Minggu, 24 Juli 2022

𝐓𝐔𝐊𝐀𝐍𝐆 𝐍𝐆𝐀𝐌𝐄𝐍 𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐃𝐈𝐑𝐄𝐊𝐓𝐔𝐑


Lahir dari keluarga sangat sederhana dipinggiran kota Cirebon, Subrata mempunyai 3 saudara, satu perempuan dan dua laki-laki.

Sampai lulus SD, Subrata kecil berangkat ke sekolah berjalan kaki sejauh 3km, sehingga ia harus berangkat sebelum ayam berkokok.

Saat SMP, dia harus menempuh jarak lebih jauh lagi ke Cirebon dan harus bersepeda atau naik omprengan. Bahkan tak jarang ia harus numpang menginap dirumah kawannya, karena kemalaman. Hal itu masih dijalani sampai kl 2 SMA.

Karena punya rencana akan kuliah di Yogyakarta, maka Subrata hijrah ke kota itu pada saat kl.2 SMA. Dengan uang yang pas-pasan, usai SMA dia akhirnya mendaftar untuk kuliah di UGM. Orang tuanya hanya bisa memberikan sumbangan semampunya untuk membiayai kuliahnya, selebihnya dia harus mencari sendiri kekurangannya. Untunglah,dia punya jiwa seni saat SD dengan menjadi pemain sandiwara.

Maka, sambil kuliah pun Subrata mencoba mencari uang dengan mengamen di Malioboro, dari rumah kerumah, dari kantor ke kantor dari toko ketoko untuk menyalurkan jiwa seni sekaligus membiayai hidup.

Hidup sederhana itu dijalani Subrata sampai lulus kuliah dari  fakultas ilmu politik, jurusan hubungan internasional UGM dan pulanglah ia kembali ke kampung.

Rencananya ia akan merantau ke Jakarta berbekal dengan ijazah itu. Tapi kekayaan orang tuanya yang hanya buruh tani sudah tak ada lagi. Namun dia tetap berangkat dengan tak ada tempat yang akan dituju.

Sampai di stasiun Gambir, dia kebingungan mesti harus kemana sampai akhirnya menemukan warung di pejambon dekat kantor departemen luar negeri.

Pemilik warung berbaik hati mau menampung sementara ia belum bekerja. Di warung itu, dia bertemu dengan pak Yanto, seorang sopir truk yang mengajak tinggal dirumahnya. Jadilah dia pindah kerumah bilik kecil tanpa nomor itu sambil diam-diam mengirim lamaran kerjanya. Kepada tuan rumah dia tidak mengaku sarjana, hanya bisa baca-tulis saja.

Tak lama kemudian lamaran kerjanya di TVRI mendapat balasan. Namun perlu waktu 9 tahun untuk diterima sebagai pegawai tetap TVRI.

Pada awal bekerja, Subrata menjalani semua pekerjaan mulai dari reporter, menulis berita, juru kamera. Kegigihannya berbuah manis. Ia terpilih 1 dari 27 peserta dari 27 negara yang mengikuti pelatihan di Glasgow, Skotlandia dengan spesialisasi "𝐓𝐞𝐥𝐞𝐯𝐢𝐬𝐢𝐨𝐧 𝐍𝐞𝐰𝐬 𝐏𝐫𝐨𝐝𝐮𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧&𝐛𝐫𝐨𝐚𝐝𝐜𝐚𝐬𝐭 𝐒𝐚𝐭𝐭𝐞𝐥𝐢𝐭𝐞 𝐒𝐲𝐬𝐭𝐞𝐦".

Dan karir Subrata di TVRI makin maju mulai dari kepala subdirektorat pemberitaan TVRI, direktur TVRI, staf departemen penerangan, dirut perum percetakan RI dan jabatan di beberapa lembaga lain.

Tahun 2002, Subrata lulus  S3 jurusan hukum bisnis universitas Padjadjaran dan doktor ilmu hukum di universitas yang sama pada 2005.

Subrata mengikuti nasihat orang tuanya yang mengatakan warisan yang berharga adalah ilmu,bukan harta, sehingga dia tetap mengejarnya meski sudah punya jabatan tinggi...[]


Dari buku

ORANG MISKIN(BOLEH) SUKSES SEKOLAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERAMPOK DAN BOCAH BUTA

 "𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘴𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘤𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬...