Selasa, 28 April 2026

20.000 BERBANDING 1

 "𝙼𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊𝚒 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚝𝚒𝚏 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚓𝚞 𝚔𝚎𝚜𝚞𝚔𝚜𝚎𝚜𝚊𝚗."

(Charles F.Glassman)

 

Ajahn Brahm, seorang, seorang biksu kelahiran Inggris, usai memberikan ceramah mendapat pertanyaan dari seorang nyonya 


"Saya baru tahu pagi ini bahwa suami saya berdusta kepada saya. Apakah saya harus bercerai? Saya tak bisa percaya padanya lagi.", katanya.

Saat ditanya apa pekerjaan ibu itu, ia bekerja di universitas. "Saya dosen matematika," katanya. "Sudah berapa lama Anda menikah?" tanya Brahm

"Tiga tahun," jawabnya.


Karena sang biksu lulusan Cambridge dan pernah belajar matematika, ia lalu berkata "Baiklah. Mari kita sama-sama menghitung probabilitasnya. Tiga tahun itu kurang lebih 1.000 hari. Logikanya jika selama tiga tahun menikah, suami Anda mengatakan rata-rata 20 hal kepada Anda setiap hari yang bisa saja benar atau salah. Jadi, sejak Anda menikah, ia sudah mengucapkan 20.000 pernyataan, dan kini ia berdusta untuk pertama kalinya. Menurut teori peluang, itu berarti bahwa kali berikutnya ia membuka mulutnya, ada kemungkinan 20.000 banding 1 bahwa ia berkata jujur."


Lanjut sang biksu, "Jadi apa maksud Anda dia tak bisa dipercaya? Peluang 20.000 banding 1 itu cukup bagus, bukan?"

"Apakah dengan satu dusta saja kita sudah tak bisa percaya kepada orang lain? Apakah satu dusta membuat mereka menjadi penipu?" Kata Brahm akhirnya.


Bias negatif atau Negativity bias mengacu pada kecenderungan seseorang untuk memperhatikan, mempelajari, dan menggunakan informasi negatif jauh lebih banyak daripada informasi positif. Akibatnya kesan pertama yang buruk bisa sangat sulit untuk dilupakan sehingga trauma masa lalu dapat memiliki efek jangka panjang bagi seseorang.


Meskipun bias negatif adalah bagian alami dari cara otak kita bekerja, tapi bias negatif yang dikelola dengan baik, dapat membantu kita untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik.

Usahakan untuk selalu memberikan keseimbangan dalam cara kita melihat dunia. Dengan pendekatan yang lebih positif, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, penuh rasa syukur, dan lebih memuaskan.[]


"𝑪𝒂𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒔𝒊 𝒑𝒊𝒌𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒏𝒆𝒈𝒂𝒕𝒊𝒇 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒊𝒌𝒊𝒓 𝒑𝒐𝒔𝒊𝒕𝒊𝒇"

(PS Jagadesh Kumar)




Sumber: 

1.Buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya  3"

2.https://focusonthefamily.id/mengungkap-negativity-bias-kenapa-pikiran-kita-lebih-fokus-pada-hal-negatif/

THANK- U- GRAM

 "𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘰𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 "𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩", 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱."

(Meister Eckhart)


Kepada ketiga anaknya,

Edward Kramer dari St. Louis, Missouri, mengajarkan sebuah prinsip yang sederhana tetapi bernilai tinggi.  Prinsip itu mengajarkan agar ketiga anaknya setiap hari mencari kebaikan dari tiga orang yang mereka kenal dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Orang tersebut mungkin adalah guru, tukang pos, polisi, siapa saja yang membuat mereka merasa bersyukur dan terbantu akan kehadiran mereka. Kemudian, ia mendorong agar anaknya menulis ucapan terima kasih yang sederhana untuk mengekspresikan rasa terima kasih mereka kepada orang-orang tersebut. Awalnya cukup susah untuk mendisiplinkan anak-anaknya melakukan hal itu, tapi seiring waktu yang berjalan mereka menjadi terbiasa dan mereka sangat kaget karena surat balasan yang diterima begitu hangat dan menyenangkan.

Dengan prinsip ini, Kramer kemudian mematenkan "Thank-U-Gram", sebuah kartu ucapan terima kasih berwarna kuning semacam telegram. Setelah ide ini diterima, dalam waktu 15 tahun, Kramer mampu memasok jutaan kartu tersebut. Orang-orang terkenal yang menggunakan ide ini antara lain Presiden Amerika Serikat Eisenhower, Bob Hope, Walt Disney, Henry Ford II. 

Dari sebuah ide sederhana tentang niat sang ayah untuk mengajarkan pentingnya mengucapkan terima kasih dan mencari kebaikan dari setiap orang yang melintas dalam hidup terbukti berhasil, karena Kramer sangat mengetahui apa yang paling dibutuhkan manusia, yaitu apresiasi.[]


"𝐀𝐩𝐫𝐞𝐬𝐢𝐚𝐬𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐈𝐭𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚."

(Voltaire)


Dari buku 

"CHAMP!ON" 101 Tip Motivasi & Inspirasi SUKSES Menjadi Juara Sejati



WISUDA DENGAN JAS PINJAMAN

 "𝚃𝚎𝚛𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 𝚔𝚎𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚝𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚙𝚎𝚗𝚍𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚊𝚗, 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚔𝚎𝚝𝚊𝚔𝚞𝚝𝚊𝚗."

(Francis Bacon)


Pukul 8 malam masih ada sebuah mangkok plastik berwarna merah di anak tangga warung Bu Sastro. Mangkok titipan lauk yang lain sudah diambil pemiliknya untuk makan malam di warung kecil jalan Pelesiran tersebut.

"Itu punya Josmar..." Kata Bu Sastro "Dia selalu datang meski malam sudah larut" Tegur Bu Sastro, saat ada pembeli akan mengambil mangkok titipan itu.


Saat datang dengan tubuh lelah dan perut kosong malam harinya, Josmar memasuki warung dengan tubuh yang limbung, Bu Sastro pun berseru khawatir "Eeee, hati-hati Josmar"

Kalau sudah demikian, maka biasanya Ibu akan buru-buru mengeluarkan nasi hangat dan disajikan langsung dengan dada ayam pedas yang sudah disimpankannya buat Josmar.

"Ayo makan segera! Kamu kecapekan belajarnya. Jangan lupa makan!" Ibu selalu berpesan demikian. Bu Sastro memang selalu menyisihkan 1 potong dada ayam pedas untuknya.

 

Josmar Parhusip, mahasiswa angkatan '82 asal Medan yang berambut keriting, bertubuh pendek bulat, dan berkulit hitam ini tidak jarang terlihat pucat dan gelisah. Dia akan menyantap makanannya sambil duduk termangu. Ibu Sastro tahu itu pertanda bahwa Josmar sedang berada dalam puncak kelelahannya.

"Mau dibuatkan teh panas manis supaya badannya enakan?" Bu Sastro akan menawarkan begitu kepadanya. Beliau sudah begitu mengenalnya, sehingga tahu bahwa "wajah pucat kelelahan" ini hanya terjadi ketika Josmar belajar tiada henti. Dia terus belajar sehingga memaksakan tubuhnya bekerja terlalu keras melebihi kapasitasnya.


Sambil makan, dia bercerita dengan bangga tentang ibunya 

yang berprofesi sebagai bidan yang bekerja keras di Medan. Ibu Josmar itu bekerja keras membanting tulang begitu agar Josmar bisa terus bersekolah setinggi-tingginya.


Memiliki anak yang diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, tentunya menimbulkan rasa bangga bagi sang Ibu.

Untuk itu, kedua ibu dan anak itu harus terus berusaha menyelesaikan perjuangan yang berat.

Tinggal di kontrakan yang agak kumuh dan sangat sederhana di pinggir kali Cikapayang pun tak menjadi soal bagi Josmar.

"Saya cuma perlu tempat buat tidur saja kok, Bu. Belajar pun bisa saya lakukan di kampus" jawabnya saat ditanya.


1986

Pagi itu Josmar berangkat untuk menghadapi ujian sidang sarjana. Bu Sastro melepasnya dengan doa-doa seperti melepas anaknya sendiri pergi berjuang. Perut Bu Sastro sepanjang setengah hari itu agak mulas dan terasa lemas tidak karuan, menanti bagaimana kabar dari mahasiswa jurusan Elektro ITB itu.


Ketika Josmar tampak memasuki warungnya, dia tetap berjalan dengan tubuh yang agak oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Hanya saja kali ini wajahnya penuh raut kegembiraan, bukan pucat kelelahan. Bu Sastro segera tahu bahwa seorang lagi Insinyur Elektro telah dilahirkan di negeri Indonesia ini.


Pada hari yang lain, Josmar berangkat pagi menuju acara wisuda sarjana ITB. Keberangkatannya itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan bangga. Bukan hanya karena anak itu berhasil jadi sarjana karena asupan gizi yang cukup dari masakannya, tetapi juga karena jas hitam yang dikenakan Josmar pagi itu merupakan jas hitam satu-satunya milik almarhum Pak Sastro yang dipinjamkannya dengan sukarela.


"Bu..." sapa Josmar ragu. "Minggu depan saya harus wisuda. Saya nggak punya uang buat khusus jahit jas hitam. Apa Ibu punya jas hitam resmi yang bisa saya pinjam dulu, Bu?" Josmar bertanya agak malu kepada Bu Sastro suatu malam, seminggu sebelumnya.

Dengan hati-hati sekali Ibu mengeluarkan satu-satunya jas hitam resmi yang pernah Pak Sastro miliki. Jasnya masih terbungkus plastik rapat sehingga tak ada debu menempel. Tinggal dijemur sebentar saja untuk menghilangkan sedikit bau apeknya.


Akhirnya tibalah hari Josmar akan meninggalkan Bandung untuk selamanya. Dia akan kembali dulu ke Medan untuk men-jumpai ibunya dan memperoleh doa restu. Setelah itu barulah dia akan segera terbang ke Australia untuk bersekolah dan langsung bekerja. Kepergiannya hari itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan mata berkaca-kaca.


"Sukses ya, Nak Josmar. Ibu saja bangga pada kamu, apalagi Ibumu di Medan," demikian kata perpisahan Bu Sastro ketika melepas anak itu pergi.[]


"𝑴𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖𝒊 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏, 𝒔𝒆𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉. 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒆𝒎𝒂𝒉𝒂𝒏, 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔𝒂𝒏, 𝒏𝒂𝒎𝒖𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒉 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒇𝒐𝒌𝒖𝒔 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒆𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒕𝒂, 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒏 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒏𝒂𝒎𝒊𝒔"

(Parlindungan Marpaung)


Sumber

1. Buku"Warung Bu Sastro" Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati

2.https://id.linkedin.com/in/josmar-parhusip-41741a30a


Keterangan foto: Ir.Josmar Parhusip, M.B.A, Vice President Operations PT Sumber Migas Nusantara



Selasa, 03 Februari 2026

PERAMPOK DAN BOCAH BUTA

 "𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘴𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶"


Penganiayaan yang dilakukan terhadap pria yang merebut kekasihnya itu menjadikan Moore dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana. Dia lalu menjalani hukuman penjara selama 3 tahun di sebuah kota tua di Prancis.


Usai menjalani hukuman dengan status barunya sebagai bekas narapidana, membuat Moore menjadi bahan ejekan dan cemoohan ketika melamar pekerjaan.


Dalam keadaan kalut, pria itu memutuskan menjadi perampok. Dia telah mengincar sebuah rumah di bagian selatan kota. Sebelumnya dia mengamati bahwa rumah sasaran itu, para penghuninya bekerja seharian. Mereka baru pulang ketika malam. Di rumah itu hanya ada seorang anak kecil yang buta.


Moore pun mulai menjalankan aksinya. la pergi ke rumah itu, setelah semua orang pergi bekerja. la mencongkel pintu utama dengan sebuah pisau belati. Ketika berhasil membuka pintu, sebuah suara lembut bertanya, "Siapa itu?" Moore sembarangan menjawab, "Aku adalah teman ayahmu. Dia memberikan kunci rumah kepadaku."


Dengan gembira anak kecil itu tanpa curiga berkata, "Selamat datang, namaku Kay. Ayahku baru akan pulang nanti malam. Paman, apakah engkau mau bermain sebentar denganku?" Anak itu memandang dengan mata yang besar dan terang, tetapi tidak bisa melihat apa pun. Melihat wajah yang penuh harapan dan permintaan yang tulus, Moore lupa kepada tujuan awalnya, la pun menyanggupi permintaan anak itu.


Moore heran, anak yang berumur 8 tahun dan buta itu dapat bermain piano dengan lancar. Padahal anak normal harus melakukan upaya besar untuk bisa sampai ke tingkat seperti anak ini. Selesai bermain piano, ia melukis sebuah lukisan yang dapat dirasakan di dalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman. Dunia anak ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung. Gambarnya hanya bulat dan persegi, tidak dapat dibedakan. Namun dia melukis dengan sangat serius dan tulus.


"Paman, apakah matahari seperti ini?" Mendengar pertanyaan anak itu, Moore tiba-tiba merasa sangat terharu. Lalu dia melukis beberapa bulatan di telapak tangan anak itu. "Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan."Jawab Moore.


"Warna keemasan? Apa itu?" anak itu mendongakkan wajahnya yang mungil. Moore terdiam sejenak, lalu membawa anak itu ke tempat yang tersinari terik matahari. "Emas adalah sebuah warna yang sangat indah, bisa membuat orang merasa hangat. Sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan," jelasnya.


Anak itu, dengan gembira, meraba ke empat penjuru. "Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat. Dia pasti sama dengan warna senyuman paman." Moore pun dengan sabar menjelaskan kepadanya mengenai berbagai warna dan bentuk barang. Dia sengaja menggambarkan secara rinci, sehingga anak yang penuh imajinasi ini mudah mengerti.


Anak buta itu mendengar cerita Moore dengan sangat serius. Walaupun buta, tetapi rasa serius dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal. Tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat.


Moore tersentak ingat tujuan semula kerumah ini. Namun Moore tidak mungkin lagi merampok. Dia bertekad tidak akan melakukan kejahatan lagi, hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat. Pertemuannya dengan Kay membuatnya sadar dan malu. Dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay,

"𝑻𝒖𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒏𝒚𝒐𝒏𝒚𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕, 𝒎𝒂𝒂𝒇𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒐𝒏𝒈𝒌𝒆𝒍 𝒑𝒊𝒏𝒕𝒖 𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏. 𝑲𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒖𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒆𝒃𝒂𝒕, 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒊𝒅𝒊𝒌 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒎𝒊𝒌𝒊𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒊𝒌. 𝑾𝒂𝒍𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 𝒎𝒂𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒖𝒕𝒂, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒉𝒂𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒕𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈. 𝑫𝒊𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒉𝒂𝒍 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒌𝒂 𝒑𝒊𝒏𝒕𝒖 𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒔𝒂𝒚𝒂."


Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran. la pun memulai karirnya sebagai dokter.


Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini. Kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia. Setiap Kay mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya. la memilih tempat duduk di sebuah sudut yang tidak mencolok, sambil mendengarkan musik indah yang menyirami jiwanya.


Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya. Kay kecil yang tinggal di dunia yang gelap, tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya. Dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini. Vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.

Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat untuk melakukan kejahatan. Secercah harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang. Seperti Moore, yang telah membantu banyak orang.[]


"𝙳𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚋𝚎𝚛𝚊𝚙𝚊 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚛𝚐𝚊𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚞𝚕𝚞𝚜 𝚔𝚎𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚜𝚎𝚜𝚎𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎𝚜𝚎𝚙𝚒𝚊𝚗 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚙𝚞𝚝𝚞𝚜 𝚊𝚜𝚊. 𝙼𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝙰𝚗𝚍𝚊 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚕𝚞𝚙𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚜𝚘𝚔 𝚔𝚊𝚝𝚊-𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝙰𝚗𝚍𝚊 𝚞𝚌𝚊𝚙𝚔𝚊𝚗 𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚒𝚗𝚒, 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚛𝚐𝚊𝚒𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚞𝚖𝚞𝚛 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙."

(Dale Carnegie)


Dari buku "Kisah-kisah Paling Mengharukan di Dunia 2"




JANGAN TERLALU

 "𝘏𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩"


Sebagai penemu dan seniman yang hebat, Daedalus, mendapat pengajaran dari Athena, dewi kebijaksanaan dan pelindung seni juga keahlian. Sayang, Icarus  putranya, kemampuannya bertolak belakang dengannya. Anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda kecerdasan atau kreativitas. Justru keponakan Daedalus, Talos, yang berusia 12 tahun dan magang kepadanya dalam waktu singkat telah melampaui dirinya dalam hal kelihaian dan keahlian.


Dengki kepada Talos, Daedalus suatu malam mendorong Talos hingga jatuh dari kuil di Athena sehingga tewas.

Karena takut ditangkap sebagai pembunuh anak laki-laki yang terkenal, dia mengambil anaknya, Icarus, dan bersama-sama mereka lari ke Pulau Kreta.


Persembunyian mereka akhirnya diketahui oleh Minos, Raja Pulau Kreta. Karena tidak bisa lari dari pulau itu, Daedalus, si penemu yang kreatif, membuat sepasang sayap bagi dirinya dan juga satu untuk anaknya Icarus yang diambil dari bulu-bulu burung dan direkatkan dengan menggunakan lilin lebah. Setelah memasangkan bulu-bulu sayap anaknya, dia melakukan hal yang sama pada sayapnya, dan sambil membawa anak di tangannya, dia mengingatkan, "Ikuti Ayah, Icarus; jangan jalan sendiri. Jangan terbang terlalu tinggi, nanti matahari akan melumerkan lilinnya, dan jangan pula terbang terlalu rendah, nanti percikan air laut membuat bulu-bulu itu terlalu berat."


Keduanya lalu berlari dari tepi jurang dan melayang ke angkasa, menjauh dari Pulau Kreta. Akan tetapi, setelah beberapa waktu, Icarus kegirangan karena kebebasan yang baru dia rasakan serta kekuatan sayapnya, dia terbang semakin tinggi dan tinggi menuju matahari.


"Lihat Ayah!, betapa tingginya aku bisa terbang!" Icarus memanggil Ayahnya dengan girang.


Daedalus lalu menoleh ke belakang dan dan apa yang ditakutkan sebelumnya menjadi terjadi. Panas matahari melelehkan lilin di sayap Icarus. Tak kuasa menolong, dia melihat anaknya terempas ke laut dan tewas seketika


"Membonceng kreativitas"

Adalah sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari ide, karya, atau momentum kreatif orang lain untuk kepentingan pribadi atau tujuan lain, sering kali tanpa memberikan kontribusi orisinal yang signifikan. Tak jarang pembonceng itu melupakan peringatan pemilik ide yang sebenarnya demi keamanan dari hal-hal yang membuat fatal.[]


"𝐒𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐡𝐨𝐫𝐦𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐚𝐭𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧." 

(Bryant H. McGill)


Dari buku "Tales for Change" Seni Berkisah untuk Pengembangan SDM dan Organisasi



SELEMBAR KERTAS PUTIH

 "𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉𝒂𝒏-𝒌𝒆𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏. 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒄𝒖𝒌𝒖𝒑 𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊."

(Hyman G.Rickover) 


Ada seekor beruang kecil itu yang suka mencari-cari kesalahan. Dengan mudah, ia mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya.

Yang lebih fatal adalah dia melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada teman atau orangtuanya.


Saat ia terjatuh di kamar mandi, ia berkata 

"Ayah meletakkan ember di sembarang tempat, sehingga aku terpeleset dan jatuh"


Kepada seekor anak yang terkilir kakinya beruang kecil itu berkata: "Itu karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan harus hati-hati," 


Suatu saat, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.

"Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku harus mengusir lebah-lebah itu, agar madunya kuperoleh!"


la pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Merasa terusik, maka lebah-lebah itu menyerang anak beruang sehingga lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu.. dua.. tiga, lebah-lebah sempat menyengatnya. Beruntung, ada sebuah sungai dan beruang kecil itu segera terjun dan menyelam.

Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.


"Mengapa Ayah tidak menolongku? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah!" kata beruang kecil kepada ayahnya 


Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.

"Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?"


"Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab anak beruang.


Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.


"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?"


"Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!" Jawab anak beruang


"Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."


Ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.[]


"𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐤𝐢𝐦𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢, 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐦𝐮𝐥𝐚𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐮𝐤𝐚."

