽ๐š”๐šŠ ๐šœ๐šŽ๐šœ๐šž๐šŠ๐š๐šž ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š‘๐šŽ๐š‹๐šŠ๐š ๐šž๐š—๐š๐šž๐š” ๐š๐š’๐š๐š’๐š›๐šž."


(๐‘ซ๐’Š๐’Œ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’๐’†๐’‰ ๐‘จ๐’“๐’–๐’Ž ๐‘ท๐’–๐’”๐’‘๐’Š๐’•๐’‚๐’“๐’Š๐’๐’Š ๐‘ซ๐’‚๐’“๐’Ž๐’Š๐’๐’•๐’, ๐‘ท๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’‹๐’‚๐’“ ๐‘ด๐’–๐’…๐’‚ ๐‘บ๐‘ซ๐‘ฒ ๐‘พ๐’†๐’“๐’‚๐’Š๐’ ๐‘ฒ๐’‚๐’ƒ.๐‘ด๐’‚๐’๐’–๐’Œ๐’– ๐‘ป๐’†๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’‚๐’“๐’‚ ๐‘ฉ๐’‚๐’“๐’‚๐’•, ๐‘ด๐’‚๐’๐’–๐’Œ๐’– ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’– "๐‘ท๐’‚๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’Š๐’๐’‚๐’ ๐‘ฏ๐’‚๐’•๐’Š ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐‘ฉ๐’†๐’“๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š")




PERMEN PENYELAMAT

 "๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐ฉ๐ข๐ค๐ข๐ซ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ซ๐š๐ก, ๐ฃ๐ข๐ค๐š ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐ฆ๐š๐ฎ ๐›๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐จ๐›๐š. ๐’๐ž๐ฅ๐š๐ฆ๐š ๐ค๐ž๐ข๐ง๐ ๐ข๐ง๐š๐ง ๐ข๐ญ๐ฎ ๐š๐๐š, ๐“๐ฎ๐ก๐š๐ง ๐ฉ๐š๐ฌ๐ญ๐ข ๐š๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ฎ๐ง๐ฃ๐ฎ๐ค๐ค๐š๐ง ๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š."


Usai Perang Dunia II yang penuh kekacauan pada akhir 1940-an, sebuah keluarga imigran di New York mencoba menghubungi kerabat mereka yang masih hidup di Hungaria.

Keadaan yang kacau usai peperangan, pos tidak bisa dipercaya, catatan dimusnahkan atau tidak akurat atau hilang membuat komunikasi tidak jelas. Perlu waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan agar surat bisa sampai di Eropa dan sampai di tangan penerimanya. Demikian pula balasannya, juga perlu waktu selama itu. Sulit sekali untuk memperoleh informasi yang bisa diandalkan, atau malahan tidak mungkin.


Keluarga imigran itu ingin tahu apakah nasib kerabat mereka masih hidup dan bertahan dari perang yang terjadi.

Lalu, datanglah sepucuk surat dalam bahasa Hungaria, dari Paman Lazlo yang tinggal di sebuah kota kecil dekat Budapest. Surat yang ditulis pada kertas tisu yang kumal itu menceritakan kesulitan mereka akan makanan, sulitnya mencari pekerjaan dan bertahan hidup akibat perang.

Keluarga itu lalu memutuskan untuk mengirimkan bahan-bahan perbekalan kebutuhan hidup kepada saudara sepupu, bibi dan paman mereka agar mereka bisa bertahan hidup. Mereka mencoba membayangkan apa yang diperlukan dan yang penting, tetapi, karena mereka tidak mengalami perang secara langsung, tidaklah mudah bagi mereka untuk memilih barang-barang yang akan dikirimkan. Segera dikumpulkan bahan-bahan seperti daging kaleng, sayuran, dan coklat. Tak lupa juga kertas toilet dan perban.

