Selasa, 25 Agustus 2026

KESEMPATAN

"๐˜’๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ. ๐˜ž๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต."

(Stephen C Hogan)


Puncak kejayaan Dinasti Medici dicapai oleh Lorenzo de Mรฉdici atau Lorenzo Magnificent. Pria kelahiran 1 Januari 1449 ini piawai menjalankan urusan negara-kota Florence, tapi cinta sejatinya adalah seni dan filsafat. Dia juga penyair yang cukup bagus, tapi, terutama, dia adalah pencari bakat sejati.


Suatu hari, Lorenzo tengah mengamati para perajin di taman Medici, area berlatih bagi bakat baru ketika seorang bocah lelaki, tak lebih dari empat belas tahun, menarik perhatiannya. Bocah itu memahat sosok faunus, dewa Romawi berupa manusia setengah kambing.


Kehalusan pekerjaan pemahat yang masih belia itu membuat Lorenzo terpukau. Bocah itu, yang bekerja menirukan sebuah model kuno, telah menciptakan replika yang sempurna. Dia bahkan memberi sang dewa penjaga ladang dan ternak itu tawa jail dan membuka mulutnya, menampakkan barisan gigi berantakan.


"Kau membuat faunus ini sangat tua, tapi membiarkan giginya lengkap," goda Lorenzo. "Bukankah lelaki tua selalu kehilangan beberapa gigi?"


Bocah itu sangat malu. Bagaimana dia bisa melewatkan detail sepenting itu? Apalagi yang mengingatkannya adalah lelaki paling berkuasa di Florence. Begitu Lorenzo pergi, bocah itu langsung bekerja. Dia menyingkirkan satu gigi atas, membor gusinya dan membuat ilustrasi gigi yang rusak.


Esok harinya, Lorenzo kembali dan tertawa senang. Dia terkesan tidak hanya pada bakat nyata bocah itu, tapi pada tekadnya untuk "membuat dengan benar". Lorenzo mengundang bocah itu untuk tinggal di rumahnya, bekerja, dan belajar bersama anak-anaknya sendiri.


Kepada bocah kecil itu, Lorenzo berkata "Dengar, Nak, aku rasa kau memilikinya. Apa yang ingin kaulakukan? Apakah kau ingin jadi pelukis? Baik, ini tablet dan ini kuasnya. Menggambarlah. Kau ingin jadi pemahat? Ini sebongkah batu. Ini palu dan pahat. Ini patung Romawi untuk dipelajari. Dan, ini guru-guru terbaik."


Sebuah kesempatan baik telah menghampiri sang pemahat muda.

Kemurahan hati Lorenzo dibalas berlipat ganda. Bocah itu, Michaelangelo Buonarroti telah menjadi seniman besar dengan karya terbaiknya 'David'


Saat ini, nama Michelangelo lebih berkibar dibandingkan dengan Lorenzo, meski sang  pengayom barangkali  layak mendapatkan sebagian besar penghargaan. Andai dia tidak berhenti untuk memeriksa pekerjaan seorang pemahat batu muda, si "bukan siapa-siapa", andai dia tidak mengenali tanda-tanda kegeniusan pada bocah itu, dan tidak langsung bertindak untuk memberikan kesempatan kita tak akan mengenal nama Michelangelo.

Kegeniusan itu seperti reaksi kimia. Ubah satu molekul dan semuanya berubah...[]


 "๐‘ฑ๐’Š๐’Œ๐’‚ ๐’”๐’†๐’”๐’†๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’˜๐’‚๐’“๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’”๐’†๐’Ž๐’‘๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’–๐’‚๐’“ ๐’ƒ๐’Š๐’‚๐’”๐’‚, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’– ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’š๐’‚๐’Œ๐’Š๐’ ๐’…๐’‚๐’‘๐’‚๐’• ๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’Œ๐’–๐’Œ๐’‚๐’๐’๐’š๐’‚, ๐’Œ๐’‚๐’•๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’‚๐’‹๐’‚ '๐’š๐’‚', ๐’๐’‚๐’๐’– ๐’‘๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“๐’Š ๐’„๐’‚๐’“๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’Œ๐’–๐’Œ๐’‚๐’๐’๐’š๐’‚ ๐’๐’‚๐’๐’•๐’Š."

(Richard Branson)


Keterangan foto: Lorenzo de Mรฉdici saat bertemu dengan Michaelangelo



Selasa, 28 April 2026

20.000 BERBANDING 1

 "๐™ผ๐šŽ๐š–๐š™๐šŽ๐š›๐šŒ๐šŠ๐šข๐šŠ๐š’ ๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š— ๐š—๐šŽ๐š๐šŠ๐š๐š’๐š ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š•๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŽ๐šœ๐šŠ๐š› ๐š–๐šŽ๐š—๐šž๐š“๐šž ๐š”๐šŽ๐šœ๐šž๐š”๐šœ๐šŽ๐šœ๐šŠ๐š—."

(Charles F.Glassman)

 

Ajahn Brahm, seorang, seorang biksu kelahiran Inggris, usai memberikan ceramah mendapat pertanyaan dari seorang nyonya 


"Saya baru tahu pagi ini bahwa suami saya berdusta kepada saya. Apakah saya harus bercerai? Saya tak bisa percaya padanya lagi.", katanya.

Saat ditanya apa pekerjaan ibu itu, ia bekerja di universitas. "Saya dosen matematika," katanya. "Sudah berapa lama Anda menikah?" tanya Brahm

"Tiga tahun," jawabnya.


Karena sang biksu lulusan Cambridge dan pernah belajar matematika, ia lalu berkata "Baiklah. Mari kita sama-sama menghitung probabilitasnya. Tiga tahun itu kurang lebih 1.000 hari. Logikanya jika selama tiga tahun menikah, suami Anda mengatakan rata-rata 20 hal kepada Anda setiap hari yang bisa saja benar atau salah. Jadi, sejak Anda menikah, ia sudah mengucapkan 20.000 pernyataan, dan kini ia berdusta untuk pertama kalinya. Menurut teori peluang, itu berarti bahwa kali berikutnya ia membuka mulutnya, ada kemungkinan 20.000 banding 1 bahwa ia berkata jujur."


Lanjut sang biksu, "Jadi apa maksud Anda dia tak bisa dipercaya? Peluang 20.000 banding 1 itu cukup bagus, bukan?"

"Apakah dengan satu dusta saja kita sudah tak bisa percaya kepada orang lain? Apakah satu dusta membuat mereka menjadi penipu?" Kata Brahm akhirnya.


Bias negatif atau Negativity bias mengacu pada kecenderungan seseorang untuk memperhatikan, mempelajari, dan menggunakan informasi negatif jauh lebih banyak daripada informasi positif. Akibatnya kesan pertama yang buruk bisa sangat sulit untuk dilupakan sehingga trauma masa lalu dapat memiliki efek jangka panjang bagi seseorang.


Meskipun bias negatif adalah bagian alami dari cara otak kita bekerja, tapi bias negatif yang dikelola dengan baik, dapat membantu kita untuk melakukan introspeksi dan meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik.

Usahakan untuk selalu memberikan keseimbangan dalam cara kita melihat dunia. Dengan pendekatan yang lebih positif, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, penuh rasa syukur, dan lebih memuaskan.[]


"๐‘ช๐’‚๐’“๐’‚ ๐’•๐’†๐’“๐’ƒ๐’‚๐’Š๐’Œ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’•๐’‚๐’”๐’Š ๐’‘๐’Š๐’Œ๐’Š๐’“๐’‚๐’ ๐’๐’†๐’ˆ๐’‚๐’•๐’Š๐’‡ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‘๐’Š๐’Œ๐’Š๐’“ ๐’‘๐’๐’”๐’Š๐’•๐’Š๐’‡"

(PS Jagadesh Kumar)




Sumber: 

1.Buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya  3"

2.https://focusonthefamily.id/mengungkap-negativity-bias-kenapa-pikiran-kita-lebih-fokus-pada-hal-negatif/

THANK- U- GRAM

 "๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ-๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ "๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ", ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ."

(Meister Eckhart)


Kepada ketiga anaknya,

Edward Kramer dari St. Louis, Missouri, mengajarkan sebuah prinsip yang sederhana tetapi bernilai tinggi.  Prinsip itu mengajarkan agar ketiga anaknya setiap hari mencari kebaikan dari tiga orang yang mereka kenal dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Orang tersebut mungkin adalah guru, tukang pos, polisi, siapa saja yang membuat mereka merasa bersyukur dan terbantu akan kehadiran mereka. Kemudian, ia mendorong agar anaknya menulis ucapan terima kasih yang sederhana untuk mengekspresikan rasa terima kasih mereka kepada orang-orang tersebut. Awalnya cukup susah untuk mendisiplinkan anak-anaknya melakukan hal itu, tapi seiring waktu yang berjalan mereka menjadi terbiasa dan mereka sangat kaget karena surat balasan yang diterima begitu hangat dan menyenangkan.

Dengan prinsip ini, Kramer kemudian mematenkan "Thank-U-Gram", sebuah kartu ucapan terima kasih berwarna kuning semacam telegram. Setelah ide ini diterima, dalam waktu 15 tahun, Kramer mampu memasok jutaan kartu tersebut. Orang-orang terkenal yang menggunakan ide ini antara lain Presiden Amerika Serikat Eisenhower, Bob Hope, Walt Disney, Henry Ford II. 

Dari sebuah ide sederhana tentang niat sang ayah untuk mengajarkan pentingnya mengucapkan terima kasih dan mencari kebaikan dari setiap orang yang melintas dalam hidup terbukti berhasil, karena Kramer sangat mengetahui apa yang paling dibutuhkan manusia, yaitu apresiasi.[]


"๐€๐ฉ๐ซ๐ž๐ฌ๐ข๐š๐ฌ๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ก๐š๐ฅ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐ฎ๐š๐ซ ๐›๐ข๐š๐ฌ๐š. ๐ˆ๐ญ๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ฎ๐š๐ญ ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐š๐ข๐ค ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐ข๐ซ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š."

(Voltaire)


Dari buku 

"CHAMP!ON" 101 Tip Motivasi & Inspirasi SUKSES Menjadi Juara Sejati



WISUDA DENGAN JAS PINJAMAN

 "๐šƒ๐šŽ๐š›๐š๐šŠ๐š™๐šŠ๐š ๐š”๐šŽ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š๐šŠ๐šœ๐šŠ๐š— ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐šŽ๐š›๐š’๐š๐šŠ๐šŠ๐š—, ๐š๐šŠ๐š™๐š’ ๐š๐š’๐š๐šŠ๐š” ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐š”๐šŽ๐š๐šŠ๐š”๐šž๐š๐šŠ๐š—."

(Francis Bacon)


Pukul 8 malam masih ada sebuah mangkok plastik berwarna merah di anak tangga warung Bu Sastro. Mangkok titipan lauk yang lain sudah diambil pemiliknya untuk makan malam di warung kecil jalan Pelesiran tersebut.

"Itu punya Josmar..." Kata Bu Sastro "Dia selalu datang meski malam sudah larut" Tegur Bu Sastro, saat ada pembeli akan mengambil mangkok titipan itu.


Saat datang dengan tubuh lelah dan perut kosong malam harinya, Josmar memasuki warung dengan tubuh yang limbung, Bu Sastro pun berseru khawatir "Eeee, hati-hati Josmar"

Kalau sudah demikian, maka biasanya Ibu akan buru-buru mengeluarkan nasi hangat dan disajikan langsung dengan dada ayam pedas yang sudah disimpankannya buat Josmar.

"Ayo makan segera! Kamu kecapekan belajarnya. Jangan lupa makan!" Ibu selalu berpesan demikian. Bu Sastro memang selalu menyisihkan 1 potong dada ayam pedas untuknya.

 

Josmar Parhusip, mahasiswa angkatan '82 asal Medan yang berambut keriting, bertubuh pendek bulat, dan berkulit hitam ini tidak jarang terlihat pucat dan gelisah. Dia akan menyantap makanannya sambil duduk termangu. Ibu Sastro tahu itu pertanda bahwa Josmar sedang berada dalam puncak kelelahannya.