(Swami Dhyan Giten) 


Dari buku 

"Inspirasi tanpa Menggurui"


⁽ᵉᵈⁱˢⁱ ⁱⁿˢᵒᵐⁿⁱᵃ⁾



Minggu, 16 November 2025

𝑪𝑨𝑹𝑷𝑬 𝑫𝑰𝑬𝑴

  "𝐊𝐞𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐢𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐮𝐚𝐧𝐠."

(Napoleon Hill)


John Keating, adalah seorang guru pada sebuah sekolah berasrama. Semua siswa di sekolah ini adalah laki-laki.

Kepada para belia ini, Keating mengatakan sudah tidak tahu lagi apa impian serta ambisi mereka sendiri. Mereka secara otomatis tinggal meneruskan program-program dan harapan-harapan orang tua mereka bagi mereka. Mereka bercita-cita menjadi dokter, pengacara, dan bankir semata-mata karena profesi itulah yang didiktekan orang tua mereka. Namun remaja-remaja berjiwa mentah ini nyaris tidak dibekali pemikiran apa pun tentang apa yang menjadi dorongan hati mereka sendiri yang perlu diekspresikan.

Mr.Keating lalu membawa kelompok remaja laki-laki itu ke lobi sekolah di mana sebuah almari pajangan memamerkan foto-foto lulusan dari kelas-kelas terdahulu. "Coba perhatikan foto-foto itu," kata Keating kepada para remaja itu. "Anak-anak muda yang kalian lihat itu memiliki nyala api di matanya seperti kalian juga. Mereka berangan-angan untuk menggemparkan dunia dan menciptakan sesuatu yang hebat dalam kehidupan mereka Itu tujuh puluh tahun yang lampau. Kini mereka semua sudah mati. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar mengejar impian-impian mereka sendiri? Apakah mereka mengupayakan apa yang ingin mereka capai?" Kemudian Mr.Keating mencondongkan tubuhnya ke arah mereka dan berbisik dengan jelas, "Carpe Diem! Rebut hari Ini!"


Semula murid-murid itu tidak dapat memahami maksud guru yang aneh tersebut. Namun tak lama kemudian mereka mulai merenungkan makna penting dari kata-katanya. Mereka menjadi menghargai dan memuja Mr.Keating, yang memberi mereka sebuah wawasan baru- atau mengembalikan wawasan-wawasan mereka semula.

Setelah Mr. Keating mengajar di kelas mereka, pembelajaran kelas yang semula kaku menjadi cair suasananya. Cara Mr. Keating mengajar para pemuda itu menjadi bersemangat. 

Di setiap pembelajarannya, Mr. Keating selalu memberikan semangat kepada muridnya untuk selalu melakukan perubahan yang positif dalam hidup.[]


 "𝑻𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒕𝒂𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒈𝒆𝒎𝒃𝒊𝒓𝒂𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒎𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏."

(George S Patton)


(film "Dead Poets Society")


Dari buku "Chicken Soup for The Soul"



Rabu, 12 November 2025

MENIKMATI PROFESI GURU

"𝐒𝐞𝐧𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢 𝐠𝐮𝐫𝐮 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐢𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐠𝐞𝐦𝐛𝐢𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐞𝐤𝐬𝐩𝐫𝐞𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐞𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐚𝐧."

(𝐀𝐥𝐛𝐞𝐫𝐭 𝐄𝐢𝐧𝐬𝐭𝐞𝐢𝐧)


Berprofesi sebagai seorang guru, apalagi guru Taman Kanak-kanak?

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya.

Guru adalah sebuah cita-cita yang mungkin sudah jarang diminati anak-anak zaman sekarang.

Besarnya gaji yang diterima seorang guru menjadi pikiran saat saya masih kecil. Capek fisik dan perasaan dengan murid-murid yang nakal, gajinya juga kecil. Maka dari itu cita-cita saya waktu kecil adalah bukan ingin jadi guru, tetapi jadi dokter.


Dengan jurusan di SMA yang mengarah ke cita-cita tersebut, saya yakin bisa lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Nyatanya cita-cita saya itu harus kandas. Saya tidak lulus ujian masuk.

Ditengah perasaan frustrasi dan tidak mau kuliah, keluarga cukup meyakinkan saya untuk mengisi waktu dengan berkuliah di jurusan lain sambil menunggu ujian tahun berikutnya.

Begitu ada pilihan jurusan bahasa Inggris yang memang saya menyukainya, saya langsung ambil.

Rupanya saya tidak paham jurusan bahasa inggris itu adalah dibawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya pun menikmati proses belajar di kampus dan bertekad setelah lulus saya akan lanjut belajar kedokteran. 

Rasa kaget campur takut menghantui saat saya tahu bahwa saya harus praktek mengajar untuk anak-anak SMP dan SMA Untuk hal ini, saya sampai tidak bisa tidur nyenyak selama berbulan-bulan.

Barangkali saya terkena hukum karma, karena saya biasa ikut-ikutan teman ngerjain guru saat sekolah... Tapi Tuhan memang memiliki cara yang misterius. Saya menikmati setiap prosesnya dan seusai praktek mengajar, saya langsung menerima tawaran mengajar meskipun saat itu belum lulus kuliah. Dan yang luar biasa, saya begitu menikmati profesi ini.


Kini, enam belas tahun sudah saya menjalani profesi sebagai seorang guru. Saya sudah memiliki pengalaman mengajar tingkat TK sampai Universitas. Sekarang saya tahu, kenapa para guru begitu mencintai pekerjaan ini, mengapa mereka begitu setia dan sabar membimbing anak-anak meskipun mereka super nakal. Itu semua karena mereka mengerjakannya dengan hati yang tulus, karena itu adalah panggilan jiwa mereka. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata, tapi saya merasakan dan mengalaminya.


Sesulit apa pun rintangan yang kita hadapi, sekecil apa pun upah yang kita terima jika mengerjakannya dengan hati yang tulus semua terasa ringan dan berharga. Melihat murid-murid dari tidak bisa menjadi bisa, melihat mereka bertumbuh kembang menjadi manusia berguna adalah kepuasan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Kelucuan, keluguan dan kenaifan anak-anak kadang menjadi pecutan bagi saya untuk selalu merefleksi diri. Mereka bukan hanya belajar dari saya tapi saya juga banyak belajar dari tingkah laku mereka.


Intinya, kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk kita. Jika rencana tidak sesuai dengan yang kita inginkan artinya Tuhan memiliki rencana lain yang lebih indah. Dan jika kita melakukan suatu pekerjaan apa pun itu, lakukanlah dengan hati yang tulus karena dengan begitu kita bisa menjalankannya dengan semangat, dan rintangan apa pun bisa kita hadapi dengan bijak. Dalam soal materi saya percaya bahwa kebaikan orang-orang kepada saya adalah upah dan bayaran Tuhan kepada saya.[]


"𝙶𝚞𝚛𝚞 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚜𝚊𝚝𝚞-𝚜𝚊𝚝𝚞𝚗𝚢𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎𝚑𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚞𝚛 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚊𝚒𝚗."

(Nicholas A.Ferroni)



(𝑫𝒊𝒌𝒊𝒔𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑺𝒖𝒔𝒂𝒏 𝑩𝒂𝒄𝒉𝒕𝒊𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒖𝒌𝒖 "𝑲𝒆𝒏𝒂𝒓𝒊 𝑲𝒆𝒄𝒊𝒍 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑲𝒂𝒍𝒂𝒃𝒂𝒉𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝟐𝟗 𝑲𝒊𝒔𝒂𝒉 𝑰𝒏𝒔𝒑𝒊𝒓𝒂𝒕𝒊𝒇 𝑨𝒏𝒂𝒌 𝑰𝒏𝒅𝒐𝒏𝒆𝒔𝒊𝒂")




MENGAJAR TANPA KEKERASAN

 "𝘗𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘪, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪." 

(Ki Hadjar Dewantara)


Barangkali sudah membudaya di Maluku, kekerasan berbanding lurus dengan pengajaran. Jarang sekali ada yang percaya dengan kekuatan pengajaran tanpa kekerasan. Setiap aku pergi ke rumah siswa, bertemu dengan orang tua mereka, banyak yang menitipkanku sebuah amanah. Aku diberi pesan yang mereka anggap paling mujarab untuk mengatasi kenakalan anaknya.


Orang tua berpesan, "Ibu, pukul dia saja."

Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka, sambil berkata sehalus mungkin dan hati-hati: "Maaf Ibu dan bapak, saya tidak tega. Saya akan membimbing mereka, sampai mereka mau belajar."

Setelah aku pamit pulang, rasanya langkah kaki ini berjalan lebih cepat. Aku selalu pulang dengan semangat yang besar. Pesan itu selalu jadi bensin yang menyulut kobaran semangatku untuk terus berproses.

Aku akan tunjukkan anaknya akan lebih pintar tanpa kekerasan. Aku memilih untuk tidak berhenti, lalu balik badan. Mari berproses!


Sabtu, 4 Maret 2012.

SD Kristen Werain menggelar pertemuan orang tua untuk menjalin komunikasi orang tua dan guru 

Tak disangka, di pertemuan ini namaku disebut-sebut oleh orang tua murid yang menyampaikan pendapatnya mengenai cara mengajarku yang menurut istilahnya 'kejawa-jawaan'.

Pria yang rupanya seorang guru SMP itu berbicara panjang lebar soal karakter. "Karakter orang Jawa itu bisa kita kasih tahu sedikit, dia sudah menurut. Tetapi karakter orang Maluku ini, dia harus pake rotan kalau mau menurut. Kalau Ibu tetap pertahankan cara mengajar Ibu yang seperti ini, pendidikan di desa ini tidak akan maju. Kita semua harus sepakat di dalam ruangan ini - bahwa anak kita harus diberikan hukuman jika bersalah. Tidak bisa dibiarkan" ucapnya dengan lantang.

Rupanya tanggapan para hadirin mengisyaratkan persetujuan. Banyak dari mereka yang mengangguk-angguk.

Rupanya Bapak kepala sekolahku sependapat denganku. Beliau memberikan tanggapan atas pernyataan dan pertanyaan dari orang tua murid. Beliau menegaskan bahwa yang terpenting bukan memukul atau tidak, tetapi bagaimana cara guru dalam mengajar dan juga cara guru dalam memberikan peringatan.