Akhirnya, paket kiriman yang terdiri atas beberapa karton dan diisi penuh dengan berbagai macam jenis barang siap untuk dikemas. Disela-sela tempat di setiap karton diisi dengan barang-barang kecil apa saja yang mereka miliki: permen, saputangan, kertas surat, dan pensil.


Akhirnya, karton-karton tersebut ditutup dan dibungkus rapat-rapat dengan kertas berwarna coklat dan tali yang kuat agar tahan dalam menempuh perjalanan yang sangat jauh dan lama. Dari kantor pos, karton-karton tersebut memulai perjalanannya yang jauh menuju ke negara tujuan.

Sebulan, dua bulan tidak ada kabar tentang paket yang mereka kirimkan atau surat dari penerima.

Tidak adanya kabar-berita dari keluarga mereka yang berada di tempat yang jauh membuat mereka menderita.

Headline surat kabar semakin membuat mereka khawatir sewaktu surat-surat kabar waktu itu menulis tentang lembaga bantuan Marshall Plan dan yang akan memberi bantuan dalam membangun kembali negara-negara yang porak-poranda akibat perang. Kisah-kisah beredar mengenai orang-orang yang kelaparan yang mendekati ajal mereka dan berita-berita yang lebih mengenaskan mengenai musim dingin yang hebat di Eropa serta menipisnya bahan makan membuat keluarga tersebut semakin sedih.


Tidak putus asa, keluarga tersebut mengirimkan paket lagi, hampir setiap minggu, meskipun mereka tidak memperoleh balasan apakah paket-paket tersebut diterima atau tidak oleh orang-orang yang mereka cintai.


Akhirnya, sebuah surat lainnya mereka terima dari Paman Lazlo. Surat tersebut telah terlipat-lipat, kumal, dan sobek di pinggirnya, tetapi masih bisa dibaca.

"๐‘บ๐’†๐’‘๐’–๐’‘๐’–๐’Œ๐’– ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’†๐’“๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰," tulisnya "๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’•๐’Š๐’ˆ๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’Œ๐’†๐’• ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’– ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚๐’Œ๐’–.

"๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚ ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’–๐’•๐’‚๐’๐’ˆ ๐’ƒ๐’–๐’…๐’Š ๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’‚๐’•๐’‚๐’” ๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ-๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‰๐’‚๐’“๐’ˆ๐’‚ ๐’•๐’†๐’“๐’”๐’†๐’ƒ๐’–๐’•. ๐‘ฒ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’•๐’‚๐’‰๐’– ๐’ƒ๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’•๐’†๐’‘๐’‚๐’•๐’๐’š๐’‚ ๐’˜๐’‚๐’Œ๐’•๐’– ๐’Œ๐’†๐’…๐’‚๐’•๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ-๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Š๐’•๐’–. ๐‘ซ๐’Š ๐’”๐’Š๐’๐’Š ๐’‰๐’‚๐’Ž๐’‘๐’Š๐’“ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’…๐’‚ ๐’Ž๐’‚๐’Œ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐‘จ๐’๐’๐’‚ ๐’”๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’…๐’†๐’Ž๐’‚๐’Ž ๐’•๐’†๐’“๐’–๐’”-๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’–๐’”. ๐‘ด๐’‚๐’Œ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‚๐’“๐’•๐’Š ๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚ ๐’…๐’Š ๐’”๐’Š๐’๐’Š. ๐‘บ๐’‚๐’š๐’‚ ๐’‰๐’‚๐’“๐’–๐’” ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’Œ๐’–๐’Š ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’‹๐’–๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’…๐’Š ๐’‘๐’‚๐’”๐’‚๐’“ ๐’ˆ๐’†๐’๐’‚๐’‘ ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’š๐’‚๐’“ ๐’”๐’†๐’˜๐’‚ ๐’“๐’–๐’Ž๐’‚๐’‰."

 Selanjutnya, surat itu menceritakan tentang setiap barang yang ada di dalam karton dan untuk apa saja barang-barang itu. Lalu terjadilah misteri itu.