"Mau dibuatkan teh panas manis supaya badannya enakan?" Bu Sastro akan menawarkan begitu kepadanya. Beliau sudah begitu mengenalnya, sehingga tahu bahwa "wajah pucat kelelahan" ini hanya terjadi ketika Josmar belajar tiada henti. Dia terus belajar sehingga memaksakan tubuhnya bekerja terlalu keras melebihi kapasitasnya.


Sambil makan, dia bercerita dengan bangga tentang ibunya 

yang berprofesi sebagai bidan yang bekerja keras di Medan. Ibu Josmar itu bekerja keras membanting tulang begitu agar Josmar bisa terus bersekolah setinggi-tingginya.


Memiliki anak yang diterima di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, tentunya menimbulkan rasa bangga bagi sang Ibu.

Untuk itu, kedua ibu dan anak itu harus terus berusaha menyelesaikan perjuangan yang berat.

Tinggal di kontrakan yang agak kumuh dan sangat sederhana di pinggir kali Cikapayang pun tak menjadi soal bagi Josmar.

"Saya cuma perlu tempat buat tidur saja kok, Bu. Belajar pun bisa saya lakukan di kampus" jawabnya saat ditanya.


1986

Pagi itu Josmar berangkat untuk menghadapi ujian sidang sarjana. Bu Sastro melepasnya dengan doa-doa seperti melepas anaknya sendiri pergi berjuang. Perut Bu Sastro sepanjang setengah hari itu agak mulas dan terasa lemas tidak karuan, menanti bagaimana kabar dari mahasiswa jurusan Elektro ITB itu.


Ketika Josmar tampak memasuki warungnya, dia tetap berjalan dengan tubuh yang agak oleng ke kanan dan oleng ke kiri. Hanya saja kali ini wajahnya penuh raut kegembiraan, bukan pucat kelelahan. Bu Sastro segera tahu bahwa seorang lagi Insinyur Elektro telah dilahirkan di negeri Indonesia ini.


Pada hari yang lain, Josmar berangkat pagi menuju acara wisuda sarjana ITB. Keberangkatannya itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan bangga. Bukan hanya karena anak itu berhasil jadi sarjana karena asupan gizi yang cukup dari masakannya, tetapi juga karena jas hitam yang dikenakan Josmar pagi itu merupakan jas hitam satu-satunya milik almarhum Pak Sastro yang dipinjamkannya dengan sukarela.


"Bu..." sapa Josmar ragu. "Minggu depan saya harus wisuda. Saya nggak punya uang buat khusus jahit jas hitam. Apa Ibu punya jas hitam resmi yang bisa saya pinjam dulu, Bu?" Josmar bertanya agak malu kepada Bu Sastro suatu malam, seminggu sebelumnya.

Dengan hati-hati sekali Ibu mengeluarkan satu-satunya jas hitam resmi yang pernah Pak Sastro miliki. Jasnya masih terbungkus plastik rapat sehingga tak ada debu menempel. Tinggal dijemur sebentar saja untuk menghilangkan sedikit bau apeknya.


Akhirnya tibalah hari Josmar akan meninggalkan Bandung untuk selamanya. Dia akan kembali dulu ke Medan untuk men-jumpai ibunya dan memperoleh doa restu. Setelah itu barulah dia akan segera terbang ke Australia untuk bersekolah dan langsung bekerja. Kepergiannya hari itu dilepas juga oleh Bu Sastro dengan mata berkaca-kaca.


"Sukses ya, Nak Josmar. Ibu saja bangga pada kamu, apalagi Ibumu di Medan," demikian kata perpisahan Bu Sastro ketika melepas anak itu pergi.[]


"๐‘ด๐’†๐’๐’‚๐’๐’–๐’Š ๐’‘๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“๐’‚๐’ ๐’•๐’†๐’๐’•๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’†๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘๐’‚๐’, ๐’”๐’†๐’”๐’†๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’Ž๐’‚๐’Œ๐’Š๐’ ๐’Ž๐’‚๐’•๐’‚๐’๐’ˆ ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‰๐’‚๐’…๐’‚๐’‘๐’Š ๐’”๐’†๐’•๐’Š๐’‚๐’‘ ๐’Ž๐’‚๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰. ๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’•๐’‚๐’‰๐’– ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’Š๐’๐’Š๐’Œ๐’Š ๐’Œ๐’†๐’๐’†๐’Ž๐’‚๐’‰๐’‚๐’, ๐’Œ๐’†๐’Œ๐’–๐’“๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’, ๐’…๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’•๐’†๐’“๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’”๐’‚๐’, ๐’๐’‚๐’Ž๐’–๐’ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’Š๐’๐’Š๐’‰ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’‡๐’๐’Œ๐’–๐’” ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’‚๐’”๐’Š๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’๐’‹๐’‚๐’…๐’Š ๐’Œ๐’†๐’๐’†๐’ƒ๐’Š๐’‰๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚, ๐’Œ๐’†๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘๐’‚๐’ ๐’‘๐’–๐’ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‹๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’…๐’Š๐’๐’‚๐’Ž๐’Š๐’”"

(Parlindungan Marpaung)


Sumber

1. Buku"Warung Bu Sastro" Tidak Rugi Berbisnis Dengan Hati

2.https://id.linkedin.com/in/josmar-parhusip-41741a30a


Keterangan foto: Ir.Josmar Parhusip, M.B.A, Vice President Operations PT Sumber Migas Nusantara



Selasa, 03 Februari 2026

PERAMPOK DAN BOCAH BUTA

 "๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ"


Penganiayaan yang dilakukan terhadap pria yang merebut kekasihnya itu menjadikan Moore dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana. Dia lalu menjalani hukuman penjara selama 3 tahun di sebuah kota tua di Prancis.


Usai menjalani hukuman dengan status barunya sebagai bekas narapidana, membuat Moore menjadi bahan ejekan dan cemoohan ketika melamar pekerjaan.


Dalam keadaan kalut, pria itu memutuskan menjadi perampok. Dia telah mengincar sebuah rumah di bagian selatan kota. Sebelumnya dia mengamati bahwa rumah sasaran itu, para penghuninya bekerja seharian. Mereka baru pulang ketika malam. Di rumah itu hanya ada seorang anak kecil yang buta.


Moore pun mulai menjalankan aksinya. la pergi ke rumah itu, setelah semua orang pergi bekerja. la mencongkel pintu utama dengan sebuah pisau belati. Ketika berhasil membuka pintu, sebuah suara lembut bertanya, "Siapa itu?" Moore sembarangan menjawab, "Aku adalah teman ayahmu. Dia memberikan kunci rumah kepadaku."


Dengan gembira anak kecil itu tanpa curiga berkata, "Selamat datang, namaku Kay. Ayahku baru akan pulang nanti malam. Paman, apakah engkau mau bermain sebentar denganku?" Anak itu memandang dengan mata yang besar dan terang, tetapi tidak bisa melihat apa pun. Melihat wajah yang penuh harapan dan permintaan yang tulus, Moore lupa kepada tujuan awalnya, la pun menyanggupi permintaan anak itu.


Moore heran, anak yang berumur 8 tahun dan buta itu dapat bermain piano dengan lancar. Padahal anak normal harus melakukan upaya besar untuk bisa sampai ke tingkat seperti anak ini. Selesai bermain piano, ia melukis sebuah lukisan yang dapat dirasakan di dalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman. Dunia anak ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung. Gambarnya hanya bulat dan persegi, tidak dapat dibedakan. Namun dia melukis dengan sangat serius dan tulus.


"Paman, apakah matahari seperti ini?" Mendengar pertanyaan anak itu, Moore tiba-tiba merasa sangat terharu. Lalu dia melukis beberapa bulatan di telapak tangan anak itu. "Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan."Jawab Moore.


"Warna keemasan? Apa itu?" anak itu mendongakkan wajahnya yang mungil. Moore terdiam sejenak, lalu membawa anak itu ke tempat yang tersinari terik matahari. "Emas adalah sebuah warna yang sangat indah, bisa membuat orang merasa hangat. Sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan," jelasnya.


Anak itu, dengan gembira, meraba ke empat penjuru. "Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat. Dia pasti sama dengan warna senyuman paman." Moore pun dengan sabar menjelaskan kepadanya mengenai berbagai warna dan bentuk barang. Dia sengaja menggambarkan secara rinci, sehingga anak yang penuh imajinasi ini mudah mengerti.


Anak buta itu mendengar cerita Moore dengan sangat serius. Walaupun buta, tetapi rasa serius dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal. Tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat.


Moore tersentak ingat tujuan semula kerumah ini. Namun Moore tidak mungkin lagi merampok. Dia bertekad tidak akan melakukan kejahatan lagi, hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat. Pertemuannya dengan Kay membuatnya sadar dan malu. Dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay,

"๐‘ป๐’–๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’๐’š๐’๐’๐’š๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’†๐’“๐’‰๐’๐’“๐’Ž๐’‚๐’•, ๐’Ž๐’‚๐’‚๐’‡๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’๐’„๐’๐’๐’ˆ๐’Œ๐’†๐’ ๐’‘๐’Š๐’๐’•๐’– ๐’“๐’–๐’Ž๐’‚๐’‰ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’. ๐‘ฒ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’–๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‰๐’†๐’ƒ๐’‚๐’•, ๐’…๐’‚๐’‘๐’‚๐’• ๐’Ž๐’†๐’๐’…๐’Š๐’…๐’Š๐’Œ ๐’‚๐’๐’‚๐’Œ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’…๐’†๐’Ž๐’Š๐’Œ๐’Š๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’Š๐’Œ. ๐‘พ๐’‚๐’๐’‚๐’–๐’‘๐’–๐’ ๐’Ž๐’‚๐’•๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’ƒ๐’–๐’•๐’‚, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’‰๐’‚๐’•๐’Š๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’•๐’†๐’“๐’‚๐’๐’ˆ. ๐‘ซ๐’Š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’‹๐’‚๐’“๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’ƒ๐’‚๐’๐’š๐’‚๐’Œ ๐’‰๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’‚ ๐’‘๐’Š๐’๐’•๐’– ๐’‰๐’‚๐’•๐’Š ๐’”๐’‚๐’š๐’‚."


Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran. la pun memulai karirnya sebagai dokter.


Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini. Kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia. Setiap Kay mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya. la memilih tempat duduk di sebuah sudut yang tidak mencolok, sambil mendengarkan musik indah yang menyirami jiwanya.


Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya. Kay kecil yang tinggal di dunia yang gelap, tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya. Dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini. Vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.

Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat untuk melakukan kejahatan. Secercah harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang. Seperti Moore, yang telah membantu banyak orang.[]


"๐™ณ๐šŽ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š–๐š‹๐šŽ๐š›๐š’๐š”๐šŠ๐š— ๐š‹๐šŽ๐š‹๐šŽ๐š›๐šŠ๐š™๐šŠ ๐š”๐šŠ๐š๐šŠ ๐š™๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š›๐š๐šŠ๐šŠ๐š— ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šž๐š•๐šž๐šœ ๐š”๐šŽ๐š™๐šŠ๐š๐šŠ ๐šœ๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š”๐šŽ๐šœ๐šŽ๐š™๐š’๐šŠ๐š— ๐šŠ๐š๐šŠ๐šž ๐š™๐šž๐š๐šž๐šœ ๐šŠ๐šœ๐šŠ. ๐™ผ๐šž๐š—๐š๐š”๐š’๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š•๐šž๐š™๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š‹๐šŽ๐šœ๐š˜๐š” ๐š”๐šŠ๐š๐šŠ-๐š”๐šŠ๐š๐šŠ ๐š‹๐šŠ๐š’๐š” ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šž๐šŒ๐šŠ๐š™๐š”๐šŠ๐š— ๐š‘๐šŠ๐š›๐š’ ๐š’๐š—๐š’, ๐š๐šŽ๐š๐šŠ๐š™๐š’ ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š–๐šŽ๐š—๐šŽ๐š›๐š’๐š–๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐š–๐šž๐š—๐š๐š”๐š’๐š— ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š๐š‘๐šŠ๐š›๐š๐šŠ๐š’๐š—๐šข๐šŠ ๐šœ๐šŽ๐šž๐š–๐šž๐š› ๐š‘๐š’๐š๐šž๐š™."