Dari beliaulah datang bukti bahwa orang Maluku tidak semuanya memiliki sikap keras dan mengerasi orang lain. Beliau adalah sosok yang sangat menghormati orang lain dan mampu bersikap tegas meski tetap menghargai orang tersebut.

Dalam rapat-rapat guru, tidak jarang beliau mengingatkan kami, para guru, untuk mengajari anak dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. Jarang ada yang percaya pendidikan tanpa kekerasan itu bisa berhasil. Tetapi yang perlu diingat, ketidakpercayaan ini tidak berlaku di sekolahku.


Pelan-pelan sekolahku menjadi tempat yang damai. Hasilnya sudah mulai terlihat. Para guru menjadi semakin percaya. Sambil guru-guru berproses dalam kelas, kepala sekolah berperan sebagai pengawas dan motivator untuk tetap istiqomah. Tidak ada yang tidak mungkin menurut kami.


Lalu apakah pendidikan tanpa kekerasan itu bisa berhasil? 

Kami percaya bisa.[]


 "𝙰𝚗𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚗𝚒𝚛𝚞 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚒𝚔, 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚜𝚎𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚑𝚎𝚋𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚍𝚒𝚝𝚒𝚛𝚞."


(𝑫𝒊𝒌𝒊𝒔𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑨𝒓𝒖𝒎 𝑷𝒖𝒔𝒑𝒊𝒕𝒂𝒓𝒊𝒏𝒊 𝑫𝒂𝒓𝒎𝒊𝒏𝒕𝒐, 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒂𝒓 𝑴𝒖𝒅𝒂 𝑺𝑫𝑲 𝑾𝒆𝒓𝒂𝒊𝒏 𝑲𝒂𝒃.𝑴𝒂𝒍𝒖𝒌𝒖 𝑻𝒆𝒏𝒈𝒈𝒂𝒓𝒂 𝑩𝒂𝒓𝒂𝒕, 𝑴𝒂𝒍𝒖𝒌𝒖 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒖𝒌𝒖 "𝑷𝒂𝒏𝒈𝒈𝒊𝒍𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒕𝒊 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝑩𝒆𝒓𝒃𝒂𝒈𝒊")




PERMEN PENYELAMAT

 "𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐫𝐚𝐡, 𝐣𝐢𝐤𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐨𝐛𝐚. 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐞𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐚𝐝𝐚, 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐣𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚."


Usai Perang Dunia II yang penuh kekacauan pada akhir 1940-an, sebuah keluarga imigran di New York mencoba menghubungi kerabat mereka yang masih hidup di Hungaria.

Keadaan yang kacau usai peperangan, pos tidak bisa dipercaya, catatan dimusnahkan atau tidak akurat atau hilang membuat komunikasi tidak jelas. Perlu waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan agar surat bisa sampai di Eropa dan sampai di tangan penerimanya. Demikian pula balasannya, juga perlu waktu selama itu. Sulit sekali untuk memperoleh informasi yang bisa diandalkan, atau malahan tidak mungkin.


Keluarga imigran itu ingin tahu apakah nasib kerabat mereka masih hidup dan bertahan dari perang yang terjadi.

Lalu, datanglah sepucuk surat dalam bahasa Hungaria, dari Paman Lazlo yang tinggal di sebuah kota kecil dekat Budapest. Surat yang ditulis pada kertas tisu yang kumal itu menceritakan kesulitan mereka akan makanan, sulitnya mencari pekerjaan dan bertahan hidup akibat perang.

Keluarga itu lalu memutuskan untuk mengirimkan bahan-bahan perbekalan kebutuhan hidup kepada saudara sepupu, bibi dan paman mereka agar mereka bisa bertahan hidup. Mereka mencoba membayangkan apa yang diperlukan dan yang penting, tetapi, karena mereka tidak mengalami perang secara langsung, tidaklah mudah bagi mereka untuk memilih barang-barang yang akan dikirimkan. Segera dikumpulkan bahan-bahan seperti daging kaleng, sayuran, dan coklat. Tak lupa juga kertas toilet dan perban.

Akhirnya, paket kiriman yang terdiri atas beberapa karton dan diisi penuh dengan berbagai macam jenis barang siap untuk dikemas. Disela-sela tempat di setiap karton diisi dengan barang-barang kecil apa saja yang mereka miliki: permen, saputangan, kertas surat, dan pensil.


Akhirnya, karton-karton tersebut ditutup dan dibungkus rapat-rapat dengan kertas berwarna coklat dan tali yang kuat agar tahan dalam menempuh perjalanan yang sangat jauh dan lama. Dari kantor pos, karton-karton tersebut memulai perjalanannya yang jauh menuju ke negara tujuan.

Sebulan, dua bulan tidak ada kabar tentang paket yang mereka kirimkan atau surat dari penerima.

Tidak adanya kabar-berita dari keluarga mereka yang berada di tempat yang jauh membuat mereka menderita.

Headline surat kabar semakin membuat mereka khawatir sewaktu surat-surat kabar waktu itu menulis tentang lembaga bantuan Marshall Plan dan yang akan memberi bantuan dalam membangun kembali negara-negara yang porak-poranda akibat perang. Kisah-kisah beredar mengenai orang-orang yang kelaparan yang mendekati ajal mereka dan berita-berita yang lebih mengenaskan mengenai musim dingin yang hebat di Eropa serta menipisnya bahan makan membuat keluarga tersebut semakin sedih.


Tidak putus asa, keluarga tersebut mengirimkan paket lagi, hampir setiap minggu, meskipun mereka tidak memperoleh balasan apakah paket-paket tersebut diterima atau tidak oleh orang-orang yang mereka cintai.


Akhirnya, sebuah surat lainnya mereka terima dari Paman Lazlo. Surat tersebut telah terlipat-lipat, kumal, dan sobek di pinggirnya, tetapi masih bisa dibaca.

"𝑺𝒆𝒑𝒖𝒑𝒖𝒌𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉," tulisnya "𝑲𝒂𝒎𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒕𝒊𝒈𝒂 𝒑𝒂𝒌𝒆𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒌𝒊𝒓𝒊𝒎𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂𝒌𝒖.

"𝑲𝒂𝒎𝒊 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒖𝒅𝒊 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒓𝒈𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕. 𝑲𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝒃𝒆𝒕𝒂𝒑𝒂 𝒕𝒆𝒑𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒌𝒆𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒊𝒕𝒖. 𝑫𝒊 𝒔𝒊𝒏𝒊 𝒉𝒂𝒎𝒑𝒊𝒓 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒎𝒂𝒌𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝑨𝒏𝒏𝒂 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒅𝒆𝒎𝒂𝒎 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒔-𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒖𝒔. 𝑴𝒂𝒌𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒓𝒊𝒎𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒓𝒕𝒊 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒅𝒊 𝒔𝒊𝒏𝒊. 𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒌𝒖𝒊 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒖𝒂𝒍 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒓𝒊𝒎𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒊 𝒑𝒂𝒔𝒂𝒓 𝒈𝒆𝒍𝒂𝒑 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒚𝒂𝒓 𝒔𝒆𝒘𝒂 𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉."

 Selanjutnya, surat itu menceritakan tentang setiap barang yang ada di dalam karton dan untuk apa saja barang-barang itu. Lalu terjadilah misteri itu.

"𝑼𝒄𝒂𝒑𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒓𝒂𝒔𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌𝒍𝒂𝒉 𝒄𝒖𝒌𝒖𝒑 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒐𝒃𝒂𝒕-𝒐𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒌𝒊𝒓𝒊𝒎𝒌𝒂𝒏. 𝑺𝒖𝒍𝒊𝒕 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒐𝒃𝒂𝒕-𝒐𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒊 𝒔𝒊𝒏𝒊.

𝑺𝒆𝒑𝒖𝒑𝒖 𝑮𝒆𝒔𝒉𝒆𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏-𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒍𝒂𝒕 𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒓𝒕𝒂 𝒍𝒖𝒕𝒖𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒏𝒈𝒌𝒂𝒌 𝒌𝒊𝒏𝒊 𝒉𝒂𝒎𝒑𝒊𝒓 𝒏𝒐𝒓𝒎𝒂𝒍 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒍𝒊. 𝑺𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒑𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒏𝒈𝒌𝒖 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒎𝒃𝒖𝒉 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒉𝒂𝒍𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒍𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒊𝒅𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑳𝒊𝒛𝒂𝒃𝒆𝒕𝒂.

𝑲𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒍𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒓𝒊𝒎𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒐𝒃𝒂𝒕-𝒐𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒊𝒕𝒖 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒊𝒏𝒊 𝒉𝒂𝒎𝒑𝒊𝒓 𝒉𝒂𝒃𝒊𝒔.

𝑺𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒍𝒂𝒈𝒊, 𝒕𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉. 𝑲𝒂𝒎𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒊 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒐𝒂 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒔𝒂𝒕𝒖 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒆𝒎𝒖 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒍𝒂𝒈𝒊."


Surat itu dibaca ulang kembali oleh keluarga di perantauan sambil mengingat-ingat obat apakah yang dimasukkan kedalam paket? Rasanya saat itu mereka tidak memasukkan obat-obatan dalam paket yang dikirimkan.

Maka dibalaslah surat tersebut sambil menanyakan obat yang mana yang minta dikirim lagi.setelah menunggu dua bulan, datanglah surat balasan 

"𝑺𝒆𝒑𝒖𝒑𝒖𝒌𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉," Paman Lazlo memulai, "𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒚𝒖𝒌𝒖𝒓 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒃𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒈𝒊. 𝑺𝒆𝒋𝒂𝒌 𝒕𝒊𝒈𝒂 𝒑𝒂𝒌𝒆𝒕 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂, 𝒅𝒖𝒂 𝒑𝒂𝒌𝒆𝒕 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒎𝒖𝒅𝒊𝒂𝒏 𝒕𝒊𝒃𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒓𝒂𝒕𝒎𝒖. 𝑺𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒍𝒂𝒈𝒊, 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒓𝒊𝒎𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒃𝒂𝒕-𝒐𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒂𝒔𝒂. 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒑𝒆𝒕𝒖𝒏𝒋𝒖𝒌 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒈𝒖𝒏𝒂𝒂𝒏 𝒌𝒉𝒖𝒔𝒖𝒔 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒐𝒃𝒂𝒕-𝒐𝒃𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒓𝒂-𝒊𝒓𝒂 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔𝒏𝒚𝒂. 𝑫𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒋𝒆𝒎𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂 𝑰𝒏𝒈𝒈𝒓𝒊𝒔 𝒌𝒆 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂 𝑯𝒖𝒏𝒈𝒂𝒓𝒊𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒍𝒊𝒕 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒊 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝑺𝒂𝒏𝒅𝒐𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒊 𝒔𝒆𝒌𝒐𝒍𝒂𝒉. 𝑲𝒂𝒎𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒏𝒕𝒖𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒃 𝒅𝒊𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒋𝒆𝒎𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒏𝒂𝒎𝒂 𝒐𝒃𝒂𝒕 𝒕𝒆𝒓𝒔𝒆𝒃𝒖𝒕. 𝑶𝒃𝒂𝒕 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 '𝑳𝒊𝒇𝒆 𝑺𝒂𝒗𝒆𝒓𝒔'. 𝑨𝒌𝒖 𝒎𝒐𝒉𝒐𝒏 𝒌𝒊𝒓𝒊𝒎𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒐𝒃𝒂𝒕 𝒊𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒄𝒆𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏. 𝑺𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉, 𝑳𝒂𝒛𝒍𝒐."


Beberapa saat kemudian keluarga imigran itu memenuhi paket dengan gulungan permen Amerika yang terkenal itu, Life Savers. Rupanya terjemahan harfiahnya telah mengubah permen favorit Amerika itu menjadi sumber harapan yang besar...[]


“𝙺𝚊𝚖𝚞 𝚙𝚞𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚞𝚊𝚜𝚊 𝚊𝚝𝚊𝚜 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗𝚖𝚞—𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚝𝚊𝚜 𝚙𝚎𝚛𝚒𝚜𝚝𝚒𝚠𝚊-𝚙𝚎𝚛𝚒𝚜𝚝𝚒𝚠𝚊 𝚍𝚒 𝚕𝚞𝚊𝚛 𝚜𝚊𝚗𝚊. 𝚂𝚊𝚍𝚊𝚛𝚒𝚕𝚊𝚑 𝚒𝚗𝚒, 𝚍𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚖𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚔𝚞𝚊𝚝𝚊𝚗.”

(Marcus Aurelius)


Dari buku

 "A 4th Course of Chicken Soup for the Soul" 70 Kisah untuk Membuka Hati dan Mengobarkan Semangat Kembali




BELAJAR DARI AIR

"𝑾𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒖𝒍𝒊𝒕 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒎𝒂, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏,"

(Robert Schuller)


Seorang pemuda datang menemui Guru Zen Yuantong untuk menyampaikan keluhannya. Pemuda itu merasa kurang berhasil dalam karier meskipun pendidikannya cukup tinggi.


Usai mendengar keluhan pemuda itu pemuda itu, Guru Zen mengambil air dari tempayan dengan gayung. Saat memegang gayung berisi air, ia bertanya kepada pemuda tersebut, "Apa bentuk air ini?"

"Air mana ada bentuknya?" sahut pemuda itu.

Tanpa menjawab, Guru Zen menuangkan air ke dalam gelas dan vas bunga. Air juga dituangkan ke dalam ember berisi pasir. Dengan cepat air terserap bercampur pasir dan tak tampak lagi bentuknya. Kemudian, sambil memegang pasir basah itu, Guru Zen pun berkata, "Lihatlah, air ini hilang begitu saja. Ini juga sebuah kehidupan."


Pemuda itu mencoba menangkap apa yang ingin diungkapkan sang guru. Dari peragaan tersebut ia mulai dapat menangkap maknanya. "Saya mengerti. Guru sedang mengajari saya bahwa manusia harus bersikap seperti air yang dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan tempat ia berada. Air juga bisa hilang lenyap begitu saja, artinya manusia bisa datang dan pergi begitu cepat dan tak seorang pun yang dapat mengubahnya," kata si pemuda panjang lebar mencoba menguraikan makna peragaan air itu.

Kemudian Guru Zen berdiri dan berjalan menuju halaman depan vihara. Pemuda itu mengikutinya, masih dengan penuh tanda tanya di kepala. Lalu Guru Zen membungkuk dan menyentuh salah satu batu yang juga berfungsi sebagai anak tangga. Pemuda itu melihat ada lekukan di atas batu tersebut. "Apabila hujan turun, air hujan akan mengalir jatuh dari atap ke bawah. Ini adalah hasil dari tetesan air hujan itu," kata Guru Zen.


Pemuda itu memikirkan makna baru atas kondisi batu tersebut. "Itu artinya manusia harus menyesuaikan dengan keadaan. Tetapi, sifat air yang lembut justru mampu membentuk batu yang begitu keras, bahkan dapat menghancurkannya," kata pemuda itu beranalisis. "Benar sekali. Tetesan air akan membuat lubang di batu itu suatu hari nanti," kata sang guru mengakhiri


                       -o0o-


Untuk menjadi manusia yang kuat dan sukses. Sebelumnya kita harus selalu menyadari bahwa proses menuju kesuksesan di bidang tertentu sering kali penuh tantangan. Langkah yang paling jitu supaya lebih kuat menghadapi tantangan untuk sampai ke tujuan adalah bersikap fleksibel seperti air. 

Oleh sebab itu, pelajarilah kesabaran agar kita mampu bersikap lembut. Kelembutan tak jarang mampu menaklukkan tantangan yang paling dahsyat sekalipun, sebagaimana air dengan sifatnya yang lembut ternyata juga mampu melubangi batu atau bahkan batu karang sekalipun.[]


"𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐝𝐚𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐝𝐢 𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐢𝐚 𝐝𝐢𝐭𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧."

(Hellen Keller)


Dari buku "Unleash Your Inner Power with Zen"




Senin, 08 September 2025

TIDAK PERLU NAMA


"𝑪𝒂𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒎𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒚𝒂𝒏𝒊 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏."

(Mahatma Gandhi)


"Waalaikumsalam" kata ibunya membukakan pintu.

Sambil masuk, Fitri melemparkan tasnya, melepas sepatu dengan kesal.

"Ada apa sayang?"

"Masa Bun, acara pasca UTS yang  kuusulkan berlangsung meriah, tapi gak ada yang kasih selamat seorangpun...!" dengan gemas Fitri melemparkan kaos kakinya.

"Minum dulu" kata ibunya 

Kembali keruang tamu sambil membawa es sirup, Fitri duduk.

"Dengar Sayang, Bunda punya cerita" kata ibunya.

Ada seekor katak sedang berada di tepi telaga. Karena selama ini yang diketahuinya adalah yang ada disekelilingnya, ia ingin melihat dunia yang lebih luas dengan menyeberangi telaga. Saat melihat ada dua ekor bangau didekatnya, katak itu menyampaikan keinginannya.

"Kami dengan senang hati akan membantu, tapi bagaimana caranya?" kata seekor bangau

"Begini saja" usul katak "kalian gigit pada kedua ujung dahan dengan paruhmu, sementara aku menggigit pada bagian tengahnya"

Tak lama kemudian katak ikut terbang dengan kedua bangau tersebut. Seorang petani melihat pemandangan itu dari bawah dan berkata kepada temannya "Pintar sekali bangau itu"

Katak yang mendengar ucapan petani itu kesal dan berkata "Bukan mereka yang punya ide itu, tapi aku!" Dan... jatuhlah katak itu gara-gara membuka mulutnya.


Fitri tersenyum 

"Jadi, Sayang" kata ibunya, "Untuk hal-hal tertentu, lebih baik tidak mendapat nama atas prestasi yang kita peroleh. Ketenaran itu menyenangkan, namun dapat menjadi dosa dalam arti harfiah dan kiasan, dan dapat menjadi bumerang. Sebagian ketenaran kita mungkin lebih baik lepas tangan, kecuali kita kesulitan mengelakkannya"[]


"𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐡𝐞𝐛𝐚𝐭, 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧𝐢."

(Martin Luther King Jr)

Dari buku "Just For You"












PERSAHABATAN 24 KARAT

 Olimpiade Berlin 1936

Sempat melakukan pelanggaran dalam dua usaha awal, Jesse Owens kemudian mendapatkan saran dari pelompat jauh asal Jerman, Luz Long.

"Anda dapat melakukan dengan mudah,bahkan dengan mata tertutup" kata Luz Long "Ambil saja tumpuannya lebih ke depan untuk mencari aman" lanjutnya.

Mengikuti saran Atlet jangkung berkulit putih bermata biru ,Owens-atlet Amerika berkulit hitam-akhirnya memperoleh medali emas.

Kembali  dia meraih medali emas pada lari 200 meter dan puncaknya adalah memimpin tim Amerika serikat pada lari 4x100 meter.

Adalah Luz Long yg memberi ucapan selamat pada Jesse Owens dihadapan rakyat Jerman dengan Pemimpinnya yg saat itu sedang mengkampanyekan Kehebatan bangsa Arya.


Rangkulan persahabatan dua orang itu membawa akibat pada Long.Dia dikirim ke garis depan pada Perang Dunia ll.

Namun persahabatan mereka tetap terjalin melalui surat sampai akhirnya diketahui Luz Long tewas karena luka parah disebuah pertempuran.


Dalam sebuah kenangannya ,Owens mengatakan :

“Butuh keberanian dari dirinya untuk berteman dengan saya di hadapan Hitler. Anda bisa meleburkan semua medali dan trofi yang saya punya, namun mereka takkan bisa membuat persahabatan berpelat emas 24 karat yang saya rasakan pada Luz Long di momen itu,” 


Dari buku

"Everyday Greatness"


Keterangan foto: Luz Long memberikan tips lompatan kepada Jesse Owens




Selasa, 26 Agustus 2025

"DUO PIANIST EBONY AND IVORY"

"𝚂𝚎𝚝𝚒𝚊𝚙 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚊𝚕𝚊𝚒𝚔𝚊𝚝 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚒𝚕𝚒𝚔𝚒 𝚜𝚊𝚝𝚞 𝚜𝚊𝚢𝚊𝚙. 𝙳𝚊𝚗 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚜𝚊-𝚕𝚒𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚖𝚎𝚕𝚞𝚔"

(Luciano De Creschenzo)



Panti "𝑺𝒐𝒖𝒕𝒉𝒆𝒂𝒔𝒕 𝑺𝒆𝒏𝒊𝒐𝒓 𝑪𝒆𝒏𝒕𝒆𝒓 𝒇𝒐𝒓 𝑰𝒏𝒅𝒆𝒑𝒆𝒏𝒅𝒆𝒏𝒕 𝑳𝒊𝒗𝒊𝒏𝒈" musim semi tahun 1983, 

Margaret Patrick yang tangan kanannya mengalami kelumpuhan tiba untuk memulai terapi fisik.

Millie McHugh, seorang staf lama lalu memperkenalkannya kepada orang-orang di pusat rehabilitasi tersebut. 

Saat melintas ruangan, pandangan Margaret terkesiap melihat sebuah piano.

Millie yang sepintas melihat bertanya, "Ya?" 

"Oh, tidak," jawab Margaret lirih. "Melihat piano ini membangkitkan kenangan masa laluku. Dulu, musik adalah segalanya bagiku." 

Millie melihat tangan kanan wanita kulit hitam yang hanya tergantung lemas.Dengan lirih Margaret menceritakan tentang karier musiknya sebelum stroke menyerang.

"Tunggu disini sebentar" tiba-tiba Millie berkata, "Aku akan segera kembali." Tak lama ia kembali bersama seorang wanita kulit putih kecil dengan rambut yang sudah beruban yang memakai kacamata tebal. Wanita tersebut mengunakan alat bantu untuk berjalan.

"Kenalkan ini Ruth Eisenberg." kata Millie. Lalu dia tersenyum. "Dia dulu juga bermain piano, tetapi seperti halnya Anda, dia tidak lagi bisa bermain sejak menderita stroke. Nyonya Eisenberg memilik tangan kanan yang bagus, dan saya mempunyai perasaan bahwa pasangan tangan Anda yang masih berfungsi bisa melakukan sesuatu yang luar biasa."

"Anda tahu Waltz Chopin dalam D flat?" tanya Ruth Margaret mengangguk.

Margaret mengangguk.

Keduanya duduk berdampingan di kursi piano. Dua tangan yang sehat-satu dengan jari-jari hitam, panjang, dan lemah-gemulai, satunya lagi dengan jari-jari putih gemuk pendek-bergerak secara ritmis dan harmonis layaknya sepasang tangan dari satu orang. Sejak hari itu, mereka duduk berdampingan di depan keyboard piano ratusan kali-tangan kanan Margaret yang tak berdaya di punggung Ruth, dan tangan kiri Ruth yang tak berdaya di lutut Margaret, sementara tangan Ruth yang sehat memainkan melodi dan tangan Margaret yang sehat memainkan musik pengiringnya.


Musik yang mereka mainkan telah menghibur para penonton televisi, di sekolah dan di gereja, dan juga di pusat rehabilitasi dan warga negara yang telah lanjut usia. Dan di kursi piano itulah mulai Mozart, Chopin dan Bach serta Beethoven terdengar lebih dari sekadar musik.

Sebab di sanalah mereka tahu bahwa mereka memiliki lebih banyak persamaan dibanding yang mereka bayangkan sebelumnya. 

dari mereka tidak bisa memberi tanpa yang lain.

Duduk berdampingan di kursi piano itu, Ruth mendengar Margaret mengatakan, "Musikku telah direnggut, tetapi Tuhan memberikan Margaret kepadaku." Dan jelas bahwa sebagian iman Margaret telah merasuk dalam diri Ruth saat mereka duduk berdampingan selama lima tahun terakhir ini, karena Ruth sekarang mengatakan, "Keajaiban Tuhanlah yang mempertemukan kami."[]


 "𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒔𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒍𝒆𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒊 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒓𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏."


Dari buku

"A 4th Course of Chicken Soup for The Soul" 70 Kisah untuk Membuka Hati dan Mengobarkan Semangat Kembali.



MEMBERI CONTOH

 "𝐂𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐞𝐩𝐞𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐧𝐚𝐧."

(Albert Schweitzer)


Tahun 1888 Mahatma Gandhi sampai di London untuk belajar hukum di University College. 

Gandhi tinggal di sebuah kamar yang sempit pada rumah seorang janda Anglo- India di West Kensington.

Suatu saat, Ibu semangnya mendatangi Gandhi dan berkata, "Tuan Gandhi, putra saya ini tidak mau mendengarkan saya, namun entah bagaimana dia mau mendengarkan nasihat Anda. Dia ini terlalu banyak makan gula, bisakah Anda menasihatinya agar tidak makan gula terlalu banyak?"

Gandhi menjawab "Tentu, Bu, saya akan menasihatinya."

Hari berlalu dan menjadi minggu, anak tersebut masih makan gula sebanyak sebelumnya. Maka ibu semang menemui Gandhi lagi dan berkata, "Tuan Gandhi, apa Anda ingat apa yang saya katakan beberapa minggu lalu mengenai kebiasaan putra saya makan gula? Anda bilang Anda akan menasihatinya, tapi kenapa belum?"

Gandhi menjawab, "Saya sudah menasihati putra Ibu agar tidak makan banyak gula, tapi baru pagi ini." 

"Mengapa baru sekarang Anda menasihatinya?" Ibu itu penasaran. "Karena, baru kemarin saya berhenti makan gula," jawab Gandhi.


Bagaimana bisa mengajari anak-anak jika Anda minta mereka melakukan sesuatu yang Anda sendiri tidak lakukan?[]


"𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒂𝒔𝒖𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒍 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊."

(Pepatah Latin)


Dari buku "Mahatma Gandhi" Sebuah Autobiografi



ETOS KERJA PENJUAL PECEL

 "𝑱𝒊𝒌𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒂𝒓𝒊 𝒏𝒂𝒇𝒌𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒓𝒖𝒑𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒊𝒃𝒂𝒅𝒂𝒉, 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂 𝒌𝒆𝒓𝒂𝒔 𝒌𝒊𝒕𝒂, 𝒊𝒏𝒔𝒚𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓 𝒑𝒂𝒉𝒂𝒍𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉."

(Syekh Imam Nawawi al- Bantani)


Mak Paerah, 

Demikian wanita sepuh itu biasa dipanggil. Ia biasa berjualan pecel di depan gedung DPRD Sumatera Utara, Medan.

Kalau ditanyakan umur, dia akan katakan 86 tahun, padahal dari penampilannya sepertinya itu terlalu muda. Namun ia tetap gesit melayani para pembelinya.

Setiap hari, biasanya sekitar pukul 11.00, Mak Paenah sudah tiba di depan gedung DPRD dari  rumah cucunya di Glugur yang berjarak sekitar lima kilometer dan menggelar dagangannya.

Mengenai banyaknya uang hasil dagangnya dalam tas pinggangnya itu, Mak Paenah sering tidak mengetahuinya. Ia memang tidak peduli dengan pendapatannya setiap hari. Tidak jarang ada beberapa lembar ribuan tercecer di bawah kakinya, yang akhirnya diambilkan oleh orang lain. Baginya, yang penting, ia tidaklah merugi. Ia berucap, "𝑩𝒂𝒕𝒉𝒊 𝒌𝒖𝒘𝒊 𝒐𝒓𝒂 𝒔𝒂𝒉 𝒐𝒌𝒆𝒉-𝒐𝒌𝒆𝒉. 𝑲𝒆𝒎𝒂𝒓𝒖𝒌 𝒋𝒆𝒏𝒆𝒏𝒈𝒆" (Mengambil untung itu jangan besar-besar. Serakah namanya). Sikap inilah yang membuat Mak Paenah cenderung royal dan para pembeli sering belanja menjelang dagangnya mau habis, karena ia pasti memberikan porsi pecel yang lebih banyak. Karena keyakinan akan dagangannya yang tidak rugi itu pula, sering kali Mak Paenah membelikan rokok untuk orang lain yang tampak memerlukannya. Misalnya, Andi Lubis, fotografer harian "Analisa", Medan, yang perokok berat, beberapa kali diberi rokok oleh Mak Paenah kalau tampak sedang bengong dan tidak merokok. Ia berkata kepada Andi Lubis, "𝑵𝒚𝒐𝒉 𝒓𝒐𝒌𝒐𝒌. 𝑲𝒐𝒘𝒆 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒓𝒂 𝒅𝒖𝒘𝒆 𝒅𝒖𝒘𝒊𝒕 𝒕𝒐?" (Nih rokok. Kamu sedang tidak punya uang kan?).

Bagi Mak Paenah, apa salahnya menyisihkan uang untuk menyenangkan orang lain? Tidak jarang ia memberikan pecelnya secara gratis kalau ada yang lapar, tetapi tak punya uang.


Jadi, untuk apa Mak Paenah berjualan pecel dalam usianya yang sudah sangat senja itu?

"Aku bekerja karena memang manusia itu harus bekerja. Aku sakit kalau nganggur. Menganggur adalah bersahabat dengan setan. Kerja selalu ada kalau kita mau mencarinya. Jangan mau menganggur sampai kita mati."

Saat ada orang yang bertanya, "Setelah anak-anak Mak Paenah bisa hidup mandiri, uang hasil penjualan pecel digunakan untuk apa?", maka ia akan menjawab, "Keuntungan penjualan kusimpan di bawah bantal setiap hari. Uang itu kugunakan untuk menolong orang lain bila ada yang membutuhkannya. Siapa tahu, kan?" Inilah jawabannya yang sangat arif.


Mak Paenah menceritakan bahwa ia pernah menolong tetangganya yang mendadak membutuhkan uang. Tetangganya itu tidak menyangka ketika tiba-tiba Mak Paenah yang hanya berjualan pecel mampu meminjaminya uang dalam jumlah cukup besar tanpa bunga.


Setiap pagi, Mak Paenah mengambil Rp150.000,00 dari simpanannya untuk berbelanja di Pasar Glugur. Pada pukul 04.00, ia sudah bangun. Lalu, pada pukul 06.00, ia sudah mulai memasak bumbu-bumbu pecel dan sayuran. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bangun pagi membuatku sehat. Tiap hari berbelanja dan menawar juga tidak membuatku pikun."


Pada bulan Juni dan Juli 2002, para wartawan Medan yang biasa mangkal di depan Gedung DPRD kehilangan Mak Paenah. Selama dua bulan lebih, wanita tua itu menghilang. Banyak orang yang mengkhawatirkan kondisi Mak Paenah. Ada yang beranggapan bahwa Mak Paenah menderita sakit, atau bahkan sudah meninggal dunia.


Akhirnya, Mak Paenah baru muncul pada akhir Juli. Ternyata, Mak Paenah pulang ke kampungnya di Blitar untuk menengok sanak saudaranya.

Menurutnya, semua yang dikenalnya di sana sudah meninggal dunia. Ia bercerita kepada para pelanggannya, "Uangku Rp3.500.000,00 kugunakan untuk membeli oleh-oleh. Tetapi, aku senang bisa melihat Blitar lagi. Aku sama sekali tidak bisa mengenali tempat mana pun di sana." Matanya berbinar-binar saat membicarakan kota yang ditinggalkannya pada awal tahun 1940-an.


Ketika beberapa orang memberitahukan bahwa mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Mak Paenah selama tidak berjualan di depan gedung DPRD, Mak Paenah justru marah. Ia berkata, "Kalian kan masih muda, tapi kok tidak punya perasaan. Kalian tahu rumahku kan? Kalau khawatir terhadap kondisiku, kenapa kalian tidak menengokku di rumahku? Gimana jika aku benar-benar sakit? Iya, kan?"


Namun, sejak awal Agustus ini, Mak Paenah menghilang kembali. Setelah ditengok ke rumahnya, ternyata ia tidak kurang suatu apa. Ia berucap, "Aku pindah tempat jualan. Aku mengalah demi orang yang lebih muda dariku dan lebih memerlukan uang." Perkataannya itulah yang menimbulkan tanda tanya. Ternyata, Mak Paenah kini memilih berjualan di Lapangan Merdeka.


Menurutnya, di depan Gedung DPRD itu sudah muncul seorang saingan penjual nasi pecel. Penjual pecel itu masih muda dan selalu terlihat berusaha menyaingi Mak Paenah dalam merebut hati pembeli. Mengenai hal ini, Mak Paenah berkata tanpa emosi, "Aku tidak ingin bersaing dengan orang lain. Bagiku, jatah rezeki sudah ada yang mengatur. Biarlah aku yang sudah tua ini pindah tempat jualan."[]


"𝙱𝚎𝚔𝚎𝚛𝚓𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚌𝚊𝚛𝚒 𝚗𝚊𝚏𝚔𝚊𝚑 𝚗𝚊𝚖𝚞𝚗 𝚎𝚔𝚜𝚙𝚛𝚎𝚜𝚒 𝚍𝚒𝚛𝚒."

(Jakob Oetama)


Dari buku "Ibu yang Hebat" Kisah-kisah Inspirasional tentang Keajaiban dan Kehebatan Para Ibu



KEGAGALAN ADALAH SEBUAH PINTU

 "𝘒𝘦𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘳𝘥𝘪𝘬."

(Henry Ford)


Seorang pemuda sedang berputus asa karena beberapa kegagalan yang dialaminya. Kemudian dia mendatangi seorang tua yang bijak.

Orang tua itu lalu mengajak pemuda itu berjalan.

Akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah yang terbuat dari kaca. Rumah itu tampak besar dan bening berisikan bunga dalam pot.

Orang tua itu lalu berkata, "Anak muda, masuklah kedalam rumah itu melalui pintu kaca itu dan ambillah sebuah pot bunga yang terlihat dari pintu kaca ini dan bawalah kemari"

Dalam hati pemuda itu heran. "Mudah sekali, tinggal buka pintunya kemudian pot bunga diambil, selesai" katanya dalam hati.

Maka, melangkahlah pemuda itu menuju pintu dan membukanya. Ternyata apa yang dilihat dari luar sungguh berbeda dengan yang dibayangkan. Ia menemukan pintu kaca kembali didalamnya. "Pasti ada di ruangan ini" ucapnya. Ternyata salah. Didalamnya terdapat pintu kaca lagi. Demikian terjadi berulang- ulang sampai akhirnya dia dapatkan pot bunga yang diminta orang tua tadi dan menyerahkan kepada orang tua yang telah menunggunya.

"Lama sekali kau mengambilnya, Anak muda!" kata orang tua itu.

"Ya Kek, saya melihatnya dengan jelas pot bunga yang berada dalam rumah itu, tapi apa yang saya pikirkan ternyata salah. Ada banyak pintu yang harus dibuka untuk mengambilnya"

"Begitu juga dengan kesuksesan, Anak muda" 

Kemudian orang tua itu melanjutkan "Pintu-pintu kaca yang kamu buka tadi adalah kegagalan yang kamu alami. Karena kamu berkemauan dan berkeyakinan kuat, sehingga meskipun kamu lelah, kamu masih bertenaga untuk membuka dan membuka sampai akhirnya berhasil meraih pot bunga itu. Apakah kamu sadar, semakin banyak pintu kegagalan kamu buka, jumlah kegagalan yang menghadangmu semakin sedikit dan kesuksesan tinggal selangkah lagi."[]


𝐊𝐞𝐬𝐮𝐤𝐬𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐩𝐫𝐨𝐬𝐞𝐬. 𝐊𝐞𝐬𝐮𝐤𝐬𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐩𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐠𝐞𝐫𝐚. 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐤𝐞𝐲𝐚𝐤𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐮𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐢𝐡 𝐤𝐞𝐬𝐮𝐤𝐬𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭


Dari buku

I BELIEVE I CAN FLY






Selasa, 20 Mei 2025

Edisi Hari Buku Nasional AYAH, AKU, DAN BUKU

Saat sudah bisa membaca, saya mendapat rak khusus berisi buku kanak-kanak dari Ayah.  Beliau tidak mau jika buku-buku saya tercecer. Oleh karena itu Ayah menyimpannya dalam rak khusus.

Sebagian terbesar buku anak-anak itu diterbitkan oleh Balai Pustaka dan tersimpan sampai sekarang. Ada buku pelajaran, buku bacaan, maupun alat-alat tulis dan gambar.

Salah satu jenis buku bacaan favorit saya adalah komik Mahabharata karya R.A. Kosasih, dan bacaan serial Winnetou yang mengisahkan tentang kehidupan Winnetou, seorang pemuda Indian Amerika.(Kelak, berkat buku RA Kosasih ini saya mendapat nilai tertinggi saat ujian kuliah mengenai wayang dan falsafah serta karakternya).

Dalam memperlakukan buku ayah membuat aturan yang cukup ketat, yaitu membaca dengan rapi, duduk manis didepan meja, tangan dilipat. Tidak boleh mencoret-coret buku serta melipat ujung halaman untuk menandai halaman yang sudah dibaca.

Itulah yang membuabuku-buku saya sampai sekarang masih selalu kelihatan seperti baru.

Ayah mulai mengoleksi buku sejak bersekolah di Prins Hendrischool Batavia pada usia 16 tahun.

Saat bersekolah di Belanda, koleksi buku ayah yang terbanyak diantara mahasiswa Indonesia. Menjelang kepulangannya  ke tanah air setelah 11 tahun, bukunya mencapai 14 peti berbentuk kubus berukuran 1x1x1 m. 

Koleksi buku Ayah meliputi berbagai subjek: ilmu ekonomi, hukum, tata negara, administrasi negara, filsafat, agama, politik, sejarah, sosiologi, antropologi (yang dahulu disebut etnologi), dan kesusasteraan. Ayah juga mempunyai buku dengan koleksi terbatas, mungkin hadiah dari teman-temannya yang mengetahui hadiah yang tepat untuk bung Hatta adalah buku.

Tahun 1968, saya mendampingi ayah yang memberikan ceramah kepada mahasiswa di Honolulu. Pada hari Sabtu yang merupakan hari istirahat akhir pekan, Ayah dan saya sering berjalan ke toko buku yang tak jauh dari apartemen. Kami berdua ke sana dengan berjalan kaki. Menyenangkan sekali kalau mengingat lagi pengalaman itu. Daerah sekitar kampus lebih sepi pada akhir pekan, dan berjalan kaki terasa lebih nyaman.

Di toko buku yang terletak dekat kampus itu, buku-buku yang digunakan dalam kuliah relatif lengkap, dan ini tentu sangat menarik bagi saya sebagai mahasiswa. Kami melihat-lihat buku sesuai dengan minat kami masing-masing. Selesai membayar, kami keluar menuju apartemen.

Begitu asyiknya kami belanja buku sampai akhirnya saat akan kembali ke apartemen, buku-buku itu tidak bisa terbawa karena banyaknya. Terpaksa kami panggil taksi untuk mengantar pulang.

Kami sangat menyayangkan saat mengetahui keluarga Moh.Yamin menjual koleksi perpustakaan pribadinya ke Pertamina karena merasa keluarganya tidak lagi memerlukannya.

Ayah.

Suatu hari, saya dipanggil Ayah ke ruang kerjanya. Perintah Ayah mengherankan saya, "Meutia, pilihlah buku-buku yang berguna bagi studi Meutia."

Saya bertanya, "Buat apa, Yah?"

"Buat Meutia sendiri karena kalau Ayah meninggal nanti, mungkin kalian mau menjual buku-buku ini untuk biaya hidup Ibu dan kalian. Meutia kan tahu, pensiun Ayah..."

Rupanya peristiwa dijualnya perpustakaan Moh.Yamin menjadi pikiran Ayah, padahal kami tidak akan melakukan hal yang sama terhadap buku-buku beliau.

Ayah tersenyum khas tanpa kata, mungkin beliau terharu mendengar jawaban saya atas permintaan beliau.

"Kalau memang Ayah mau memberikan saya buku, saya minta yang Ayah punya dua saja." Saya memang merencanakan bahwa buku apa pun yang saya terima akan saya anggap sebagai warisan dari Ayah. Khusus atas permintaan saya itu, Ayah memberikan saya buku antik, The History of Java jilid I dan II karangan Thomas Stamford Raffles, terbitan tahun 1817. 

Kira-kira tiga tahun sesudah percakapan dengan Ayah itu, pemerintah menaikkan pensiun Ayah dengan adanya peraturan baru. Saya katakan, "Sekarang betul-betul Ayah tidak perlu lagi memikirkan tentang (pembiayaan) buku Ayah dengan adanya pensiun baru ini." Ayah pun tersenyum gembira.[]

(Dikisahkan oleh Meutia Hatta, Putri pertama bung Hatta)


Sumber 

1.Buku "Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya"

2.https://ellenconny.com/2017/11/09/pahlawan-juga-manusia-bagian-2/






JUST DO IT...

 "𝑩𝒆𝒓𝒔𝒊𝒌𝒂𝒑 𝒃𝒂𝒊𝒌𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒕𝒆𝒎𝒖𝒊 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒓𝒂𝒔."

(Plato)


Stanford University 1892,  

Seorang mahasiswa berusia 18 tahun dan yatim piatu sedang berjuang keras untuk membayar biaya kuliahnya.

Bersama seorang teman, mahasiswa tersebut memutuskan hendak menggelar konser musik di kampus untuk mengumpulkan uang yang akan digunakan sebagai biaya pendidikan mereka. Konser ini mereka adakan dengan mendatangkan pianis besar, Ignacy J. Paderewski.

Sebuah kesepakatan pun dibuat, usai manajer sang pianis meminta biaya sebesar $2.000 untuk konser piano tersebut.

Sayang, harapan tidak sesuai dengan ekspektasi. Menjelang konser digelar, hanya diperoleh uang $ 1.600. Kedua mahasiswa itu lalu menemui Paderewski untuk menyerahkan seluruh uang $ 1.600 ditambah sisanya dalam bentuk cek yang akan dilunasi secepatnya.

"Tidak" kata sang Maestro sambil mengembalikan uang tersebut dan merobek cek yang diberikan.

"Itu uang kalian, gunakan saja untuk biaya kuliah. Saya akan menggelar konser tanpa bayaran dari kalian"

Tentu saja kedua anak muda itu gembira dan konserpun digelar di Stanford University.


Waktu berlalu,

Tahun 1919, Ignacy J Paderewski diangkat menjadi Perdana Menteri Polandia yang kemudian disusul dengan pecahnya Perang dunia pertama. Akibat perang besar itu terjadi bencana kelaparan yang menimpa 1,5 penduduk Polandia. la pun mengulurkan tangan kepada bagian administrasi makanan dan bantuan Amerika Serikat untuk meminta pertolongan. Presiden Amerika Serikat saat itu, Herbert Hoover, setuju untuk membantu. Dengan segera, Herbert Hoover mengirimkan berton-ton bahan makanan untuk rakyat Polandia yang kelaparan. Bencana kelaparanpun dapat dihindari, Paderewski pun lega. Paderewski memutuskan untuk pergi menemui Hoover secara pribadi. Paderewski ingin berterima kasih langsung kepada Hoover.


Ketika Paderewski mengucapkan terima kasih kepada Hoover atas sikap mulianya, Hoover langsung menyela dan berkata, "Anda tidak harus berterima kasih kepada saya, Pak Perdana Menteri. Anda mungkin sudah melupakan, tetapi saya tidak akan pernah dapat melupakan. Beberapa tahun yang lalu, Anda membantu biaya kuliah dua mahasiswa muda di Stanford University, dan saya adalah salah satu dari mereka."


Just do it, lakukan saja...

Kebanyakan dari kita hanya berpikir, jika saya membantu mereka, apa yang akan terjadi pada saya? Kalau seseorang benar-benar baik dan bijak, ia akan berpikir, jika saya tidak membantu mereka, apa yang akan terjadi pada mereka?

Orang-orang yang baik dan bijak tidak akan melakukan kebaikan dengan mengharapkan balasan. Mereka melakukan karena merasa itu adalah hal benar yang harus dilakukan.[]


"𝐋𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐛𝐚𝐥𝐚𝐬𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐀𝐧𝐝𝐚."

(Harold S. Kushner)


Sumber:

1.Buku "Dari Kuntum menjadi Bunga jilid 1" Seri Kumpulan Kisah Inspiratif 

2.https://europebetweeneastandwest.wordpress.com/2021/06/05/rescue-mission-herberta-c-hoovera-an-american-on-behalf-of-poland-rendezvous-with-an-obscure-destiny-30/


Keterangan foto: Presiden AS Herbert Hoover mengenakan jas hitam diapit Perdana Menteri & pianis terkenal Ignacy J Paderewski dan pemimpin militer Jozef Pilsuski di Warsawa





EMPATI ABE LINCOLN

"𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚛𝚒𝚝𝚒𝚔 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊; 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚒𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚍𝚊 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚜𝚒𝚝𝚞𝚊𝚜𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚖𝚊."

(Abraham Lincoln)


Bulan Juli 1863 berlangsung Pertempuran Gettysburg  antara Pasukan Union dan Konfederasi.

Pada malam tanggal 4 Juli, Pasukan Konfederasi pimpinan Robert E. Lee mulai bergerak mundur ke bagian selatan saat awan disertai guntur menggayuti negara itu dengan hujan. Lee mencapai Potomac dengan tentaranya yang kalah, saat banjir besar melanda sungai dan tidak bisa dilalui di depannya. Sementara itu, Pasukan Union yang menang berada di belakangnya terus mendesak. Lee masuk perangkap. Dia tidak bisa melepaskan diri. Bagi Lincoln, ini adalah satu kesempatan emas untuk menangkap Lee dan mengakhiri perang dengan segera.

Maka, Lincoln memerintahkan pimpinan pasukan Union, George G.Meade agar tidak menghubungi dewan perang tetapi segera saja menyerang Lee. Lincoln mengirim perintah via telegram dan kemudian mengirim utusan khusus kepada Meade untuk segera bertindak.


Namun Jenderal Meade melakukan hal yang berlawanan dengan perintah Lincoln. Dia ragu-ragu dan menunda serta membuat berbagai alasan. Dia menolak sama sekali untuk menyerang Lee. Akhirnya air sungai surut dan Lee menyelamatkan diri melewati Potomac dengan pasukannya.


Lincoln marah sekali. "Apa maksudnya ini? Mereka sudah dalam genggaman kita. Dalam keadaan demikian, hampir semua jenderal sudah pasti mampu mengalahkan Lee. Kalau saja saya berada di sana, saya sendiri yang sudah menghantamnya."

Tiga hari kemudian, melalui jenderal Halleck, Lincoln mengatakan apa yang dilakukan oleh Meade membuat ketidakpuasan dalam benak Presiden. Atas perbuatan tersebut kemudian Jenderal Meade mengundurkan diri.

Dalam rasa kecewa yang mendalam, Lincoln duduk dan menulis surat kepada Meade:


𝑾𝒂𝒔𝒉𝒊𝒏𝒈𝒕𝒐𝒏, 𝟏𝟒 𝑱𝒖𝒍𝒊 𝟏𝟖𝟔𝟑

𝑴𝒂𝒚𝒐𝒓 𝑱𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍 𝑴𝒆𝒂𝒅𝒆

𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒔𝒖𝒓𝒂𝒕 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑱𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍 𝑯𝒂𝒍𝒍𝒆𝒄𝒌, 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒃𝒂𝒔𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒐𝒎𝒂𝒏𝒅𝒐, 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒊𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂𝒑 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒌𝒆𝒄𝒂𝒎— 𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕— 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 —𝒃𝒆𝒓𝒕𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒌𝒆𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒃𝒊𝒂𝒔𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒏𝒆𝒈𝒂𝒓𝒂 𝒅𝒊 𝑮𝒆𝒕𝒕𝒚𝒔𝒃𝒖𝒓𝒈; 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒔𝒂𝒍 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒆𝒅𝒊𝒌𝒊𝒕 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒉𝒂𝒕𝒊— 𝑻𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒆𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂.

𝑺𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒍𝒂𝒈𝒊, 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍𝒌𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒐𝒓𝒎𝒂𝒕, 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒌𝒊𝒏 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒂𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒃𝒆𝒔𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒆𝒎𝒂𝒍𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒌𝒊𝒃𝒂𝒕 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒓𝒊𝒂𝒏 𝑳𝒆𝒆— 𝑫𝒊𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒅𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒖𝒂𝒏 𝒎𝒖𝒅𝒂𝒉 𝑨𝒏𝒅𝒂, 𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒊𝒌𝒂 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒏𝒚𝒂, 𝒔𝒆𝒉𝒖𝒃𝒖𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒂𝒏-𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓 𝒌𝒊𝒕𝒂, 𝒑𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓— 𝑺𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈, 𝒑𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒂𝒏𝒈𝒔𝒖𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒃𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖. 𝑱𝒊𝒌𝒂 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈 𝑳𝒆𝒆 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒎𝒂𝒏 𝑺𝒆𝒏𝒊𝒏 𝒍𝒂𝒍𝒖, 𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒏𝒈𝒂𝒊, 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒔𝒆𝒓𝒕𝒂 𝒅𝒖𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊𝒈𝒂 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝒊𝒕𝒖? 𝑻𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒂𝒔𝒖𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒍 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑, 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒉𝒂𝒍 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈. 𝑲𝒆𝒔𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒆𝒎𝒂𝒔 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒉𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈, 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒅𝒊𝒉 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂𝒏𝒚𝒂—𝑺𝒂𝒚𝒂 𝒎𝒐𝒉𝒐𝒏 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂𝒑 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊 𝒕𝒖𝒏𝒕𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒉𝒖𝒌𝒖𝒎, 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑 𝒅𝒊𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊— 𝑲𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒊 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒑𝒖𝒂𝒔, 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒑𝒊𝒌𝒊𝒓 𝒔𝒆𝒃𝒂𝒊𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒂𝒚𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒎𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒕𝒂𝒉𝒖 𝑨𝒏𝒅𝒂 𝒂𝒍𝒂𝒔𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂.


Namun, Meade tidak pernah menerima surat tersebut, karena tidak pernah dikirimkan padanya. Surat itu ditemukan diantara kertas-kertas saat Abraham Lincoln wafat.


Lincoln berpikir dia bisa duduk tenang dalam Gedung Putih, memerintahkan Meade untuk menyerang, tapi andai dia di Gettysburg, melihat banjir darah, teriakan tentara yang luka seperti yang dilihat Meade, mungkin dia juga tidak akan begitu bersemangat untuk menyerang mereka.

Semuanya sudah terjadi, Kalau surat itu tetap dikirimkan, hal itu akan melegakan perasaan Abe, tapi itu akan membuat Meade berusaha mempertahankan dirinya  dan menambah tidak baik dalam perjuangan.

Lincoln menyisihkan surat itu, karena dia sudah belajar dari pengalaman pahit bahwa kritik yang pedas hampir selalu berakhir dengan sia-sia.[]

"𝐄𝐦𝐩𝐚𝐭𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧."

(Alfred Adler)


Dari buku "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain"


Keterangan foto: Surat dari Abe Lincoln kepada Jenderal Meade yang tidak pernah dikirimkan...



20.000 BERBANDING 1

 "𝙼𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊𝚒 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚝𝚒𝚏 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚎𝚜𝚊𝚛 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚓𝚞 𝚔𝚎𝚜𝚞𝚔𝚜𝚎𝚜...