"๐‘ผ๐’„๐’‚๐’‘๐’‚๐’ ๐’•๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’“๐’‚๐’”๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ๐’๐’‚๐’‰ ๐’„๐’–๐’Œ๐’–๐’‘ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’. ๐‘บ๐’–๐’๐’Š๐’• ๐’”๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’‘๐’†๐’“๐’๐’๐’†๐’‰ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’…๐’Š ๐’”๐’Š๐’๐’Š.

๐‘บ๐’†๐’‘๐’–๐’‘๐’– ๐‘ฎ๐’†๐’”๐’‰๐’†๐’“ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’†๐’๐’…๐’†๐’“๐’Š๐’•๐’‚ ๐’”๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’‰๐’–๐’-๐’•๐’‚๐’‰๐’–๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‹๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’‚๐’๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’‚๐’๐’•๐’– ๐’”๐’†๐’“๐’•๐’‚ ๐’๐’–๐’•๐’–๐’•๐’๐’š๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’ƒ๐’†๐’๐’ˆ๐’Œ๐’‚๐’Œ ๐’Œ๐’Š๐’๐’Š ๐’‰๐’‚๐’Ž๐’‘๐’Š๐’“ ๐’๐’๐’“๐’Ž๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’Š. ๐‘บ๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’‘๐’–๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’–๐’๐’ˆ๐’Œ๐’– ๐’Ž๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’”๐’–๐’…๐’‚๐’‰ ๐’”๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’‰ ๐’”๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’”๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’”๐’†๐’‘๐’†๐’“๐’•๐’Š ๐’‰๐’‚๐’๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’Š๐’๐’Š ๐’…๐’Š๐’…๐’†๐’“๐’Š๐’•๐’‚ ๐‘ณ๐’Š๐’›๐’‚๐’ƒ๐’†๐’•๐’‚.

๐‘ฒ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’– ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’†๐’ƒ๐’Š๐’‰ ๐’ƒ๐’‚๐’๐’š๐’‚๐’Œ ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’‘๐’†๐’“๐’•๐’Š ๐’Š๐’•๐’– ๐’Œ๐’‚๐’“๐’†๐’๐’‚ ๐’”๐’‚๐’‚๐’• ๐’Š๐’๐’Š ๐’‰๐’‚๐’Ž๐’‘๐’Š๐’“ ๐’‰๐’‚๐’ƒ๐’Š๐’”.

๐‘บ๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š, ๐’•๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰. ๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’Ž๐’†๐’๐’„๐’Š๐’๐’•๐’‚๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’…๐’๐’‚ ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’”๐’‚๐’•๐’– ๐’”๐’‚๐’‚๐’• ๐’๐’‚๐’๐’•๐’Š ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’†๐’Ž๐’– ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š."


Surat itu dibaca ulang kembali oleh keluarga di perantauan sambil mengingat-ingat obat apakah yang dimasukkan kedalam paket? Rasanya saat itu mereka tidak memasukkan obat-obatan dalam paket yang dikirimkan.

Maka dibalaslah surat tersebut sambil menanyakan obat yang mana yang minta dikirim lagi.setelah menunggu dua bulan, datanglah surat balasan 

"๐‘บ๐’†๐’‘๐’–๐’‘๐’–๐’Œ๐’– ๐’•๐’†๐’“๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰," Paman Lazlo memulai, "๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’†๐’“๐’”๐’š๐’–๐’Œ๐’–๐’“ ๐’Ž๐’†๐’๐’…๐’‚๐’‘๐’‚๐’• ๐’Œ๐’‚๐’ƒ๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š. ๐‘บ๐’†๐’‹๐’‚๐’Œ ๐’•๐’Š๐’ˆ๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’Œ๐’†๐’• ๐’‘๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’Ž๐’‚, ๐’…๐’–๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’Œ๐’†๐’• ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’•๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚, ๐’…๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’Ž๐’–๐’…๐’Š๐’‚๐’ ๐’•๐’Š๐’ƒ๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’”๐’–๐’“๐’‚๐’•๐’Ž๐’–. ๐‘บ๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š, ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’–๐’‚๐’“ ๐’ƒ๐’Š๐’‚๐’”๐’‚. ๐‘ป๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’…๐’‚ ๐’‘๐’†๐’•๐’–๐’๐’‹๐’–๐’Œ ๐’‘๐’†๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’–๐’๐’‚๐’‚๐’ ๐’Œ๐’‰๐’–๐’”๐’–๐’” ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’•๐’†๐’“๐’”๐’†๐’ƒ๐’–๐’•, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’‰๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’Š๐’“๐’‚-๐’Š๐’“๐’‚ ๐’”๐’‚๐’‹๐’‚ ๐’…๐’๐’”๐’Š๐’”๐’๐’š๐’‚. ๐‘ซ๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’‹๐’†๐’Ž๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’‚๐’”๐’‚ ๐‘ฐ๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’“๐’Š๐’” ๐’Œ๐’† ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’‚๐’”๐’‚ ๐‘ฏ๐’–๐’๐’ˆ๐’‚๐’“๐’Š๐’‚ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’•๐’๐’‚๐’‰ ๐’”๐’–๐’๐’Š๐’• ๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’“๐’†๐’๐’‚ ๐’‰๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐‘บ๐’‚๐’๐’…๐’๐’“ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’‘๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“๐’Š๐’๐’š๐’‚ ๐’…๐’Š ๐’”๐’†๐’Œ๐’๐’๐’‚๐’‰. ๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’ƒ๐’†๐’“๐’–๐’๐’•๐’–๐’๐’ˆ ๐’”๐’†๐’ƒ๐’‚๐’ƒ ๐’…๐’Š๐’‚ ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’‹๐’†๐’Ž๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’• ๐’•๐’†๐’“๐’”๐’†๐’ƒ๐’–๐’•. ๐‘ถ๐’ƒ๐’‚๐’• ๐’Š๐’•๐’– ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ '๐‘ณ๐’Š๐’‡๐’† ๐‘บ๐’‚๐’—๐’†๐’“๐’”'. ๐‘จ๐’Œ๐’– ๐’Ž๐’๐’‰๐’๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’๐’ƒ๐’‚๐’• ๐’Š๐’•๐’– ๐’”๐’†๐’„๐’†๐’‘๐’‚๐’• ๐’Ž๐’–๐’๐’ˆ๐’Œ๐’Š๐’. ๐‘บ๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰, ๐‘ณ๐’‚๐’›๐’๐’."


Beberapa saat kemudian keluarga imigran itu memenuhi paket dengan gulungan permen Amerika yang terkenal itu, Life Savers. Rupanya terjemahan harfiahnya telah mengubah permen favorit Amerika itu menjadi sumber harapan yang besar...[]


“๐™บ๐šŠ๐š–๐šž ๐š™๐šž๐š—๐šข๐šŠ ๐š”๐šž๐šŠ๐šœ๐šŠ ๐šŠ๐š๐šŠ๐šœ ๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š—๐š–๐šž—๐š‹๐šž๐š”๐šŠ๐š— ๐šŠ๐š๐šŠ๐šœ ๐š™๐šŽ๐š›๐š’๐šœ๐š๐š’๐š ๐šŠ-๐š™๐šŽ๐š›๐š’๐šœ๐š๐š’๐š ๐šŠ ๐š๐š’ ๐š•๐šž๐šŠ๐š› ๐šœ๐šŠ๐š—๐šŠ. ๐š‚๐šŠ๐š๐šŠ๐š›๐š’๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š’๐š—๐š’, ๐š๐šŠ๐š— ๐š”๐šŠ๐š–๐šž ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐šŽ๐š–๐šž๐š”๐šŠ๐š— ๐š”๐šŽ๐š”๐šž๐šŠ๐š๐šŠ๐š—.”

(Marcus Aurelius)


Dari buku

 "A 4th Course of Chicken Soup for the Soul" 70 Kisah untuk Membuka Hati dan Mengobarkan Semangat Kembali




BELAJAR DARI AIR

"๐‘พ๐’‚๐’Œ๐’•๐’– ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’–๐’๐’Š๐’• ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’‚๐’‰ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’Ž๐’‚, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’–๐’‚๐’• ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’๐’– ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’‰๐’‚๐’,"

(Robert Schuller)


Seorang pemuda datang menemui Guru Zen Yuantong untuk menyampaikan keluhannya. Pemuda itu merasa kurang berhasil dalam karier meskipun pendidikannya cukup tinggi.


Usai mendengar keluhan pemuda itu pemuda itu, Guru Zen mengambil air dari tempayan dengan gayung. Saat memegang gayung berisi air, ia bertanya kepada pemuda tersebut, "Apa bentuk air ini?"

"Air mana ada bentuknya?" sahut pemuda itu.

Tanpa menjawab, Guru Zen menuangkan air ke dalam gelas dan vas bunga. Air juga dituangkan ke dalam ember berisi pasir. Dengan cepat air terserap bercampur pasir dan tak tampak lagi bentuknya. Kemudian, sambil memegang pasir basah itu, Guru Zen pun berkata, "Lihatlah, air ini hilang begitu saja. Ini juga sebuah kehidupan."


Pemuda itu mencoba menangkap apa yang ingin diungkapkan sang guru. Dari peragaan tersebut ia mulai dapat menangkap maknanya. "Saya mengerti. Guru sedang mengajari saya bahwa manusia harus bersikap seperti air yang dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan tempat ia berada. Air juga bisa hilang lenyap begitu saja, artinya manusia bisa datang dan pergi begitu cepat dan tak seorang pun yang dapat mengubahnya," kata si pemuda panjang lebar mencoba menguraikan makna peragaan air itu.

Kemudian Guru Zen berdiri dan berjalan menuju halaman depan vihara. Pemuda itu mengikutinya, masih dengan penuh tanda tanya di kepala. Lalu Guru Zen membungkuk dan menyentuh salah satu batu yang juga berfungsi sebagai anak tangga. Pemuda itu melihat ada lekukan di atas batu tersebut. "Apabila hujan turun, air hujan akan mengalir jatuh dari atap ke bawah. Ini adalah hasil dari tetesan air hujan itu," kata Guru Zen.


Pemuda itu memikirkan makna baru atas kondisi batu tersebut. "Itu artinya manusia harus menyesuaikan dengan keadaan. Tetapi, sifat air yang lembut justru mampu membentuk batu yang begitu keras, bahkan dapat menghancurkannya," kata pemuda itu beranalisis. "Benar sekali. Tetesan air akan membuat lubang di batu itu suatu hari nanti," kata sang guru mengakhiri


                       -o0o-


Untuk menjadi manusia yang kuat dan sukses. Sebelumnya kita harus selalu menyadari bahwa proses menuju kesuksesan di bidang tertentu sering kali penuh tantangan. Langkah yang paling jitu supaya lebih kuat menghadapi tantangan untuk sampai ke tujuan adalah bersikap fleksibel seperti air. 

Oleh sebab itu, pelajarilah kesabaran agar kita mampu bersikap lembut. Kelembutan tak jarang mampu menaklukkan tantangan yang paling dahsyat sekalipun, sebagaimana air dengan sifatnya yang lembut ternyata juga mampu melubangi batu atau bahkan batu karang sekalipun.[]


"๐Œ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ง๐๐š๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ง๐š๐ซ-๐›๐ž๐ง๐š๐ซ ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐š๐ค๐š๐ง ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ ๐๐ข ๐ฆ๐š๐ง๐š ๐ข๐š ๐๐ข๐ญ๐ž๐ฆ๐ฉ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง."

(Hellen Keller)


Dari buku "Unleash Your Inner Power with Zen"




PERAMPOK DAN BOCAH BUTA

 "๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ...