"๐๐๐ฒ๐ ๐๐๐ฉ๐๐ญ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐๐ฃ๐๐ซ๐ค๐๐ง ๐๐๐ซ๐ ๐ฆ๐๐ซ๐๐ข๐ก ๐๐ฉ๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ข๐ง๐ ๐ข๐ง๐ค๐๐ง ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ. ๐๐ค๐๐ง ๐ญ๐๐ญ๐๐ฉ๐ข, ๐ฌ๐๐ฒ๐ ๐ญ๐ข๐๐๐ค ๐๐๐ฉ๐๐ญ ๐ฆ๐๐ง๐๐ฆ๐ฎ๐ค๐๐ง ๐ฌ๐๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ฆ๐ฉ๐ฎ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐๐ญ๐๐ค๐๐ง ๐๐ฉ๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฆ๐๐ซ๐๐ค๐ ๐ข๐ง๐ ๐ข๐ง๐ค๐๐ง."
(Mark Twain)
Tidak lama setelah guru masuk kelas, beberapa siswa mengatakan bahwa ujiannya diundur minggu depan saja, jangan dua hari lagi.
"Saya akan merubah jadwal ujian sesuai permintaan, jika kalian bisa mengikuti kuis empat instruksi yang saya berikan. Akan tetapi, jika ada dari kalian yang tidak dapat mengikutinya meskipun hanya satu, maka kalian dinyatakan gagal. Bagaimana?"
Anak-anak saling berpandangan dengan perasaan bingung, tetapi akhirnya mereka bersedia dan segera mengambil alat tulis dan selembar kertas
"Tidak perlu," kembali guru itu berkata. "Ini bukan kuis tertulis, dan juga bukan tes lisan. Kalian hanya memerlukan jari tangan kalian." Anak-anak bertambah penasaran.
"Saya ingin kalian meletakkan tangan kanan mendatar di atas meja. Sekarang, tekuk jari tengah kalian ke dalam agar menyentuh telapak tangan".
Seketika itu mereka mampu melakukannya.
"Nah, sekarang perhatikan pernyataan berikut"
Guru itu melanjutkan, "Persamaan kuadrat mempunyai pangkat tertinggi variabel 2. Jika kalian berpikir bahwa pernyataan ini benar, angkat jempol kanan.
Anak-anak dengan bangga mengangkat jempol mereka dan jari lainnya tidak terangkat sedikitpun.
"Bagus!" kata guru itu. "Turunkan kembali jempolnya"
"Perkalian dua bilangan bulat negatif menghasilkan bilangan bulat positif" Pernyataan kedua kembali dilontarkan
"Jika pernyataan itu benar, angkat kelingking kalian." Dengan perlahan tapi pasti, mereka mengangkat kelingking. Setelah mengangkatnya, mereka menurunkan kembali kelingking di atas meja.
"Pernyataan ketiga. Mencari akar-akar persamaan kuadrat artinya mengganti variabel dengan bilangan yang sesuai. Jika pernyataan itu benar angkat telunjuk kalian." Anak-anak tidak percaya bahwa mereka begitu beruntung. Pernyataan itu begitu mudah! Setiap anak mengangkat telunjuk mereka dan mengembalikannya lagi kemeja.
"Pertanyaan terakhir... Ini adalah keberuntungan. Jika kalian melakukannya dengan benar, ujian jadi diundur minggu depan. "Salah satu penyelesaian persamaan kuadrat adalah dengan pemfaktoran. Jika pernyataan itu benar, angkat jari manis kalian."
Sebuah pernyataan yang mudah. Tapi....saat anak-anak akan mengangkat jari manisnya yang terjadi adalah hal tersebut tidak bisa dilakukan! Semakin keras mereka mencoba, hasilnya adalah sia-sia.
"Baiklah" kata guru selanjutnya, "soal terakhir tadi menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang diperlukan untuk menyiapkan ujian, tidak akan ada hasilnya kalau tidak belajar dengan keras. Ingat, bukan belajar untuk ujian, tetapi ujian untuk belajar" demikian guru menutup penjelasannya.
Orang-orang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjawab kata "mengapa" sebagai cara menunda tindakan. Mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah pekerjaan yang produktif. Kenyataannya, mereka takut dan tidak ingin mengakuinya. Oleh sebab itu jangan sampai jatuh ke dalam jebakan tersebut. Perjelaslah apa yang Anda inginkan dan lakukan tanpa menunda.[]
Dari buku
"HOW TO PERSUADE PEOPLE"