(Dale Carnegie)


Dari buku "Kisah-kisah Paling Mengharukan di Dunia 2"




JANGAN TERLALU

 "๐˜๐˜ข๐˜ต๐˜ช-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ"


Sebagai penemu dan seniman yang hebat, Daedalus, mendapat pengajaran dari Athena, dewi kebijaksanaan dan pelindung seni juga keahlian. Sayang, Icarus  putranya, kemampuannya bertolak belakang dengannya. Anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda kecerdasan atau kreativitas. Justru keponakan Daedalus, Talos, yang berusia 12 tahun dan magang kepadanya dalam waktu singkat telah melampaui dirinya dalam hal kelihaian dan keahlian.


Dengki kepada Talos, Daedalus suatu malam mendorong Talos hingga jatuh dari kuil di Athena sehingga tewas.

Karena takut ditangkap sebagai pembunuh anak laki-laki yang terkenal, dia mengambil anaknya, Icarus, dan bersama-sama mereka lari ke Pulau Kreta.


Persembunyian mereka akhirnya diketahui oleh Minos, Raja Pulau Kreta. Karena tidak bisa lari dari pulau itu, Daedalus, si penemu yang kreatif, membuat sepasang sayap bagi dirinya dan juga satu untuk anaknya Icarus yang diambil dari bulu-bulu burung dan direkatkan dengan menggunakan lilin lebah. Setelah memasangkan bulu-bulu sayap anaknya, dia melakukan hal yang sama pada sayapnya, dan sambil membawa anak di tangannya, dia mengingatkan, "Ikuti Ayah, Icarus; jangan jalan sendiri. Jangan terbang terlalu tinggi, nanti matahari akan melumerkan lilinnya, dan jangan pula terbang terlalu rendah, nanti percikan air laut membuat bulu-bulu itu terlalu berat."


Keduanya lalu berlari dari tepi jurang dan melayang ke angkasa, menjauh dari Pulau Kreta. Akan tetapi, setelah beberapa waktu, Icarus kegirangan karena kebebasan yang baru dia rasakan serta kekuatan sayapnya, dia terbang semakin tinggi dan tinggi menuju matahari.


"Lihat Ayah!, betapa tingginya aku bisa terbang!" Icarus memanggil Ayahnya dengan girang.


Daedalus lalu menoleh ke belakang dan dan apa yang ditakutkan sebelumnya menjadi terjadi. Panas matahari melelehkan lilin di sayap Icarus. Tak kuasa menolong, dia melihat anaknya terempas ke laut dan tewas seketika


"Membonceng kreativitas"

Adalah sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai memanfaatkan atau mengambil keuntungan dari ide, karya, atau momentum kreatif orang lain untuk kepentingan pribadi atau tujuan lain, sering kali tanpa memberikan kontribusi orisinal yang signifikan. Tak jarang pembonceng itu melupakan peringatan pemilik ide yang sebenarnya demi keamanan dari hal-hal yang membuat fatal.[]


"๐’๐š๐ญ๐ฎ ๐๐ข ๐š๐ง๐ญ๐š๐ซ๐š ๐›๐ž๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐ก๐จ๐ซ๐ฆ๐š๐ญ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ฌ ๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ง๐š๐ซ๐ง๐ฒ๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ค๐š๐ญ๐š๐ค๐š๐ง ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง." 

(Bryant H. McGill)


Dari buku "Tales for Change" Seni Berkisah untuk Pengembangan SDM dan Organisasi



SELEMBAR KERTAS PUTIH

 "๐‘ฒ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’– ๐’ƒ๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’Œ๐’†๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’-๐’Œ๐’†๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’‚๐’Š๐’. ๐‘จ๐’๐’…๐’‚ ๐’‰๐’‚๐’“๐’–๐’” ๐’‰๐’Š๐’…๐’–๐’‘ ๐’„๐’–๐’Œ๐’–๐’‘ ๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’‚๐’• ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’†๐’๐’…๐’Š๐’“๐’Š."

(Hyman G.Rickover) 


Ada seekor beruang kecil itu yang suka mencari-cari kesalahan. Dengan mudah, ia mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya.

Yang lebih fatal adalah dia melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada teman atau orangtuanya.


Saat ia terjatuh di kamar mandi, ia berkata 

"Ayah meletakkan ember di sembarang tempat, sehingga aku terpeleset dan jatuh"


Kepada seekor anak yang terkilir kakinya beruang kecil itu berkata: "Itu karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan harus hati-hati," 


Suatu saat, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.

"Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku harus mengusir lebah-lebah itu, agar madunya kuperoleh!"


la pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Merasa terusik, maka lebah-lebah itu menyerang anak beruang sehingga lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu.. dua.. tiga, lebah-lebah sempat menyengatnya. Beruntung, ada sebuah sungai dan beruang kecil itu segera terjun dan menyelam.

Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.


"Mengapa Ayah tidak menolongku? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah!" kata beruang kecil kepada ayahnya 


Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.

"Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?"


"Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab anak beruang.


Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.


"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?"


"Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!" Jawab anak beruang


"Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."


Ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.[]


"๐Š๐ž๐ญ๐ข๐ค๐š ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐›๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ค๐ข๐ฆ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง ๐๐š๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฌ๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข, ๐ก๐š๐ญ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐š๐ข ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐š."

(Swami Dhyan Giten) 


Dari buku 

"Inspirasi tanpa Menggurui"


⁽แต‰แตˆโฑหขโฑ โฑโฟหขแต’แตโฟโฑแตƒ⁾



Minggu, 16 November 2025

๐‘ช๐‘จ๐‘น๐‘ท๐‘ฌ ๐‘ซ๐‘ฐ๐‘ฌ๐‘ด

  "๐Š๐ž๐ฆ๐ž๐ง๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฅ๐š๐ฅ๐ฎ ๐ฆ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐ข๐ง ๐›๐š๐ ๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ง๐จ๐ฅ๐š๐ค ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐›๐ž๐ซ๐ก๐ž๐ง๐ญ๐ข ๐›๐ž๐ซ๐ฃ๐ฎ๐š๐ง๐ ."

(Napoleon Hill)


John Keating, adalah seorang guru pada sebuah sekolah berasrama. Semua siswa di sekolah ini adalah laki-laki.

Kepada para belia ini, Keating mengatakan sudah tidak tahu lagi apa impian serta ambisi mereka sendiri. Mereka secara otomatis tinggal meneruskan program-program dan harapan-harapan orang tua mereka bagi mereka. Mereka bercita-cita menjadi dokter, pengacara, dan bankir semata-mata karena profesi itulah yang didiktekan orang tua mereka. Namun remaja-remaja berjiwa mentah ini nyaris tidak dibekali pemikiran apa pun tentang apa yang menjadi dorongan hati mereka sendiri yang perlu diekspresikan.

Mr.Keating lalu membawa kelompok remaja laki-laki itu ke lobi sekolah di mana sebuah almari pajangan memamerkan foto-foto lulusan dari kelas-kelas terdahulu. "Coba perhatikan foto-foto itu," kata Keating kepada para remaja itu. "Anak-anak muda yang kalian lihat itu memiliki nyala api di matanya seperti kalian juga. Mereka berangan-angan untuk menggemparkan dunia dan menciptakan sesuatu yang hebat dalam kehidupan mereka Itu tujuh puluh tahun yang lampau. Kini mereka semua sudah mati. Berapa banyak dari mereka yang benar-benar mengejar impian-impian mereka sendiri? Apakah mereka mengupayakan apa yang ingin mereka capai?" Kemudian Mr.Keating mencondongkan tubuhnya ke arah mereka dan berbisik dengan jelas, "Carpe Diem! Rebut hari Ini!"


Semula murid-murid itu tidak dapat memahami maksud guru yang aneh tersebut. Namun tak lama kemudian mereka mulai merenungkan makna penting dari kata-katanya. Mereka menjadi menghargai dan memuja Mr.Keating, yang memberi mereka sebuah wawasan baru- atau mengembalikan wawasan-wawasan mereka semula.

Setelah Mr. Keating mengajar di kelas mereka, pembelajaran kelas yang semula kaku menjadi cair suasananya. Cara Mr. Keating mengajar para pemuda itu menjadi bersemangat. 

Di setiap pembelajarannya, Mr. Keating selalu memberikan semangat kepada muridnya untuk selalu melakukan perubahan yang positif dalam hidup.[]


 "๐‘ป๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’•๐’‚๐’๐’•๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’– ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’“๐’‚๐’”๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’ˆ๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’Š๐’“๐’‚๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’."

(George S Patton)


(film "Dead Poets Society")


Dari buku "Chicken Soup for The Soul"



Rabu, 12 November 2025

MENIKMATI PROFESI GURU

"๐’๐ž๐ง๐ข ๐ญ๐ž๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ ๐ข ๐ ๐ฎ๐ซ๐ฎ ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ ๐ค๐ข๐ญ๐ค๐š๐ง ๐ค๐ž๐ ๐ž๐ฆ๐›๐ข๐ซ๐š๐š๐ง ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ž๐ค๐ฌ๐ฉ๐ซ๐ž๐ฌ๐ข ๐ค๐ซ๐ž๐š๐ญ๐ข๐Ÿ ๐๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ญ๐š๐ก๐ฎ๐š๐ง."

(๐€๐ฅ๐›๐ž๐ซ๐ญ ๐„๐ข๐ง๐ฌ๐ญ๐ž๐ข๐ง)


Berprofesi sebagai seorang guru, apalagi guru Taman Kanak-kanak?

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya.

Guru adalah sebuah cita-cita yang mungkin sudah jarang diminati anak-anak zaman sekarang.

Besarnya gaji yang diterima seorang guru menjadi pikiran saat saya masih kecil. Capek fisik dan perasaan dengan murid-murid yang nakal, gajinya juga kecil. Maka dari itu cita-cita saya waktu kecil adalah bukan ingin jadi guru, tetapi jadi dokter.


Dengan jurusan di SMA yang mengarah ke cita-cita tersebut, saya yakin bisa lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Nyatanya cita-cita saya itu harus kandas. Saya tidak lulus ujian masuk.

Ditengah perasaan frustrasi dan tidak mau kuliah, keluarga cukup meyakinkan saya untuk mengisi waktu dengan berkuliah di jurusan lain sambil menunggu ujian tahun berikutnya.

Begitu ada pilihan jurusan bahasa Inggris yang memang saya menyukainya, saya langsung ambil.

Rupanya saya tidak paham jurusan bahasa inggris itu adalah dibawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya pun menikmati proses belajar di kampus dan bertekad setelah lulus saya akan lanjut belajar kedokteran. 

Rasa kaget campur takut menghantui saat saya tahu bahwa saya harus praktek mengajar untuk anak-anak SMP dan SMA Untuk hal ini, saya sampai tidak bisa tidur nyenyak selama berbulan-bulan.

Barangkali saya terkena hukum karma, karena saya biasa ikut-ikutan teman ngerjain guru saat sekolah... Tapi Tuhan memang memiliki cara yang misterius. Saya menikmati setiap prosesnya dan seusai praktek mengajar, saya langsung menerima tawaran mengajar meskipun saat itu belum lulus kuliah. Dan yang luar biasa, saya begitu menikmati profesi ini.


Kini, enam belas tahun sudah saya menjalani profesi sebagai seorang guru. Saya sudah memiliki pengalaman mengajar tingkat TK sampai Universitas. Sekarang saya tahu, kenapa para guru begitu mencintai pekerjaan ini, mengapa mereka begitu setia dan sabar membimbing anak-anak meskipun mereka super nakal. Itu semua karena mereka mengerjakannya dengan hati yang tulus, karena itu adalah panggilan jiwa mereka. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata, tapi saya merasakan dan mengalaminya.


Sesulit apa pun rintangan yang kita hadapi, sekecil apa pun upah yang kita terima jika mengerjakannya dengan hati yang tulus semua terasa ringan dan berharga. Melihat murid-murid dari tidak bisa menjadi bisa, melihat mereka bertumbuh kembang menjadi manusia berguna adalah kepuasan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Kelucuan, keluguan dan kenaifan anak-anak kadang menjadi pecutan bagi saya untuk selalu merefleksi diri. Mereka bukan hanya belajar dari saya tapi saya juga banyak belajar dari tingkah laku mereka.


Intinya, kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk kita. Jika rencana tidak sesuai dengan yang kita inginkan artinya Tuhan memiliki rencana lain yang lebih indah. Dan jika kita melakukan suatu pekerjaan apa pun itu, lakukanlah dengan hati yang tulus karena dengan begitu kita bisa menjalankannya dengan semangat, dan rintangan apa pun bisa kita hadapi dengan bijak. Dalam soal materi saya percaya bahwa kebaikan orang-orang kepada saya adalah upah dan bayaran Tuhan kepada saya.[]


"๐™ถ๐šž๐š›๐šž ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐šœ๐šŠ๐š๐šž-๐šœ๐šŠ๐š๐šž๐š—๐šข๐šŠ ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š”๐šŽ๐š‘๐š’๐š•๐šŠ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š๐š’๐š๐šž๐š› ๐š”๐šŠ๐š›๐šŽ๐š—๐šŠ ๐šŠ๐š—๐šŠ๐š” ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐š•๐šŠ๐š’๐š—."

(Nicholas A.Ferroni)



(๐‘ซ๐’Š๐’Œ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’๐’†๐’‰ ๐‘บ๐’–๐’”๐’‚๐’ ๐‘ฉ๐’‚๐’„๐’‰๐’•๐’Š๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’– "๐‘ฒ๐’†๐’๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ฒ๐’†๐’„๐’Š๐’ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ฒ๐’‚๐’๐’‚๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’Š ๐’…๐’‚๐’ ๐Ÿ๐Ÿ— ๐‘ฒ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰ ๐‘ฐ๐’๐’”๐’‘๐’Š๐’“๐’‚๐’•๐’Š๐’‡ ๐‘จ๐’๐’‚๐’Œ ๐‘ฐ๐’๐’…๐’๐’๐’†๐’”๐’Š๐’‚")




MENGAJAR TANPA KEKERASAN

 "๐˜—๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข๐˜ช, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช." 

(Ki Hadjar Dewantara)


Barangkali sudah membudaya di Maluku, kekerasan berbanding lurus dengan pengajaran. Jarang sekali ada yang percaya dengan kekuatan pengajaran tanpa kekerasan. Setiap aku pergi ke rumah siswa, bertemu dengan orang tua mereka, banyak yang menitipkanku sebuah amanah. Aku diberi pesan yang mereka anggap paling mujarab untuk mengatasi kenakalan anaknya.


Orang tua berpesan, "Ibu, pukul dia saja."

Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka, sambil berkata sehalus mungkin dan hati-hati: "Maaf Ibu dan bapak, saya tidak tega. Saya akan membimbing mereka, sampai mereka mau belajar."

Setelah aku pamit pulang, rasanya langkah kaki ini berjalan lebih cepat. Aku selalu pulang dengan semangat yang besar. Pesan itu selalu jadi bensin yang menyulut kobaran semangatku untuk terus berproses.

Aku akan tunjukkan anaknya akan lebih pintar tanpa kekerasan. Aku memilih untuk tidak berhenti, lalu balik badan. Mari berproses!


Sabtu, 4 Maret 2012.

SD Kristen Werain menggelar pertemuan orang tua untuk menjalin komunikasi orang tua dan guru 

Tak disangka, di pertemuan ini namaku disebut-sebut oleh orang tua murid yang menyampaikan pendapatnya mengenai cara mengajarku yang menurut istilahnya 'kejawa-jawaan'.

Pria yang rupanya seorang guru SMP itu berbicara panjang lebar soal karakter. "Karakter orang Jawa itu bisa kita kasih tahu sedikit, dia sudah menurut. Tetapi karakter orang Maluku ini, dia harus pake rotan kalau mau menurut. Kalau Ibu tetap pertahankan cara mengajar Ibu yang seperti ini, pendidikan di desa ini tidak akan maju. Kita semua harus sepakat di dalam ruangan ini - bahwa anak kita harus diberikan hukuman jika bersalah. Tidak bisa dibiarkan" ucapnya dengan lantang.

Rupanya tanggapan para hadirin mengisyaratkan persetujuan. Banyak dari mereka yang mengangguk-angguk.

Rupanya Bapak kepala sekolahku sependapat denganku. Beliau memberikan tanggapan atas pernyataan dan pertanyaan dari orang tua murid. Beliau menegaskan bahwa yang terpenting bukan memukul atau tidak, tetapi bagaimana cara guru dalam mengajar dan juga cara guru dalam memberikan peringatan.

Dari beliaulah datang bukti bahwa orang Maluku tidak semuanya memiliki sikap keras dan mengerasi orang lain. Beliau adalah sosok yang sangat menghormati orang lain dan mampu bersikap tegas meski tetap menghargai orang tersebut.

Dalam rapat-rapat guru, tidak jarang beliau mengingatkan kami, para guru, untuk mengajari anak dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. Jarang ada yang percaya pendidikan tanpa kekerasan itu bisa berhasil. Tetapi yang perlu diingat, ketidakpercayaan ini tidak berlaku di sekolahku.


Pelan-pelan sekolahku menjadi tempat yang damai. Hasilnya sudah mulai terlihat. Para guru menjadi semakin percaya. Sambil guru-guru berproses dalam kelas, kepala sekolah berperan sebagai pengawas dan motivator untuk tetap istiqomah. Tidak ada yang tidak mungkin menurut kami.


Lalu apakah pendidikan tanpa kekerasan itu bisa berhasil? 

Kami percaya bisa.[]


 "๐™ฐ๐š—๐šŠ๐š” ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š™๐šŽ๐š—๐š’๐š›๐šž ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š’๐š”, ๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š‹๐šŽ๐š›๐š’๐š”๐šŠ๐š—๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š–๐šŽ๐š›๐šŽ๐š”๐šŠ ๐šœ๐šŽ๐šœ๐šž๐šŠ๐š๐šž ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š‘๐šŽ๐š‹๐šŠ๐š ๐šž๐š—๐š๐šž๐š” ๐š๐š’๐š๐š’๐š›๐šž."


(๐‘ซ๐’Š๐’Œ๐’Š๐’”๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’๐’†๐’‰ ๐‘จ๐’“๐’–๐’Ž ๐‘ท๐’–๐’”๐’‘๐’Š๐’•๐’‚๐’“๐’Š๐’๐’Š ๐‘ซ๐’‚๐’“๐’Ž๐’Š๐’๐’•๐’, ๐‘ท๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’‹๐’‚๐’“ ๐‘ด๐’–๐’…๐’‚ ๐‘บ๐‘ซ๐‘ฒ ๐‘พ๐’†๐’“๐’‚๐’Š๐’ ๐‘ฒ๐’‚๐’ƒ.๐‘ด๐’‚๐’๐’–๐’Œ๐’– ๐‘ป๐’†๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’‚๐’“๐’‚ ๐‘ฉ๐’‚๐’“๐’‚๐’•, ๐‘ด๐’‚๐’๐’–๐’Œ๐’– ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’ƒ๐’–๐’Œ๐’– "๐‘ท๐’‚๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’Š๐’๐’‚๐’ ๐‘ฏ๐’‚๐’•๐’Š ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐‘ฉ๐’†๐’“๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š")




PERMEN PENYELAMAT

 "๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐›๐ž๐ซ๐ฉ๐ข๐ค๐ข๐ซ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ฒ๐ž๐ซ๐š๐ก, ๐ฃ๐ข๐ค๐š ๐ค๐š๐ฆ๐ฎ ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐ฆ๐š๐ฎ ๐›๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐š๐ก๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐จ๐›๐š. ๐’๐ž๐ฅ๐š๐ฆ๐š ๐ค๐ž๐ข๐ง๐ ๐ข๐ง๐š๐ง ๐ข๐ญ๐ฎ ๐š๐๐š, ๐“๐ฎ๐ก๐š๐ง ๐ฉ๐š๐ฌ๐ญ๐ข ๐š๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐ž๐ง๐ฎ๐ง๐ฃ๐ฎ๐ค๐ค๐š๐ง ๐ฃ๐š๐ฅ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š."


Usai Perang Dunia II yang penuh kekacauan pada akhir 1940-an, sebuah keluarga imigran di New York mencoba menghubungi kerabat mereka yang masih hidup di Hungaria.

Keadaan yang kacau usai peperangan, pos tidak bisa dipercaya, catatan dimusnahkan atau tidak akurat atau hilang membuat komunikasi tidak jelas. Perlu waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan agar surat bisa sampai di Eropa dan sampai di tangan penerimanya. Demikian pula balasannya, juga perlu waktu selama itu. Sulit sekali untuk memperoleh informasi yang bisa diandalkan, atau malahan tidak mungkin.


Keluarga imigran itu ingin tahu apakah nasib kerabat mereka masih hidup dan bertahan dari perang yang terjadi.

Lalu, datanglah sepucuk surat dalam bahasa Hungaria, dari Paman Lazlo yang tinggal di sebuah kota kecil dekat Budapest. Surat yang ditulis pada kertas tisu yang kumal itu menceritakan kesulitan mereka akan makanan, sulitnya mencari pekerjaan dan bertahan hidup akibat perang.

Keluarga itu lalu memutuskan untuk mengirimkan bahan-bahan perbekalan kebutuhan hidup kepada saudara sepupu, bibi dan paman mereka agar mereka bisa bertahan hidup. Mereka mencoba membayangkan apa yang diperlukan dan yang penting, tetapi, karena mereka tidak mengalami perang secara langsung, tidaklah mudah bagi mereka untuk memilih barang-barang yang akan dikirimkan. Segera dikumpulkan bahan-bahan seperti daging kaleng, sayuran, dan coklat. Tak lupa juga kertas toilet dan perban.

Akhirnya, paket kiriman yang terdiri atas beberapa karton dan diisi penuh dengan berbagai macam jenis barang siap untuk dikemas. Disela-sela tempat di setiap karton diisi dengan barang-barang kecil apa saja yang mereka miliki: permen, saputangan, kertas surat, dan pensil.


Akhirnya, karton-karton tersebut ditutup dan dibungkus rapat-rapat dengan kertas berwarna coklat dan tali yang kuat agar tahan dalam menempuh perjalanan yang sangat jauh dan lama. Dari kantor pos, karton-karton tersebut memulai perjalanannya yang jauh menuju ke negara tujuan.

Sebulan, dua bulan tidak ada kabar tentang paket yang mereka kirimkan atau surat dari penerima.

Tidak adanya kabar-berita dari keluarga mereka yang berada di tempat yang jauh membuat mereka menderita.

Headline surat kabar semakin membuat mereka khawatir sewaktu surat-surat kabar waktu itu menulis tentang lembaga bantuan Marshall Plan dan yang akan memberi bantuan dalam membangun kembali negara-negara yang porak-poranda akibat perang. Kisah-kisah beredar mengenai orang-orang yang kelaparan yang mendekati ajal mereka dan berita-berita yang lebih mengenaskan mengenai musim dingin yang hebat di Eropa serta menipisnya bahan makan membuat keluarga tersebut semakin sedih.


Tidak putus asa, keluarga tersebut mengirimkan paket lagi, hampir setiap minggu, meskipun mereka tidak memperoleh balasan apakah paket-paket tersebut diterima atau tidak oleh orang-orang yang mereka cintai.


Akhirnya, sebuah surat lainnya mereka terima dari Paman Lazlo. Surat tersebut telah terlipat-lipat, kumal, dan sobek di pinggirnya, tetapi masih bisa dibaca.

"๐‘บ๐’†๐’‘๐’–๐’‘๐’–๐’Œ๐’– ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’†๐’“๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰," tulisnya "๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’•๐’Š๐’ˆ๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’Œ๐’†๐’• ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’– ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚๐’Œ๐’–.

"๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚ ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’–๐’•๐’‚๐’๐’ˆ ๐’ƒ๐’–๐’…๐’Š ๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’‚๐’•๐’‚๐’” ๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ-๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‰๐’‚๐’“๐’ˆ๐’‚ ๐’•๐’†๐’“๐’”๐’†๐’ƒ๐’–๐’•. ๐‘ฒ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’•๐’‚๐’‰๐’– ๐’ƒ๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’•๐’†๐’‘๐’‚๐’•๐’๐’š๐’‚ ๐’˜๐’‚๐’Œ๐’•๐’– ๐’Œ๐’†๐’…๐’‚๐’•๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ-๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Š๐’•๐’–. ๐‘ซ๐’Š ๐’”๐’Š๐’๐’Š ๐’‰๐’‚๐’Ž๐’‘๐’Š๐’“ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’…๐’‚ ๐’Ž๐’‚๐’Œ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐‘จ๐’๐’๐’‚ ๐’”๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’…๐’†๐’Ž๐’‚๐’Ž ๐’•๐’†๐’“๐’–๐’”-๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’–๐’”. ๐‘ด๐’‚๐’Œ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‚๐’“๐’•๐’Š ๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚ ๐’…๐’Š ๐’”๐’Š๐’๐’Š. ๐‘บ๐’‚๐’š๐’‚ ๐’‰๐’‚๐’“๐’–๐’” ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’Œ๐’–๐’Š ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’‹๐’–๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’”๐’‚๐’š๐’‚ ๐’…๐’Š ๐’‘๐’‚๐’”๐’‚๐’“ ๐’ˆ๐’†๐’๐’‚๐’‘ ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’š๐’‚๐’“ ๐’”๐’†๐’˜๐’‚ ๐’“๐’–๐’Ž๐’‚๐’‰."

 Selanjutnya, surat itu menceritakan tentang setiap barang yang ada di dalam karton dan untuk apa saja barang-barang itu. Lalu terjadilah misteri itu.

"๐‘ผ๐’„๐’‚๐’‘๐’‚๐’ ๐’•๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’“๐’‚๐’”๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ๐’๐’‚๐’‰ ๐’„๐’–๐’Œ๐’–๐’‘ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’. ๐‘บ๐’–๐’๐’Š๐’• ๐’”๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’‘๐’†๐’“๐’๐’๐’†๐’‰ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’…๐’Š ๐’”๐’Š๐’๐’Š.

๐‘บ๐’†๐’‘๐’–๐’‘๐’– ๐‘ฎ๐’†๐’”๐’‰๐’†๐’“ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’†๐’๐’…๐’†๐’“๐’Š๐’•๐’‚ ๐’”๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’‰๐’–๐’-๐’•๐’‚๐’‰๐’–๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‹๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’‚๐’๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’‚๐’๐’•๐’– ๐’”๐’†๐’“๐’•๐’‚ ๐’๐’–๐’•๐’–๐’•๐’๐’š๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’ƒ๐’†๐’๐’ˆ๐’Œ๐’‚๐’Œ ๐’Œ๐’Š๐’๐’Š ๐’‰๐’‚๐’Ž๐’‘๐’Š๐’“ ๐’๐’๐’“๐’Ž๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’๐’Š. ๐‘บ๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’‘๐’–๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’–๐’๐’ˆ๐’Œ๐’– ๐’Ž๐’‚๐’๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’”๐’–๐’…๐’‚๐’‰ ๐’”๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’–๐’‰ ๐’”๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’”๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’”๐’†๐’‘๐’†๐’“๐’•๐’Š ๐’‰๐’‚๐’๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’‚๐’Œ๐’Š๐’• ๐’Œ๐’†๐’‘๐’‚๐’๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’Š๐’๐’Š ๐’…๐’Š๐’…๐’†๐’“๐’Š๐’•๐’‚ ๐‘ณ๐’Š๐’›๐’‚๐’ƒ๐’†๐’•๐’‚.

๐‘ฒ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’– ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’†๐’ƒ๐’Š๐’‰ ๐’ƒ๐’‚๐’๐’š๐’‚๐’Œ ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’‘๐’†๐’“๐’•๐’Š ๐’Š๐’•๐’– ๐’Œ๐’‚๐’“๐’†๐’๐’‚ ๐’”๐’‚๐’‚๐’• ๐’Š๐’๐’Š ๐’‰๐’‚๐’Ž๐’‘๐’Š๐’“ ๐’‰๐’‚๐’ƒ๐’Š๐’”.

๐‘บ๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š, ๐’•๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰. ๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’Ž๐’†๐’๐’„๐’Š๐’๐’•๐’‚๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’…๐’๐’‚ ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’“ ๐’”๐’‚๐’•๐’– ๐’”๐’‚๐’‚๐’• ๐’๐’‚๐’๐’•๐’Š ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’†๐’Ž๐’– ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š."


Surat itu dibaca ulang kembali oleh keluarga di perantauan sambil mengingat-ingat obat apakah yang dimasukkan kedalam paket? Rasanya saat itu mereka tidak memasukkan obat-obatan dalam paket yang dikirimkan.

Maka dibalaslah surat tersebut sambil menanyakan obat yang mana yang minta dikirim lagi.setelah menunggu dua bulan, datanglah surat balasan 

"๐‘บ๐’†๐’‘๐’–๐’‘๐’–๐’Œ๐’– ๐’•๐’†๐’“๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰," Paman Lazlo memulai, "๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’• ๐’ƒ๐’†๐’“๐’”๐’š๐’–๐’Œ๐’–๐’“ ๐’Ž๐’†๐’๐’…๐’‚๐’‘๐’‚๐’• ๐’Œ๐’‚๐’ƒ๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š. ๐‘บ๐’†๐’‹๐’‚๐’Œ ๐’•๐’Š๐’ˆ๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’Œ๐’†๐’• ๐’‘๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’Ž๐’‚, ๐’…๐’–๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’Œ๐’†๐’• ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’•๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚, ๐’…๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’Ž๐’–๐’…๐’Š๐’‚๐’ ๐’•๐’Š๐’ƒ๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’”๐’–๐’“๐’‚๐’•๐’Ž๐’–. ๐‘บ๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š, ๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’–๐’‚๐’“ ๐’ƒ๐’Š๐’‚๐’”๐’‚. ๐‘ป๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’…๐’‚ ๐’‘๐’†๐’•๐’–๐’๐’‹๐’–๐’Œ ๐’‘๐’†๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’–๐’๐’‚๐’‚๐’ ๐’Œ๐’‰๐’–๐’”๐’–๐’” ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’๐’ƒ๐’‚๐’•-๐’๐’ƒ๐’‚๐’•๐’‚๐’ ๐’•๐’†๐’“๐’”๐’†๐’ƒ๐’–๐’•, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’‰๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’ˆ๐’Š๐’“๐’‚-๐’Š๐’“๐’‚ ๐’”๐’‚๐’‹๐’‚ ๐’…๐’๐’”๐’Š๐’”๐’๐’š๐’‚. ๐‘ซ๐’‚๐’ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’‹๐’†๐’Ž๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’‚๐’”๐’‚ ๐‘ฐ๐’๐’ˆ๐’ˆ๐’“๐’Š๐’” ๐’Œ๐’† ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’‚๐’”๐’‚ ๐‘ฏ๐’–๐’๐’ˆ๐’‚๐’“๐’Š๐’‚ ๐’”๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’•๐’๐’‚๐’‰ ๐’”๐’–๐’๐’Š๐’• ๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’“๐’†๐’๐’‚ ๐’‰๐’‚๐’๐’š๐’‚ ๐‘บ๐’‚๐’๐’…๐’๐’“ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’†๐’๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’‘๐’†๐’๐’‚๐’‹๐’‚๐’“๐’Š๐’๐’š๐’‚ ๐’…๐’Š ๐’”๐’†๐’Œ๐’๐’๐’‚๐’‰. ๐‘ฒ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’ƒ๐’†๐’“๐’–๐’๐’•๐’–๐’๐’ˆ ๐’”๐’†๐’ƒ๐’‚๐’ƒ ๐’…๐’Š๐’‚ ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’‹๐’†๐’Ž๐’‚๐’‰๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’Ž๐’‚ ๐’๐’ƒ๐’‚๐’• ๐’•๐’†๐’“๐’”๐’†๐’ƒ๐’–๐’•. ๐‘ถ๐’ƒ๐’‚๐’• ๐’Š๐’•๐’– ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ '๐‘ณ๐’Š๐’‡๐’† ๐‘บ๐’‚๐’—๐’†๐’“๐’”'. ๐‘จ๐’Œ๐’– ๐’Ž๐’๐’‰๐’๐’ ๐’Œ๐’Š๐’“๐’Š๐’Ž๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’๐’ƒ๐’‚๐’• ๐’Š๐’•๐’– ๐’”๐’†๐’„๐’†๐’‘๐’‚๐’• ๐’Ž๐’–๐’๐’ˆ๐’Œ๐’Š๐’. ๐‘บ๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’Œ๐’‚๐’”๐’Š๐’‰, ๐‘ณ๐’‚๐’›๐’๐’."


Beberapa saat kemudian keluarga imigran itu memenuhi paket dengan gulungan permen Amerika yang terkenal itu, Life Savers. Rupanya terjemahan harfiahnya telah mengubah permen favorit Amerika itu menjadi sumber harapan yang besar...[]


“๐™บ๐šŠ๐š–๐šž ๐š™๐šž๐š—๐šข๐šŠ ๐š”๐šž๐šŠ๐šœ๐šŠ ๐šŠ๐š๐šŠ๐šœ ๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š—๐š–๐šž—๐š‹๐šž๐š”๐šŠ๐š— ๐šŠ๐š๐šŠ๐šœ ๐š™๐šŽ๐š›๐š’๐šœ๐š๐š’๐š ๐šŠ-๐š™๐šŽ๐š›๐š’๐šœ๐š๐š’๐š ๐šŠ ๐š๐š’ ๐š•๐šž๐šŠ๐š› ๐šœ๐šŠ๐š—๐šŠ. ๐š‚๐šŠ๐š๐šŠ๐š›๐š’๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š’๐š—๐š’, ๐š๐šŠ๐š— ๐š”๐šŠ๐š–๐šž ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐šŽ๐š–๐šž๐š”๐šŠ๐š— ๐š”๐šŽ๐š”๐šž๐šŠ๐š๐šŠ๐š—.”

(Marcus Aurelius)


Dari buku

 "A 4th Course of Chicken Soup for the Soul" 70 Kisah untuk Membuka Hati dan Mengobarkan Semangat Kembali




BELAJAR DARI AIR

"๐‘พ๐’‚๐’Œ๐’•๐’– ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’”๐’–๐’๐’Š๐’• ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’‚๐’‰ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’๐’‚๐’Ž๐’‚, ๐’•๐’†๐’•๐’‚๐’‘๐’Š ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’–๐’‚๐’• ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’๐’‚๐’๐’– ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’‚๐’‰๐’‚๐’,"

(Robert Schuller)


Seorang pemuda datang menemui Guru Zen Yuantong untuk menyampaikan keluhannya. Pemuda itu merasa kurang berhasil dalam karier meskipun pendidikannya cukup tinggi.


Usai mendengar keluhan pemuda itu pemuda itu, Guru Zen mengambil air dari tempayan dengan gayung. Saat memegang gayung berisi air, ia bertanya kepada pemuda tersebut, "Apa bentuk air ini?"

"Air mana ada bentuknya?" sahut pemuda itu.

Tanpa menjawab, Guru Zen menuangkan air ke dalam gelas dan vas bunga. Air juga dituangkan ke dalam ember berisi pasir. Dengan cepat air terserap bercampur pasir dan tak tampak lagi bentuknya. Kemudian, sambil memegang pasir basah itu, Guru Zen pun berkata, "Lihatlah, air ini hilang begitu saja. Ini juga sebuah kehidupan."


Pemuda itu mencoba menangkap apa yang ingin diungkapkan sang guru. Dari peragaan tersebut ia mulai dapat menangkap maknanya. "Saya mengerti. Guru sedang mengajari saya bahwa manusia harus bersikap seperti air yang dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan tempat ia berada. Air juga bisa hilang lenyap begitu saja, artinya manusia bisa datang dan pergi begitu cepat dan tak seorang pun yang dapat mengubahnya," kata si pemuda panjang lebar mencoba menguraikan makna peragaan air itu.

Kemudian Guru Zen berdiri dan berjalan menuju halaman depan vihara. Pemuda itu mengikutinya, masih dengan penuh tanda tanya di kepala. Lalu Guru Zen membungkuk dan menyentuh salah satu batu yang juga berfungsi sebagai anak tangga. Pemuda itu melihat ada lekukan di atas batu tersebut. "Apabila hujan turun, air hujan akan mengalir jatuh dari atap ke bawah. Ini adalah hasil dari tetesan air hujan itu," kata Guru Zen.


Pemuda itu memikirkan makna baru atas kondisi batu tersebut. "Itu artinya manusia harus menyesuaikan dengan keadaan. Tetapi, sifat air yang lembut justru mampu membentuk batu yang begitu keras, bahkan dapat menghancurkannya," kata pemuda itu beranalisis. "Benar sekali. Tetesan air akan membuat lubang di batu itu suatu hari nanti," kata sang guru mengakhiri


                       -o0o-


Untuk menjadi manusia yang kuat dan sukses. Sebelumnya kita harus selalu menyadari bahwa proses menuju kesuksesan di bidang tertentu sering kali penuh tantangan. Langkah yang paling jitu supaya lebih kuat menghadapi tantangan untuk sampai ke tujuan adalah bersikap fleksibel seperti air. 

Oleh sebab itu, pelajarilah kesabaran agar kita mampu bersikap lembut. Kelembutan tak jarang mampu menaklukkan tantangan yang paling dahsyat sekalipun, sebagaimana air dengan sifatnya yang lembut ternyata juga mampu melubangi batu atau bahkan batu karang sekalipun.[]


"๐Œ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ง๐๐š๐ข ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ง๐š๐ซ-๐›๐ž๐ง๐š๐ซ ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ซ๐ญ๐ข ๐š๐ค๐š๐ง ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ ๐๐ข ๐ฆ๐š๐ง๐š ๐ข๐š ๐๐ข๐ญ๐ž๐ฆ๐ฉ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง."

(Hellen Keller)


Dari buku "Unleash Your Inner Power with Zen"




Senin, 08 September 2025

TIDAK PERLU NAMA


"๐‘ช๐’‚๐’“๐’‚ ๐’•๐’†๐’“๐’ƒ๐’‚๐’Š๐’Œ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’Ž๐’–๐’Œ๐’‚๐’ ๐’…๐’Š๐’“๐’Š ๐‘จ๐’๐’…๐’‚ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’…๐’†๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’Œ๐’†๐’‰๐’Š๐’๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’…๐’Š๐’“๐’Š ๐‘จ๐’๐’…๐’‚ ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’Ž๐’†๐’๐’‚๐’š๐’‚๐’๐’Š ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’‚๐’Š๐’."

(Mahatma Gandhi)


"Waalaikumsalam" kata ibunya membukakan pintu.

Sambil masuk, Fitri melemparkan tasnya, melepas sepatu dengan kesal.

"Ada apa sayang?"

"Masa Bun, acara pasca UTS yang  kuusulkan berlangsung meriah, tapi gak ada yang kasih selamat seorangpun...!" dengan gemas Fitri melemparkan kaos kakinya.

"Minum dulu" kata ibunya 

Kembali keruang tamu sambil membawa es sirup, Fitri duduk.

"Dengar Sayang, Bunda punya cerita" kata ibunya.

Ada seekor katak sedang berada di tepi telaga. Karena selama ini yang diketahuinya adalah yang ada disekelilingnya, ia ingin melihat dunia yang lebih luas dengan menyeberangi telaga. Saat melihat ada dua ekor bangau didekatnya, katak itu menyampaikan keinginannya.

"Kami dengan senang hati akan membantu, tapi bagaimana caranya?" kata seekor bangau

"Begini saja" usul katak "kalian gigit pada kedua ujung dahan dengan paruhmu, sementara aku menggigit pada bagian tengahnya"

Tak lama kemudian katak ikut terbang dengan kedua bangau tersebut. Seorang petani melihat pemandangan itu dari bawah dan berkata kepada temannya "Pintar sekali bangau itu"

Katak yang mendengar ucapan petani itu kesal dan berkata "Bukan mereka yang punya ide itu, tapi aku!" Dan... jatuhlah katak itu gara-gara membuka mulutnya.


Fitri tersenyum 

"Jadi, Sayang" kata ibunya, "Untuk hal-hal tertentu, lebih baik tidak mendapat nama atas prestasi yang kita peroleh. Ketenaran itu menyenangkan, namun dapat menjadi dosa dalam arti harfiah dan kiasan, dan dapat menjadi bumerang. Sebagian ketenaran kita mungkin lebih baik lepas tangan, kecuali kita kesulitan mengelakkannya"[]


"๐’๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐ก๐ž๐›๐š๐ญ, ๐ค๐š๐ซ๐ž๐ง๐š ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐›๐ข๐ฌ๐š ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ฒ๐š๐ง๐ข."

(Martin Luther King Jr)

Dari buku "Just For You"












PERSAHABATAN 24 KARAT

 Olimpiade Berlin 1936

Sempat melakukan pelanggaran dalam dua usaha awal, Jesse Owens kemudian mendapatkan saran dari pelompat jauh asal Jerman, Luz Long.

"Anda dapat melakukan dengan mudah,bahkan dengan mata tertutup" kata Luz Long "Ambil saja tumpuannya lebih ke depan untuk mencari aman" lanjutnya.

Mengikuti saran Atlet jangkung berkulit putih bermata biru ,Owens-atlet Amerika berkulit hitam-akhirnya memperoleh medali emas.

Kembali  dia meraih medali emas pada lari 200 meter dan puncaknya adalah memimpin tim Amerika serikat pada lari 4x100 meter.

Adalah Luz Long yg memberi ucapan selamat pada Jesse Owens dihadapan rakyat Jerman dengan Pemimpinnya yg saat itu sedang mengkampanyekan Kehebatan bangsa Arya.


Rangkulan persahabatan dua orang itu membawa akibat pada Long.Dia dikirim ke garis depan pada Perang Dunia ll.

Namun persahabatan mereka tetap terjalin melalui surat sampai akhirnya diketahui Luz Long tewas karena luka parah disebuah pertempuran.


Dalam sebuah kenangannya ,Owens mengatakan :

“Butuh keberanian dari dirinya untuk berteman dengan saya di hadapan Hitler. Anda bisa meleburkan semua medali dan trofi yang saya punya, namun mereka takkan bisa membuat persahabatan berpelat emas 24 karat yang saya rasakan pada Luz Long di momen itu,” 


Dari buku

"Everyday Greatness"


Keterangan foto: Luz Long memberikan tips lompatan kepada Jesse Owens




Selasa, 26 Agustus 2025

"DUO PIANIST EBONY AND IVORY"

"๐š‚๐šŽ๐š๐š’๐šŠ๐š™ ๐š˜๐š›๐šŠ๐š—๐š ๐šŠ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š–๐šŠ๐š•๐šŠ๐š’๐š”๐šŠ๐š ๐šข๐šŠ๐š—๐š ๐š‘๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐š–๐šŽ๐š–๐š’๐š•๐š’๐š”๐š’ ๐šœ๐šŠ๐š๐šž ๐šœ๐šŠ๐šข๐šŠ๐š™. ๐™ณ๐šŠ๐š— ๐š”๐š’๐š๐šŠ ๐š‘๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐š‹๐š’๐šœ๐šŠ ๐š๐šŽ๐š›๐š‹๐šŠ๐š—๐š ๐š๐šŽ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐šœ๐šŠ-๐š•๐š’๐š—๐š ๐š–๐šŽ๐š–๐šŽ๐š•๐šž๐š”"

(Luciano De Creschenzo)



Panti "๐‘บ๐’๐’–๐’•๐’‰๐’†๐’‚๐’”๐’• ๐‘บ๐’†๐’๐’Š๐’๐’“ ๐‘ช๐’†๐’๐’•๐’†๐’“ ๐’‡๐’๐’“ ๐‘ฐ๐’๐’…๐’†๐’‘๐’†๐’๐’…๐’†๐’๐’• ๐‘ณ๐’Š๐’—๐’Š๐’๐’ˆ" musim semi tahun 1983, 

Margaret Patrick yang tangan kanannya mengalami kelumpuhan tiba untuk memulai terapi fisik.

Millie McHugh, seorang staf lama lalu memperkenalkannya kepada orang-orang di pusat rehabilitasi tersebut. 

Saat melintas ruangan, pandangan Margaret terkesiap melihat sebuah piano.

Millie yang sepintas melihat bertanya, "Ya?" 

"Oh, tidak," jawab Margaret lirih. "Melihat piano ini membangkitkan kenangan masa laluku. Dulu, musik adalah segalanya bagiku." 

Millie melihat tangan kanan wanita kulit hitam yang hanya tergantung lemas.Dengan lirih Margaret menceritakan tentang karier musiknya sebelum stroke menyerang.

"Tunggu disini sebentar" tiba-tiba Millie berkata, "Aku akan segera kembali." Tak lama ia kembali bersama seorang wanita kulit putih kecil dengan rambut yang sudah beruban yang memakai kacamata tebal. Wanita tersebut mengunakan alat bantu untuk berjalan.

"Kenalkan ini Ruth Eisenberg." kata Millie. Lalu dia tersenyum. "Dia dulu juga bermain piano, tetapi seperti halnya Anda, dia tidak lagi bisa bermain sejak menderita stroke. Nyonya Eisenberg memilik tangan kanan yang bagus, dan saya mempunyai perasaan bahwa pasangan tangan Anda yang masih berfungsi bisa melakukan sesuatu yang luar biasa."

"Anda tahu Waltz Chopin dalam D flat?" tanya Ruth Margaret mengangguk.

Margaret mengangguk.

Keduanya duduk berdampingan di kursi piano. Dua tangan yang sehat-satu dengan jari-jari hitam, panjang, dan lemah-gemulai, satunya lagi dengan jari-jari putih gemuk pendek-bergerak secara ritmis dan harmonis layaknya sepasang tangan dari satu orang. Sejak hari itu, mereka duduk berdampingan di depan keyboard piano ratusan kali-tangan kanan Margaret yang tak berdaya di punggung Ruth, dan tangan kiri Ruth yang tak berdaya di lutut Margaret, sementara tangan Ruth yang sehat memainkan melodi dan tangan Margaret yang sehat memainkan musik pengiringnya.


Musik yang mereka mainkan telah menghibur para penonton televisi, di sekolah dan di gereja, dan juga di pusat rehabilitasi dan warga negara yang telah lanjut usia. Dan di kursi piano itulah mulai Mozart, Chopin dan Bach serta Beethoven terdengar lebih dari sekadar musik.

Sebab di sanalah mereka tahu bahwa mereka memiliki lebih banyak persamaan dibanding yang mereka bayangkan sebelumnya. 

dari mereka tidak bisa memberi tanpa yang lain.

Duduk berdampingan di kursi piano itu, Ruth mendengar Margaret mengatakan, "Musikku telah direnggut, tetapi Tuhan memberikan Margaret kepadaku." Dan jelas bahwa sebagian iman Margaret telah merasuk dalam diri Ruth saat mereka duduk berdampingan selama lima tahun terakhir ini, karena Ruth sekarang mengatakan, "Keajaiban Tuhanlah yang mempertemukan kami."[]


 "๐‘ช๐’Š๐’๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’‚๐’Ž๐’‘๐’– ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’“๐’Š๐’Ž๐’‚ ๐’Œ๐’†๐’Œ๐’–๐’“๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’„๐’Š๐’๐’•๐’‚ ๐’‚๐’…๐’‚ ๐’–๐’๐’•๐’–๐’Œ ๐’”๐’‚๐’๐’Š๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’†๐’๐’†๐’๐’ˆ๐’Œ๐’‚๐’‘๐’Š ๐’Œ๐’†๐’Œ๐’–๐’“๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’."


Dari buku

"A 4th Course of Chicken Soup for The Soul" 70 Kisah untuk Membuka Hati dan Mengobarkan Semangat Kembali.



MEMBERI CONTOH

 "๐‚๐จ๐ง๐ญ๐จ๐ก ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ค๐ž๐ฉ๐ž๐ฆ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐š๐ง."

(Albert Schweitzer)


Tahun 1888 Mahatma Gandhi sampai di London untuk belajar hukum di University College. 

Gandhi tinggal di sebuah kamar yang sempit pada rumah seorang janda Anglo- India di West Kensington.

Suatu saat, Ibu semangnya mendatangi Gandhi dan berkata, "Tuan Gandhi, putra saya ini tidak mau mendengarkan saya, namun entah bagaimana dia mau mendengarkan nasihat Anda. Dia ini terlalu banyak makan gula, bisakah Anda menasihatinya agar tidak makan gula terlalu banyak?"

Gandhi menjawab "Tentu, Bu, saya akan menasihatinya."

Hari berlalu dan menjadi minggu, anak tersebut masih makan gula sebanyak sebelumnya. Maka ibu semang menemui Gandhi lagi dan berkata, "Tuan Gandhi, apa Anda ingat apa yang saya katakan beberapa minggu lalu mengenai kebiasaan putra saya makan gula? Anda bilang Anda akan menasihatinya, tapi kenapa belum?"

Gandhi menjawab, "Saya sudah menasihati putra Ibu agar tidak makan banyak gula, tapi baru pagi ini." 

"Mengapa baru sekarang Anda menasihatinya?" Ibu itu penasaran. "Karena, baru kemarin saya berhenti makan gula," jawab Gandhi.


Bagaimana bisa mengajari anak-anak jika Anda minta mereka melakukan sesuatu yang Anda sendiri tidak lakukan?[]


"๐‘ป๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’Ž๐’‚๐’”๐’–๐’Œ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’‚๐’‰๐’˜๐’‚ ๐’”๐’†๐’”๐’†๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‰๐’‚๐’“๐’–๐’” ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’†๐’“๐’Š๐’๐’•๐’‚๐’‰ ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’๐’‚๐’Š๐’, ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’Š๐’…๐’‚๐’Œ ๐’ƒ๐’Š๐’”๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’†๐’“๐’Š๐’๐’•๐’‚๐’‰ ๐’…๐’Š๐’“๐’Š๐’๐’š๐’‚ ๐’”๐’†๐’๐’…๐’Š๐’“๐’Š."

(Pepatah Latin)


Dari buku "Mahatma Gandhi" Sebuah Autobiografi



ETOS KERJA PENJUAL PECEL

 "๐‘ฑ๐’Š๐’Œ๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’๐’„๐’‚๐’“๐’Š ๐’๐’‚๐’‡๐’Œ๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’†๐’“๐’–๐’‘๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’Š๐’ƒ๐’‚๐’…๐’‚๐’‰, ๐’”๐’†๐’Ž๐’‚๐’Œ๐’Š๐’ ๐’Œ๐’†๐’“๐’‹๐’‚ ๐’Œ๐’†๐’“๐’‚๐’” ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚, ๐’Š๐’๐’”๐’š๐’‚ ๐‘จ๐’๐’๐’‚๐’‰ ๐’”๐’†๐’Ž๐’‚๐’Œ๐’Š๐’ ๐’ƒ๐’†๐’”๐’‚๐’“ ๐’‘๐’‚๐’‰๐’‚๐’๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’…๐’Š๐’ƒ๐’†๐’“๐’Š๐’Œ๐’‚๐’ ๐’๐’๐’†๐’‰ ๐‘จ๐’๐’๐’‚๐’‰."

(Syekh Imam Nawawi al- Bantani)


Mak Paerah, 

Demikian wanita sepuh itu biasa dipanggil. Ia biasa berjualan pecel di depan gedung DPRD Sumatera Utara, Medan.

Kalau ditanyakan umur, dia akan katakan 86 tahun, padahal dari penampilannya sepertinya itu terlalu muda. Namun ia tetap gesit melayani para pembelinya.

Setiap hari, biasanya sekitar pukul 11.00, Mak Paenah sudah tiba di depan gedung DPRD dari  rumah cucunya di Glugur yang berjarak sekitar lima kilometer dan menggelar dagangannya.

Mengenai banyaknya uang hasil dagangnya dalam tas pinggangnya itu, Mak Paenah sering tidak mengetahuinya. Ia memang tidak peduli dengan pendapatannya setiap hari. Tidak jarang ada beberapa lembar ribuan tercecer di bawah kakinya, yang akhirnya diambilkan oleh orang lain. Baginya, yang penting, ia tidaklah merugi. Ia berucap, "๐‘ฉ๐’‚๐’•๐’‰๐’Š ๐’Œ๐’–๐’˜๐’Š ๐’๐’“๐’‚ ๐’”๐’‚๐’‰ ๐’๐’Œ๐’†๐’‰-๐’๐’Œ๐’†๐’‰. ๐‘ฒ๐’†๐’Ž๐’‚๐’“๐’–๐’Œ ๐’‹๐’†๐’๐’†๐’๐’ˆ๐’†" (Mengambil untung itu jangan besar-besar. Serakah namanya). Sikap inilah yang membuat Mak Paenah cenderung royal dan para pembeli sering belanja menjelang dagangnya mau habis, karena ia pasti memberikan porsi pecel yang lebih banyak. Karena keyakinan akan dagangannya yang tidak rugi itu pula, sering kali Mak Paenah membelikan rokok untuk orang lain yang tampak memerlukannya. Misalnya, Andi Lubis, fotografer harian "Analisa", Medan, yang perokok berat, beberapa kali diberi rokok oleh Mak Paenah kalau tampak sedang bengong dan tidak merokok. Ia berkata kepada Andi Lubis, "๐‘ต๐’š๐’๐’‰ ๐’“๐’๐’Œ๐’๐’Œ. ๐‘ฒ๐’๐’˜๐’† ๐’๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’“๐’‚ ๐’…๐’–๐’˜๐’† ๐’…๐’–๐’˜๐’Š๐’• ๐’•๐’?" (Nih rokok. Kamu sedang tidak punya uang kan?).

Bagi Mak Paenah, apa salahnya menyisihkan uang untuk menyenangkan orang lain? Tidak jarang ia memberikan pecelnya secara gratis kalau ada yang lapar, tetapi tak punya uang.


Jadi, untuk apa Mak Paenah berjualan pecel dalam usianya yang sudah sangat senja itu?

"Aku bekerja karena memang manusia itu harus bekerja. Aku sakit kalau nganggur. Menganggur adalah bersahabat dengan setan. Kerja selalu ada kalau kita mau mencarinya. Jangan mau menganggur sampai kita mati."

Saat ada orang yang bertanya, "Setelah anak-anak Mak Paenah bisa hidup mandiri, uang hasil penjualan pecel digunakan untuk apa?", maka ia akan menjawab, "Keuntungan penjualan kusimpan di bawah bantal setiap hari. Uang itu kugunakan untuk menolong orang lain bila ada yang membutuhkannya. Siapa tahu, kan?" Inilah jawabannya yang sangat arif.


Mak Paenah menceritakan bahwa ia pernah menolong tetangganya yang mendadak membutuhkan uang. Tetangganya itu tidak menyangka ketika tiba-tiba Mak Paenah yang hanya berjualan pecel mampu meminjaminya uang dalam jumlah cukup besar tanpa bunga.


Setiap pagi, Mak Paenah mengambil Rp150.000,00 dari simpanannya untuk berbelanja di Pasar Glugur. Pada pukul 04.00, ia sudah bangun. Lalu, pada pukul 06.00, ia sudah mulai memasak bumbu-bumbu pecel dan sayuran. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bangun pagi membuatku sehat. Tiap hari berbelanja dan menawar juga tidak membuatku pikun."


Pada bulan Juni dan Juli 2002, para wartawan Medan yang biasa mangkal di depan Gedung DPRD kehilangan Mak Paenah. Selama dua bulan lebih, wanita tua itu menghilang. Banyak orang yang mengkhawatirkan kondisi Mak Paenah. Ada yang beranggapan bahwa Mak Paenah menderita sakit, atau bahkan sudah meninggal dunia.


Akhirnya, Mak Paenah baru muncul pada akhir Juli. Ternyata, Mak Paenah pulang ke kampungnya di Blitar untuk menengok sanak saudaranya.

Menurutnya, semua yang dikenalnya di sana sudah meninggal dunia. Ia bercerita kepada para pelanggannya, "Uangku Rp3.500.000,00 kugunakan untuk membeli oleh-oleh. Tetapi, aku senang bisa melihat Blitar lagi. Aku sama sekali tidak bisa mengenali tempat mana pun di sana." Matanya berbinar-binar saat membicarakan kota yang ditinggalkannya pada awal tahun 1940-an.


Ketika beberapa orang memberitahukan bahwa mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Mak Paenah selama tidak berjualan di depan gedung DPRD, Mak Paenah justru marah. Ia berkata, "Kalian kan masih muda, tapi kok tidak punya perasaan. Kalian tahu rumahku kan? Kalau khawatir terhadap kondisiku, kenapa kalian tidak menengokku di rumahku? Gimana jika aku benar-benar sakit? Iya, kan?"


Namun, sejak awal Agustus ini, Mak Paenah menghilang kembali. Setelah ditengok ke rumahnya, ternyata ia tidak kurang suatu apa. Ia berucap, "Aku pindah tempat jualan. Aku mengalah demi orang yang lebih muda dariku dan lebih memerlukan uang." Perkataannya itulah yang menimbulkan tanda tanya. Ternyata, Mak Paenah kini memilih berjualan di Lapangan Merdeka.


Menurutnya, di depan Gedung DPRD itu sudah muncul seorang saingan penjual nasi pecel. Penjual pecel itu masih muda dan selalu terlihat berusaha menyaingi Mak Paenah dalam merebut hati pembeli. Mengenai hal ini, Mak Paenah berkata tanpa emosi, "Aku tidak ingin bersaing dengan orang lain. Bagiku, jatah rezeki sudah ada yang mengatur. Biarlah aku yang sudah tua ini pindah tempat jualan."[]


"๐™ฑ๐šŽ๐š”๐šŽ๐š›๐š“๐šŠ ๐š’๐š๐šž ๐š‹๐šž๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐šŒ๐šŠ๐š›๐š’ ๐š—๐šŠ๐š๐š”๐šŠ๐š‘ ๐š—๐šŠ๐š–๐šž๐š— ๐šŽ๐š”๐šœ๐š™๐š›๐šŽ๐šœ๐š’ ๐š๐š’๐š›๐š’."

(Jakob Oetama)


Dari buku "Ibu yang Hebat" Kisah-kisah Inspirasional tentang Keajaiban dan Kehebatan Para Ibu



KEGAGALAN ADALAH SEBUAH PINTU

 "๐˜’๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ-๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ."

(Henry Ford)


Seorang pemuda sedang berputus asa karena beberapa kegagalan yang dialaminya. Kemudian dia mendatangi seorang tua yang bijak.

Orang tua itu lalu mengajak pemuda itu berjalan.

Akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah yang terbuat dari kaca. Rumah itu tampak besar dan bening berisikan bunga dalam pot.

Orang tua itu lalu berkata, "Anak muda, masuklah kedalam rumah itu melalui pintu kaca itu dan ambillah sebuah pot bunga yang terlihat dari pintu kaca ini dan bawalah kemari"

Dalam hati pemuda itu heran. "Mudah sekali, tinggal buka pintunya kemudian pot bunga diambil, selesai" katanya dalam hati.

Maka, melangkahlah pemuda itu menuju pintu dan membukanya. Ternyata apa yang dilihat dari luar sungguh berbeda dengan yang dibayangkan. Ia menemukan pintu kaca kembali didalamnya. "Pasti ada di ruangan ini" ucapnya. Ternyata salah. Didalamnya terdapat pintu kaca lagi. Demikian terjadi berulang- ulang sampai akhirnya dia dapatkan pot bunga yang diminta orang tua tadi dan menyerahkan kepada orang tua yang telah menunggunya.

"Lama sekali kau mengambilnya, Anak muda!" kata orang tua itu.

"Ya Kek, saya melihatnya dengan jelas pot bunga yang berada dalam rumah itu, tapi apa yang saya pikirkan ternyata salah. Ada banyak pintu yang harus dibuka untuk mengambilnya"

"Begitu juga dengan kesuksesan, Anak muda" 

Kemudian orang tua itu melanjutkan "Pintu-pintu kaca yang kamu buka tadi adalah kegagalan yang kamu alami. Karena kamu berkemauan dan berkeyakinan kuat, sehingga meskipun kamu lelah, kamu masih bertenaga untuk membuka dan membuka sampai akhirnya berhasil meraih pot bunga itu. Apakah kamu sadar, semakin banyak pintu kegagalan kamu buka, jumlah kegagalan yang menghadangmu semakin sedikit dan kesuksesan tinggal selangkah lagi."[]


๐Š๐ž๐ฌ๐ฎ๐ค๐ฌ๐ž๐ฌ๐š๐ง ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐š๐ก ๐ฉ๐ซ๐จ๐ฌ๐ž๐ฌ. ๐Š๐ž๐ฌ๐ฎ๐ค๐ฌ๐ž๐ฌ๐š๐ง ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐๐š๐ฉ๐š๐ญ ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฉ๐š๐ค๐ฌ๐š ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐š๐ญ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐ ๐ž๐ซ๐š. ๐Œ๐ข๐ฅ๐ข๐ค๐ข ๐ค๐ž๐ฒ๐š๐ค๐ข๐ง๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ค๐ฎ๐š๐ญ ๐ฌ๐ž๐›๐ž๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ซ๐š๐ข๐ก ๐ค๐ž๐ฌ๐ฎ๐ค๐ฌ๐ž๐ฌ๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ


Dari buku

I BELIEVE I CAN FLY






Selasa, 20 Mei 2025

Edisi Hari Buku Nasional AYAH, AKU, DAN BUKU

Saat sudah bisa membaca, saya mendapat rak khusus berisi buku kanak-kanak dari Ayah.  Beliau tidak mau jika buku-buku saya tercecer. Oleh karena itu Ayah menyimpannya dalam rak khusus.

Sebagian terbesar buku anak-anak itu diterbitkan oleh Balai Pustaka dan tersimpan sampai sekarang. Ada buku pelajaran, buku bacaan, maupun alat-alat tulis dan gambar.

Salah satu jenis buku bacaan favorit saya adalah komik Mahabharata karya R.A. Kosasih, dan bacaan serial Winnetou yang mengisahkan tentang kehidupan Winnetou, seorang pemuda Indian Amerika.(Kelak, berkat buku RA Kosasih ini saya mendapat nilai tertinggi saat ujian kuliah mengenai wayang dan falsafah serta karakternya).

Dalam memperlakukan buku ayah membuat aturan yang cukup ketat, yaitu membaca dengan rapi, duduk manis didepan meja, tangan dilipat. Tidak boleh mencoret-coret buku serta melipat ujung halaman untuk menandai halaman yang sudah dibaca.

Itulah yang membuabuku-buku saya sampai sekarang masih selalu kelihatan seperti baru.

Ayah mulai mengoleksi buku sejak bersekolah di Prins Hendrischool Batavia pada usia 16 tahun.

Saat bersekolah di Belanda, koleksi buku ayah yang terbanyak diantara mahasiswa Indonesia. Menjelang kepulangannya  ke tanah air setelah 11 tahun, bukunya mencapai 14 peti berbentuk kubus berukuran 1x1x1 m. 

Koleksi buku Ayah meliputi berbagai subjek: ilmu ekonomi, hukum, tata negara, administrasi negara, filsafat, agama, politik, sejarah, sosiologi, antropologi (yang dahulu disebut etnologi), dan kesusasteraan. Ayah juga mempunyai buku dengan koleksi terbatas, mungkin hadiah dari teman-temannya yang mengetahui hadiah yang tepat untuk bung Hatta adalah buku.

Tahun 1968, saya mendampingi ayah yang memberikan ceramah kepada mahasiswa di Honolulu. Pada hari Sabtu yang merupakan hari istirahat akhir pekan, Ayah dan saya sering berjalan ke toko buku yang tak jauh dari apartemen. Kami berdua ke sana dengan berjalan kaki. Menyenangkan sekali kalau mengingat lagi pengalaman itu. Daerah sekitar kampus lebih sepi pada akhir pekan, dan berjalan kaki terasa lebih nyaman.

Di toko buku yang terletak dekat kampus itu, buku-buku yang digunakan dalam kuliah relatif lengkap, dan ini tentu sangat menarik bagi saya sebagai mahasiswa. Kami melihat-lihat buku sesuai dengan minat kami masing-masing. Selesai membayar, kami keluar menuju apartemen.

Begitu asyiknya kami belanja buku sampai akhirnya saat akan kembali ke apartemen, buku-buku itu tidak bisa terbawa karena banyaknya. Terpaksa kami panggil taksi untuk mengantar pulang.

Kami sangat menyayangkan saat mengetahui keluarga Moh.Yamin menjual koleksi perpustakaan pribadinya ke Pertamina karena merasa keluarganya tidak lagi memerlukannya.

Ayah.

Suatu hari, saya dipanggil Ayah ke ruang kerjanya. Perintah Ayah mengherankan saya, "Meutia, pilihlah buku-buku yang berguna bagi studi Meutia."

Saya bertanya, "Buat apa, Yah?"

"Buat Meutia sendiri karena kalau Ayah meninggal nanti, mungkin kalian mau menjual buku-buku ini untuk biaya hidup Ibu dan kalian. Meutia kan tahu, pensiun Ayah..."

Rupanya peristiwa dijualnya perpustakaan Moh.Yamin menjadi pikiran Ayah, padahal kami tidak akan melakukan hal yang sama terhadap buku-buku beliau.

Ayah tersenyum khas tanpa kata, mungkin beliau terharu mendengar jawaban saya atas permintaan beliau.

"Kalau memang Ayah mau memberikan saya buku, saya minta yang Ayah punya dua saja." Saya memang merencanakan bahwa buku apa pun yang saya terima akan saya anggap sebagai warisan dari Ayah. Khusus atas permintaan saya itu, Ayah memberikan saya buku antik, The History of Java jilid I dan II karangan Thomas Stamford Raffles, terbitan tahun 1817. 

Kira-kira tiga tahun sesudah percakapan dengan Ayah itu, pemerintah menaikkan pensiun Ayah dengan adanya peraturan baru. Saya katakan, "Sekarang betul-betul Ayah tidak perlu lagi memikirkan tentang (pembiayaan) buku Ayah dengan adanya pensiun baru ini." Ayah pun tersenyum gembira.[]

(Dikisahkan oleh Meutia Hatta, Putri pertama bung Hatta)


Sumber 

1.Buku "Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya"

2.https://ellenconny.com/2017/11/09/pahlawan-juga-manusia-bagian-2/






JUST DO IT...

 "๐‘ฉ๐’†๐’“๐’”๐’Š๐’Œ๐’‚๐’‘ ๐’ƒ๐’‚๐’Š๐’Œ๐’๐’‚๐’‰ ๐’Œ๐’‚๐’“๐’†๐’๐’‚ ๐’”๐’†๐’Ž๐’–๐’‚ ๐’๐’“๐’‚๐’๐’ˆ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐‘จ๐’๐’…๐’‚ ๐’•๐’†๐’Ž๐’–๐’Š ๐’”๐’†๐’…๐’‚๐’๐’ˆ ๐’ƒ๐’†๐’“๐’‹๐’–๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’†๐’“๐’‚๐’”."

(Plato)


Stanford University 1892,  

Seorang mahasiswa berusia 18 tahun dan yatim piatu sedang berjuang keras untuk membayar biaya kuliahnya.

Bersama seorang teman, mahasiswa tersebut memutuskan hendak menggelar konser musik di kampus untuk mengumpulkan uang yang akan digunakan sebagai biaya pendidikan mereka. Konser ini mereka adakan dengan mendatangkan pianis besar, Ignacy J. Paderewski.

Sebuah kesepakatan pun dibuat, usai manajer sang pianis meminta biaya sebesar $2.000 untuk konser piano tersebut.

Sayang, harapan tidak sesuai dengan ekspektasi. Menjelang konser digelar, hanya diperoleh uang $ 1.600. Kedua mahasiswa itu lalu menemui Paderewski untuk menyerahkan seluruh uang $ 1.600 ditambah sisanya dalam bentuk cek yang akan dilunasi secepatnya.

"Tidak" kata sang Maestro sambil mengembalikan uang tersebut dan merobek cek yang diberikan.

"Itu uang kalian, gunakan saja untuk biaya kuliah. Saya akan menggelar konser tanpa bayaran dari kalian"

Tentu saja kedua anak muda itu gembira dan konserpun digelar di Stanford University.


Waktu berlalu,

Tahun 1919, Ignacy J Paderewski diangkat menjadi Perdana Menteri Polandia yang kemudian disusul dengan pecahnya Perang dunia pertama. Akibat perang besar itu terjadi bencana kelaparan yang menimpa 1,5 penduduk Polandia. la pun mengulurkan tangan kepada bagian administrasi makanan dan bantuan Amerika Serikat untuk meminta pertolongan. Presiden Amerika Serikat saat itu, Herbert Hoover, setuju untuk membantu. Dengan segera, Herbert Hoover mengirimkan berton-ton bahan makanan untuk rakyat Polandia yang kelaparan. Bencana kelaparanpun dapat dihindari, Paderewski pun lega. Paderewski memutuskan untuk pergi menemui Hoover secara pribadi. Paderewski ingin berterima kasih langsung kepada Hoover.


Ketika Paderewski mengucapkan terima kasih kepada Hoover atas sikap mulianya, Hoover langsung menyela dan berkata, "Anda tidak harus berterima kasih kepada saya, Pak Perdana Menteri. Anda mungkin sudah melupakan, tetapi saya tidak akan pernah dapat melupakan. Beberapa tahun yang lalu, Anda membantu biaya kuliah dua mahasiswa muda di Stanford University, dan saya adalah salah satu dari mereka."


Just do it, lakukan saja...

Kebanyakan dari kita hanya berpikir, jika saya membantu mereka, apa yang akan terjadi pada saya? Kalau seseorang benar-benar baik dan bijak, ia akan berpikir, jika saya tidak membantu mereka, apa yang akan terjadi pada mereka?

Orang-orang yang baik dan bijak tidak akan melakukan kebaikan dengan mengharapkan balasan. Mereka melakukan karena merasa itu adalah hal benar yang harus dilakukan.[]


"๐‹๐š๐ค๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐ฌ๐ฎ๐š๐ญ๐ฎ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฅ๐š๐ข๐ง ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ค๐š๐ซ๐ž๐ง๐š ๐ฌ๐ข๐š๐ฉ๐š ๐ฆ๐ž๐ซ๐ž๐ค๐š ๐š๐ญ๐š๐ฎ ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ซ๐ž๐ค๐š ๐ฅ๐š๐ค๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฌ๐ž๐›๐š๐ ๐š๐ข ๐›๐š๐ฅ๐š๐ฌ๐š๐ง๐ง๐ฒ๐š, ๐ญ๐ž๐ญ๐š๐ฉ๐ข ๐ค๐š๐ซ๐ž๐ง๐š ๐ฌ๐ข๐š๐ฉ๐š ๐€๐ง๐๐š."

(Harold S. Kushner)


Sumber:

1.Buku "Dari Kuntum menjadi Bunga jilid 1" Seri Kumpulan Kisah Inspiratif 

2.https://europebetweeneastandwest.wordpress.com/2021/06/05/rescue-mission-herberta-c-hoovera-an-american-on-behalf-of-poland-rendezvous-with-an-obscure-destiny-30/


Keterangan foto: Presiden AS Herbert Hoover mengenakan jas hitam diapit Perdana Menteri & pianis terkenal Ignacy J Paderewski dan pemimpin militer Jozef Pilsuski di Warsawa





KESEMPATAN

"๐˜’๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ช ...